Wartain.com || Di sebuah rumah sederhana berbilik bambu di Kampung Panagan, Desa Pasir Datar Indah, Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi, seorang bocah perempuan bernama Syakira menjalani hari-harinya seperti anak lain seusianya. Namun di balik tawa dan langkah kecilnya, Syakira menyimpan kisah ketangguhan menghadapi kelainan fisik langka yang sudah dialaminya sejak lahir.
Syakira tidak bisa mengedipkan mata dan bibir atasnya tidak dapat bergerak. Kondisi tersebut, menurut ibunya, Aidah (47), sudah tampak sejak detik pertama sang putri lahir.
“Waktu lahir warnanya biru, nggak ada suara. Katanya keminum air ketuban dan keracunan, makanya harus cepat dikeluarkan,” tutur Aidah, mengingat kembali peristiwa kelahiran putrinya pada 29 November 2025. Dari RS Betha Medika, bayi mungil itu langsung dirujuk ke RSUD Sekarwangi untuk mendapat penanganan lanjutan.
Sejak itu, kontrol rutin menjadi bagian dari kehidupan Syakira hingga usianya lima tahun. Namun karena kondisi matanya tak kunjung membaik, ia kemudian dirujuk ke RS Mata Cicendo Bandung. Di sanalah Aidah mendapatkan penjelasan yang membuat langkahnya terhenti—Syakira ternyata mengalami kelainan langka yang bahkan sulit ditangani oleh dokter spesialis.
“Di Cicendo juga bilang nggak bisa bantu. Katanya baru nemu kasus seperti ini,” ucap Aidah lirih.
Meski tidak dapat berkedip, penglihatan Syakira sejatinya masih normal. Namun matanya sangat sensitif terhadap debu dan angin. Karena itu, Aidah membatasi aktivitas anaknya demi mencegah iritasi. Ia selalu memastikan sang putri menggunakan tetes mata khusus dari dokter dan memantau tidurnya—sebab mata Syakira tetap terbuka meski ia terlelap.
Kuat Tanpa Keluhan
Meski dengan segala keterbatasan fisiknya, Syakira tumbuh sebagai anak yang tegar. Dia tak pernah mengeluh atau menangis karena kondisinya.
“Hebatnya, anak saya biasa saja, nggak pernah ngeluh,” kata Aidah dengan mata berkaca-kaca.
Namun perjuangan merawat Syakira tidak mudah. Letak rumah yang jauh dari fasilitas kesehatan membuat biaya transportasi menjadi pengeluaran besar bagi keluarga. Selama bertahun-tahun, Aidah harus menyewa ojek setiap kali membawa putrinya berobat.
“Pulang-pergi ke RS Betha saja bisa sampai Rp100 ribu. Dari dulu saya ngojek soalnya nggak punya kendaraan,” ujarnya.
Penghasilan suaminya sebagai buruh kebun hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok. Sementara untuk pengobatan, Aidah mengandalkan BPJS Kesehatan. Upaya operasi pun tidak pernah menjadi pilihan karena dokter menyatakan tindakan tersebut tidak disarankan.
Menunggu Uluran Tangan Pemerintah
Hingga kini, Aidah mengaku belum pernah menerima bantuan dari pemerintah, baik untuk kebutuhan harian maupun biaya pendampingan berobat.
“Dari lahir sampai sekarang semuanya saya usahakan sendiri. Nggak pernah ada bantuan apa pun,” katanya.
Puskesmas setempat sebenarnya pernah mencoba mengajukan bantuan khusus untuk Syakira, namun hingga kini belum ada tindak lanjut. Aidah pun berharap ada perhatian dari pemerintah, terutama Gubernur Jawa Barat, Dedi.
“Mudah-mudahan Pak Dedi dengar. Saya ingin ada bantuan untuk pengobatan atau apa pun supaya anak saya bisa lebih sehat,” harapnya.
Respons Pemerintah Kecamatan
Camat Caringin, Ridwan Agus Mulyawan, memastikan bahwa Forkopimcam sudah mendatangi rumah Syakira untuk melihat langsung kondisinya. Ia mengungkapkan bahwa dugaan awal kelainan yang dialami Syakira berkaitan dengan keracunan air ketuban saat dalam kandungan.
Menurut Ridwan, pihak kecamatan telah berupaya memberikan dukungan berupa akomodasi ambulans desa. Namun mengenai bantuan sosial dari pemerintah pusat, ia mengaku masih harus memverifikasi apakah keluarga Syakira sudah terdaftar sebagai penerima manfaat.
“Datanya belum sampai ke kami karena lokasi rumahnya cukup jauh di ujung desa. Nanti kami cek lagi melalui PKH,” jelasnya.
Ridwan menegaskan bahwa kecamatan tidak memiliki anggaran khusus untuk bantuan masyarakat. Meski begitu, ia berkomitmen mencari solusi lain melalui upaya lokal dan jejaring relawan.
“Kita akan coba cari cara lain dengan kearifan lokal. Minimal ada yang bisa membantu akomodasi atau kebutuhan mendesak lainnya,” tutupnya.***(RAF)
Editor : Aab Abdul Malik
