Oleh : Aam Abdul Salam/ Presidium MD KAHMI Sukabumi/Sekjen PPJNA ’98
Wartain.com – 20 Mei selalu mengingatkan kita pada satu kata: bersatu. Pada 1908, para pemuda memilih menyatukan pikiran dan tenaga untuk melepaskan diri dari keterbelakangan.
Kini, semangat itu diuji oleh tantangan baru. Disinformasi, perpecahan sosial, dan ketimpangan ekonomi bisa melemahkan fondasi kebangsaan jika tidak ditangani bersama.
Keutuhan NKRI bukan hanya soal batas wilayah, tetapi juga soal menjaga kesatuan dalam berpikir dan bertindak sebagai satu bangsa. Perbedaan adalah kekayaan, bukan alasan untuk saling menjauh.
Presiden Prabowo Subianto menjadikan Asta Cita sebagai peta jalan pembangunan lima tahun ke depan. Program ini menyentuh sektor pangan, energi, pendidikan, kesehatan, ekonomi, hingga pertahanan nasional.
Asta Cita dirancang untuk menjawab persoalan struktural yang menghambat kemajuan. Namun keberhasilan program ini bergantung pada dukungan dan pengawasan publik yang aktif.
Mengawal kebijakan negara berarti memastikan setiap program sampai ke tangan yang membutuhkan. Masyarakat berhak tahu, berhak bertanya, dan berhak memberikan masukan agar kebijakan tidak melenceng dari tujuan.
Persatuan dan kesatuan menjadi modal utama dalam mengawal pembangunan. Ketika masyarakat terpecah, energi bangsa akan habis untuk konflik internal, bukan untuk kemajuan.
Pemerintah pusat dan daerah harus membuka ruang partisipasi yang luas. Transparansi dan akuntabilitas adalah kunci agar kepercayaan publik terhadap program pemerintah tetap terjaga.
Media, organisasi masyarakat, dan akademisi memiliki peran strategis sebagai penghubung antara pemerintah dan rakyat. Mereka bisa menyuarakan aspirasi sekaligus menyampaikan informasi yang objektif.
Hari Kebangkitan Nasional harus menjadi momentum evaluasi. Sudahkah kebijakan yang dijalankan memperkuat persatuan? Sudahkah program pembangunan mengurangi kesenjangan antarwilayah dan antarkelompok?
Mengawal Asta Cita bukan berarti tanpa kritik. Kritik yang disampaikan dengan data dan solusi justru memperkuat arah kebijakan agar lebih tajam dan tepat sasaran.
Mari jadikan 20 Mei 2026 sebagai titik tolak kebangkitan yang inklusif. Dengan menjaga persatuan, merawat NKRI, dan bersama mengawal Asta Cita, kita memastikan Indonesia melangkah maju dengan pondasi yang kokoh.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
