Oleh : Dzikri Nur/ Pengamat Sosial Keagamaan
Wartain.com || Dalam pusaran zaman yang serba cepat, manusia modern sering kehilangan arah dalam gelombang informasi dan kesibukan. Di tengah kegaduhan itu, ada suara sunyi dari abad ke-13 yang tetap menggetarkan hati—suara Ibnu ‘Arabī, sang sufi besar dari Andalusia. Melalui karya monumentalnya, Fuṣūṣ al-Ḥikam (Permata Hikmah), ia meninggalkan peta batin menuju keheningan, makrifat, dan keintiman dengan Sang Pencipta.
Fuṣūṣ al-Ḥikam bukan buku dogma. Ia adalah risalah cinta. Setiap babnya membahas “hikmah” yang tersembunyi di balik kisah para nabi, bukan sekadar sejarah, tapi gema rahasia jiwa manusia. Dari Adam hingga Muhammad, Ibnu ‘Arabī membongkar tabir makna terdalam dari keberadaan.
Di era penuh distraksi ini, hikmah itu kembali relevan. Misalnya, ketika Ibnu ‘Arabī membahas Nabi Nuh sebagai simbol dari hikmah “wahmiyyah” (intuisi ilahiah yang kerap tak dipahami orang banyak), ia sedang bicara kepada kita—yang sering merasa kesendirian dalam idealisme, dan merasa tenggelam dalam ketidakterpahaman orang lain.
Atau ketika ia mengurai hikmah Nabi Yusuf—keindahan yang menyelamatkan dunia—bukankah itu seruan untuk kembali menghargai kedalaman, keindahan batin, dan kesucian pandangan, di tengah dunia yang penuh ilusi visual?
Ibnu ‘Arabī tidak menawarkan jawaban instan. Ia mengajak merenung. Ia tidak menggurui, tapi menemani. Dan barangkali, justru itulah yang kita butuhkan hari ini: teman ruhani yang membimbing diam-diam, lewat bisikan makna, bukan teriakan dogma.
Bagi mereka yang haus kedalaman, Fuṣūṣ al-Ḥikam adalah cermin diri. Ia akan memantulkan wajah asli jiwa kita. Dan bagi yang berani menyelami, di sana ada oase abadi yang tak akan kering—hikmah ilahiah yang menuntun pada keheningan sejati.***
Foto : Dok. Pribadi
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
