26.7 C
Jakarta
Minggu, Agustus 2, 2026

Latest Posts

Tuhan yang Terlupakan : Menggugah Jiwa dari Tidur Panjang Peradaban

Oleh: Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan

Wartain.com || “Sesungguhnya Aku lebih dekat kepadamu daripada urat lehermu.”
(QS. Qaf: 16)

Zaman ini adalah zaman kelimpahan tanpa kedekatan. Ilmu berkembang, teknologi menjulang, peradaban menguasai ruang—tetapi Tuhan kian jauh dari hati manusia. Nama-Nya disebut, namun tak lagi mengguncang batin. Kitab-Nya dibaca, tapi tak lagi meresap dalam kehidupan. Ia tak lagi hidup dalam kesadaran umat-Nya. Tuhan telah dilupakan—bukan karena tak nyata, tapi karena hati manusia tertutup oleh debu zaman.

Ini bukan tentang ateisme semata. Ini lebih dalam: tentang kehilangan rasa, kehilangan getaran, kehilangan kehadiran Ilahi dalam setiap detak nafas. Agama menjadi sistem, bukan jalan cinta. Ibadah menjadi rutinitas, bukan penyatuan. Dan manusia pun terasing, bukan hanya dari Tuhan, tapi dari dirinya sendiri.

“Jika engkau telah kehilangan Tuhan, maka sejatinya engkau sedang kehilangan dirimu sendiri.”
(Dzikri Nurdiansyah)

Sejarah mencatat pergeseran makna ketuhanan. Dalam kajian Armstrong, Tuhan awalnya hadir dalam kesadaran spiritual yang personal dan mistikal. Namun seiring waktu, dalam tekanan institusi dan politik, Tuhan menjadi ideologis dan jauh dari hati. Huntington melihat agama sebagai faktor konflik, bukan lagi jalan damai. Keduanya menunjukkan: yang hilang dari dunia ini adalah kesadaran akan kehadiran Tuhan secara hidup.

Padahal, Tuhan tak pernah pergi. Kitalah yang menutup pintu jiwa.

“Jangan kau cari Aku di gereja, masjid, atau pura, jika kau tak membuka ruang hening dalam hatimu.”
(Rumi)

Doa Penutup: Kembalikan Aku, Ya Allah

Ya Allah…
Jika dunia telah menjauhkan kami dari-Mu,
maka dekatkanlah kami kembali meski dalam luka.
Jika hati kami telah beku oleh kesibukan,
maka lelehkanlah ia dengan cinta-Mu.
Jangan biarkan kami hidup dalam kelimpahan,
namun miskin akan-Mu.
Jangan biarkan kami menyebut nama-Mu,
tanpa merasakan hadir-Mu.
Tiupkan kembali ruh dalam kesadaran kami,
jadikan setiap langkah kami perjalanan pulang,
jadikan setiap nafas kami dzikir sunyi yang merintih dalam rindu.
Wahai Tuhan Yang Tak Pernah Lupa,
bangunkan kami yang melupakan-Mu.
Amin, ya Rabb al-‘Ālamīn.***

Foto : Dok. Pribadi

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.