26.7 C
Jakarta
Sabtu, Januari 17, 2026

Latest Posts

Tidak Usah Mengajarkan Perempuan Teori Keadilan, “Don’t Teach Women the Theory of Justice”

Oleh : Hana Fitri Raziah/ Demisioner Ketua Umum Kohati Komisariat As-Syafi

Wartain.com || Belajar dari sejarah, perempuan selalu menjadi pengelola dan penyeimbang keadilan di tengah keluarga dan masyarakat. Salah satunya adalah istri pertama Nabi Muhammad SAW, Khadijah binti Khuwailid. Beliau seorang pengusaha yang jujur, bertanggungjawab, cerdas dan bijaksana. Walaupun tidak pernah sekolah formal namun beliau bisa mengelola dan menyalurkan keadilan tanpa perlu belajar teori-teori rumit seperti Immanuel Kant, Artistoteles, atau Jhon Rawls.

Setiap hari khadijah sudah mempraktikkan keadilan dalam kehidupan nyata, dengan membagikan kasih sayang, perhatian, dan sumber dayanya dengan adil. Beliau mendukung dakwah Nabi, mendidik anak dengan tulus, dan menolong orang yang membutuhkan. Tulisan ini akan mengajak kita menengok kembali sejarah sebagai gambaran situasi saat ini, untuk menghargai peran perempuan sebagai tiang keluarga dan bangsa.

Ada sebuah adegium hukum yang mengatakan, “Vox Populi Vox Dei.” Artinya, “Suara rakyat adalah suara Tuhan.” (The voice of the people is the voice of God). Dewasa ini berbicara tentang politik dan keadilan di negeri ini sangatlah tipis. Setipis tisu, sekusut benang, dan serapuh kayu yang dimakan rayap. Sungguh perumpamaan yang anarkis! Namun begitulah adanya! Agustus menjadi bulan tergersang untuk ibu Pertiwi. Delapan puluh tahun Indonesia merdeka seakan menjadi nyanyian yang terus diputar ulang, terdengar, tapi tak sampai ke hati para pendengarnya! Lima dasar pancasila kini hanya menjadi pajangan di gedung pemerintah tanpa benar-benar menghidupi hati nurani para pemimpin.

Aku dan para kaum perempuan lain bertanya-tanya, kenapa kedunguan di negara ini terus terjadi? Sebuah makna dari kemerdekaan dan pancasila hilang tidak ada dalam diri bangsa Indonesia. Miris! Berita di media massa khususnya di stasiun televisi silih berganti, menampilkan para tikus berdasi yang mengunyah duit negeri, pemimpin ijazahnya palsu, sampai ke wakil rakyat yang berjoget ria di kursinya sendiri. Haha bedebah! Dari rakyat jelata hingga pelajar SMA, semua penonton geleng kepala, menepuk jidat, dan merasakan amarah yang sama. Mata mereka yang bening dan polos ternodai oleh tontonan murahan tanpa nilai.

Tuhan tidak pernah tidur, waktu tidak pernah bohong! Tidak disangka ditengah carut marutnya situasi negara yang dihiasi oleh berbagai hiruk pikuk kegelisahan dan kemarahan, hadir seorang kartini mungil, berkerudung pink yang mungkin wajah nya sudah termakan oleh waktu, matanya dipenuhi dengan rasa kekecewaan dan badannya mulai renta, ia tetap berdiri tegak di depan demonstrasi, melantangkan aspirasi di hadapan barikade polisi. Kartini mungil itu bernama ibu Ana.

Ibu Ana membuktikan bahwa perempuan bukan hanya penonton dalam panggung perjuangan. Kecerdasannya seperti Syaidah Aisyah binti Abu Bakar, keberaniannya seperti Sumayyah, dan ketegasannya seperti RA Kartini yang mampu mendobrak keterbatasan perempuan. Ibu Ana menjadi simbol perlawanan yang tidak bisa dibungkam. Sekali perempuan berbicara maka tidak ada yang berani untuk memberhentikan. Suara perempuan adalah suara
keadilan (Do not ever teach women the theory of justice as if they do not understand it). Karena setiap hari perempuan sudah mempraktikkan keadilan. Mendistribusikannya kepada anak, suami, keluarga, tetangga, bahkan bangsa dan negara. Dalam islam perempuan adalah “Ummi
Madrasatul Ulla” yaitu sekolah pertama bagi anak-anaknya. Mereka adalah tiang negara. Jika karakternya kuat, negara akan kokoh. Jika diruntuhkan, negara ikut rapuh.

Karakter adalah fondasi negara (character is the pillar of the nation). Bukan hanya bagi perempuan tapi juga laki-laki. Tanpa karakter yang baik, negara ini akan terus sakit. Ini adalah momentum bersama untuk saling berkaca, berbenah dan intropeksi. Apakah kita berkontribusi memperbaiki diri atau justru menjadi bagian dari masalah yang terjadi? Shalat adalah tiang agama, karakter adalah tiang negara. Keduanya tidak terpisahkan. “Hayya Alash Shalah” marilah kita mendirikan shalat “Hayya Alal Fallah” marilah menuju kemenangan. Shalat adalah sarana bagi kita dalam menuju kemenangan. Tanpa karakter yang baik kita tidak akan pernah sampai pada kemenangan.

Mari sama-sama koreksi diri, renungi, dan saling berempati. Karena orang yang beruntung adalah orang yang saling menasehati untuk kebenaran dan kesabaran (Q.s Al-isra : 3). Tanyakan pada diri sendiri, sudahkah kita bekerja dengan sepenuh hati atau malah menyalahi hati nurani? No one knows it except you. Kembalilah ke jalan yang lurus, jalan yang
diridhai Tuhan, bukan jalan yang dimurkai-Nya.

Lekas pulih negeriku, lekas membaik rakyatku. (***)

Foto : Istimewa

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.