Oleh : Gin gin Akil/Wapimred Wartain.com
Bagian Kedua
Wartain.com || Sebelumnya pada bagian pertama, sudah Saya sampaikan perjalanan Saya ke india. Dari tanggal 13 sampai 21 Februari di Bangalore, dan sampai kembali di Bali tanggal 21 Februari 2026, pagi jam 11 WITA. Sebagai duta, Kami (20 orang) berpartisipasi memperkenalkan budaya nusantara, karena memang lewat pintu Bali, pertunjukan sakral dari Bali yang Kami suguhkan.
Jadwal yang diminta yaitu Senin tanggal 16 Februari 2026, saat kegiatan “satsang” (nyanyian dan musik puja puji kepada Tuhan). Perlu diketahui, setiap hari dipagi hari, saat matahari terbit, rombongan mengikuti kegiatan Yoga Kriya, sebuah metoda pengolahan raga dan rasa yang menjadi ciri khas “art of living”, dan malamnya mengikuti kegiatan “satsang”.
Suguhan Kami sudah disiapkan sejak dari Bali, pertunjukan khas Bali yaitu “calon arang” yang dimodifikasi, untuk memungkinkan menjadi lebih ringkas dan maknanya mampu dimengerti oleh masyarakat internasional. Jro Made Dwija menitikberatkan pada misi pertunjukan dengan dengan dasar “tontonan yang menjadi tuntunan”. Di sutradarai oleh seniman pengusung tradisi leluhur Ajik Surya, pimpinan Pasraman Jnana Surya Kantha atau Yayasan Bima Sakti dari Kapal, Badung.
Dalam pembukaan, Saya melantunkan Rajah Sunda dengan instrumen celempung, mengiringi Bapak Ngurah Agung dari Grenceng menuturkan mantera Bali, sebagai Pandita, dan Jro Made Dwija penyawer tirta suci untuk menguatkan taksu pertunjukan. Ya, Kami menuntun pertunjukan dalam citra sakral. Agar apa yang dipertontonkan menjadi tuntunan. Semua dibuat ringkas, karena keseluruhan harus memenuhi waktu yaang pendek yaitu sekitar 10 menit.
Tapi waktu yang dipadatkan, tidak mengurangi nilai dan vibrasi yang digelar dan disuguhkan.agar bisa diresapi oleh sekitar 30 ribu pasang mata dari berbagai bangsa yang hadir untuk mengikuti perjamuan sakral tersebut. Benar saja, Kami menampilkan sebuah perjamuan yang membekas dan unik kepada khalayak. Selesai kegiatan satsang malam itu, tak henti henti para pengunjung ingin mengabadikan gambarnya bersama delegasi Kami (cukup melelahkan walaupun membanggakan) karena keunikan pertunjukan yang syarat pesan bernilai ini.

Dua hari sebelumnya, secara intuitif Saya melantunkan rajah, untuk meraih getaran jiwa terbaik secara khusus di tempat tinggal kami di hotel. Bersyukur, rasa itu bisa kami haturkan untuk berbagi dengan ribuan peserta yang hadir kemudian.
Sekalipun bukan seniman khusus, Maha Krisnanda yang berperan sebagai Bima menjadi bintang dan tampil luar biasa. Tentu saja semua tidak lepas dari tenaga spiritual Ajik Surya sebagai dalang dalam pertunjukan ini.
Pertunjukan menjadi konten viral dari YoutTube akun Art of living. Semua orang berbahagia, Guru Dev (Sri Sri Ravi Shankar) merasa senang, dan menangkap pesan dari perjamuan ini, kemudian menerangkannya kepada seluruh orang didunia yang menjadi murid-muridnya. Beliau sendiri ingin, nanti akhir bulan Maret hingga awal April, di Bali, kembali bertemu dengan Kami semua.
Malam itu ada inspirasi positif yang didapatkan, untuk kita sebagai bangsa ini, bila kita menghayati anugerah yang diberikan, yaitu alam yang indah, keberagaman yang kaya, ajaran yang mencerahkan, ciri yang unik yang diwariskan oleh leluhur kita. Seluruh dunia akan luluh mencintai pesan leluhur yang damai dan harmonis, ketika kita melakoninya dengan kesadaran jiwa yang merdeka.
Sayangnya, saat ini bangsa kita masih sangat bergantung dan kehilangan kepercayaan diri. Bahkan secara spiritual, kita masih lebih meyakini tutur dan tuntunan yang disampaikan oleh bangsa atau negara lain. Bahkan fenomena Gubernur Jawa Barat yang memberi harapan besar pun, belum menyentuh, sehingga mau mendukung dan menguatkan para pelaku ajaran budaya leluhur yang bergeliat ditengah kota, saat ini, entah suatu hari nanti
Semoga dimasa mendatang, tidak lama lagi, bangsa ini sadar dengan keistimewaan yang diwariskan leluhurnya. Saya masih merasa belum cukup menyampaikan pengalaman perjalanan ini, karena masih menggelitik hati, mengapa sulit sekali kita bangkit, lepas dari ketergantungan spiritual dari luar, padahal kita sudah dilengkapi semuanya.***
Selesai
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
