Refleksi Spiritual–Politik atas Akhir Zaman, Kemanusiaan yang Retak, dan Tanggung Jawab Dunia Islam
Oleh: Kang Dzikri Nur/Pengamat Sosial Kegamaan
Ketika Perdamaian Menjadi Topeng Kekuasaan
Wartain.com || Sejarah manusia tidak hanya bergerak oleh senjata dan ekonomi, tetapi oleh makna. Ketika makna rusak, kekuasaan tampil sebagai tuhan palsu. Inilah yang sedang kita saksikan hari ini: Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump, dengan Israel sebagai proksi ideologis dan militer, memproduksi perang dan pembantaian atas nama keamanan, lalu menawarkan “perdamaian” atas puing-puing kemanusiaan yang mereka ciptakan sendiri.
Dalam perspektif spiritual, ini bukan sekadar kontradiksi politik. Ini adalah kontradiksi ketuhanan dan kemanusiaan.
AMERIKA, TRUMP, DAN ISRAEL: REKAM JEJAK KEKUASAAN TANPA WELAS ASIH
Jika rekam jejak dijadikan cermin, maka tampak pola yang berulang:
Perang Diproduksi, Lalu Perdamaian Diklaim Secara Sepihak
Tokoh-tokoh kemanusiaan dibunuh, lalu narasi keamanan dikedepankan
Negara-negara lemah dihancurkan, lalu kedaulatan diredefinisi oleh pemenang
Palestina, Irak, Afghanistan, Suriah, Yaman—semuanya menjadi saksi bahwa darah manusia tak bersalah dapat dinegosiasikan, sementara pelakunya berbicara tentang stabilitas dan perdamaian.
Trump bukan anomali. Ia adalah manifestasi paling telanjang dari imperialisme yang kehilangan rasa malu. Ketika ia kembali berkuasa, yang kembali bukan hanya seorang presiden, tetapi watak lama kekuasaan Barat: merasa dipilih, merasa benar, merasa berhak menentukan hidup dan mati bangsa lain.
MESIANISME PALSU DAN DAJJALISME MODERN
Dalam tradisi spiritual Islam, Dajjal bukan hanya sosok, tetapi sistem penipuan besar:
* Mengaku membawa keselamatan
* Menawarkan keamananMenjanjikan kemakmuran
* Namun dibangun di atas kebohongan, pembunuhan, dan pembalikan nilai.
Ketika Trump dan Israel berbicara tentang “perdamaian Abrahamik”, sementara anak-anak dibantai dan tanah dirampas, di situlah mesianisme palsu bekerja:
menyelamatkan dunia versi mereka, dengan mengorbankan manusia yang tidak tunduk.
Ini bukan tafsir kebencian, melainkan pembacaan spiritual atas realitas politik. Perdamaian yang lahir dari ancaman, sanksi, dan pembantaian adalah souvereignty palsu—kedaulatan yang berdiri di atas mayat.
DI MANA POSISI NEGARA-NEGARA BERAGAMA?
Pertanyaan terpenting bukan lagi apa yang dilakukan Amerika atau Israel, tetapi:
Di mana nurani negara-negara yang mengaku beriman?
Bagi dunia Islam, ujian ini bersifat eksistensial. Diam berarti:
* Membenarkan kezaliman
* Merelakan kemanusiaan direduksi menjadi kepentingan geopolitik
* Menukar iman dengan kenyamanan diplomatik
Negara-negara mayoritas beragama tidak boleh hanya menjadi penonton saleh dalam tragedi dunia. Tauhid tidak mengenal netralitas terhadap kezaliman.
INDONESIA DAN PRESIDEN PRABOWO: UJIAN SEJARAH
Indonesia, dengan mayoritas Muslim dan warisan politik luar negeri bebas-aktif, berada di persimpangan sejarah. Ketika Presiden Prabowo diajak masuk dalam “perdamaian ala Trump”, pertanyaannya bukan soal untung-rugi politik, tetapi:
Apakah Indonesia akan menjadi pengikut kekuasaan, atau penjaga nurani dunia?
Dalam bahasa spiritual, umat tidak membutuhkan pemimpin yang sekadar kuat secara militer, tetapi pemimpin yang berdiri sebagai penimbang keadilan. Simbol Imam Mahdi dalam tradisi Islam bukan tentang figur mistik, melainkan peran moral-historis: pemimpin yang menolak tunduk pada sistem kezaliman global, dan memilih berpihak pada yang tertindas meski berisiko.
Menjadi “Imam Mahdi” di sini bukan klaim teologis, tetapi sikap etis dan keberanian sejarah.
SIKAP YANG HARUS DIAMBIL UMAT DAN NEGARA
* Menolak Perdamaian Palsu
* Perdamaian tanpa keadilan adalah perpanjangan perang dengan bahasa halus.
* Mengembalikan Politik pada Tauhid dan Kemanusiaan
Kekuasaan harus tunduk pada nilai, bukan sebaliknya.
Membangun Poros Moral Global South
Dunia Islam dan negara tertindas harus berhenti berharap pada Barat, dan mulai berdiri bersama.
Indonesia sebagai Suara Nurani Dunia
Bukan dengan senjata, tetapi dengan keberanian moral, konsistensi diplomatik, dan keteguhan prinsip.
PENUTUP: AKHIR ZAMAN BUKAN TENTANG KIAMAT, TAPI PILIHAN
Akhir zaman bukan semata kehancuran fisik, tetapi puncak pengujian makna:
apakah manusia memilih kebenaran atau kenyamanan, iman atau kepentingan.
Ketika kekuasaan tampil sebagai mesias palsu, tugas umat bukan menunggu, tetapi berdiri. Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan bertanya siapa yang paling kuat, tetapi: siapa yang tetap manusia ketika dunia kehilangan kemanusiaannya.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
