26.7 C
Jakarta
Rabu, Juli 1, 2026

Latest Posts

Membongkar Manipulasi Kesadaran dalam Pseudo-Spiritualitas. Ketika “Kesadaran Murni” Dijadikan Alasan untuk Mengabaikan Penderitaan Kemanusiaan

Oleh: Kang Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan

Wartain.com – Belakangan ini, semakin banyak narasi spiritual yang mengajak manusia untuk “melampaui ego”, “melepaskan identitas”, dan “menjadi kesadaran murni”. Sekilas, bahasa-bahasa tersebut terdengar dalam, menenangkan, bahkan tampak selaras dengan pencarian makna hidup. Namun, di balik keindahan diksi itu, tersembunyi persoalan serius yang perlu dikritisi.

Narasi semacam ini sering kali menggeser pusat perhatian manusia dari realitas kehidupan menuju pengalaman batin yang sangat individual. Penderitaan, ketidakadilan, kemiskinan, penjajahan, dan penindasan seolah hanya dianggap sebagai permainan ego atau ilusi pikiran. Akibatnya, manusia diarahkan untuk mengamati, menerima, dan berdamai dengan keadaan, bukan memperjuangkan perubahan.

Di sinilah letak bahaya pseudo-spiritualitas: spiritualitas yang tampak luhur, tetapi dapat membuat manusia kehilangan tanggung jawab sosial dan moral.

Dalam Islam, kesadaran bukanlah sekadar menyadari keberadaan diri, melainkan kesadaran yang lahir dari mengenal Allah (Ma’rifatullah). Kesadaran seperti ini tidak mematikan kepedulian terhadap dunia. Sebaliknya, ia melahirkan amanah sebagai khalifah di bumi dan tanggung jawab untuk menegakkan keadilan.

Al-Qur’an berulang kali memerintahkan manusia untuk membela yang lemah, menolong yang tertindas, berlaku adil, dan mencegah kemungkaran. Kesadaran yang benar tidak berhenti pada keheningan batin, tetapi menjelma menjadi tindakan nyata.

Masalah lain dari narasi “kesadaran murni” adalah kecenderungannya menghapus identitas manusia. Padahal identitas sebagai hamba Allah, khalifah di bumi, anggota masyarakat, anak, orang tua, dan warga bangsa bukanlah musuh yang harus dimusnahkan. Yang harus dikendalikan adalah kesombongan dan hawa nafsu, bukan identitas yang menjadi bagian dari amanah kehidupan.

Jika semua penderitaan hanya disebut sebagai ilusi ego, bagaimana kita memaknai penderitaan para nabi? Mengapa para rasul menghadapi kezaliman dengan perjuangan, bukan sekadar mengamati? Mengapa mereka membangun masyarakat, menegakkan hukum, membebaskan manusia dari penindasan, dan mengubah peradaban?

Dalam Islam, spiritualitas tidak pernah dipisahkan dari kemanusiaan. Tauhid melahirkan keberanian melawan kezaliman. Ma’rifatullah melahirkan kasih sayang kepada seluruh makhluk. Ibadah melahirkan akhlak sosial. Semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin besar pula kepeduliannya terhadap manusia.

Kesadaran yang hanya sibuk mengamati pikiran sendiri, tetapi diam terhadap penderitaan sesama, bukanlah puncak kesadaran. Ia berisiko menjadi bentuk ego baru—ego spiritual—yang merasa telah “melampaui dunia”, padahal sedang mengabaikan amanah yang Allah bebankan kepada manusia.

Kesadaran sejati bukanlah pelarian dari realitas, melainkan keberanian menghadapi realitas bersama petunjuk Allah. Ia tidak membuat manusia pasif, tetapi aktif memperbaiki kehidupan. Ia tidak mematikan empati, melainkan menyempurnakannya.

Karena itu, umat Islam perlu bersikap kritis terhadap berbagai narasi spiritual modern. Tidak semua yang berbicara tentang kesadaran membawa manusia kepada kebenaran. Ukuran kebenaran bukanlah kedalaman kata-kata atau ketenangan perasaan semata, tetapi apakah ia semakin mendekatkan manusia kepada Allah, menguatkan tauhid, menumbuhkan akhlak, dan mendorong perjuangan menegakkan keadilan.

Ma’rifatullah bukanlah kesadaran yang membuat manusia menjauh dari dunia. Ma’rifatullah adalah kesadaran yang membuat manusia hadir sepenuhnya di dunia sebagai hamba Allah, khalifah di bumi, dan rahmat bagi seluruh alam.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.