Oleh : Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan
Wartain.com || Makna dzikir dan shalawat dalam tingkat hakikat dan makrifat jauh
melampaui sekadar pengucapan lisan. Ia menyentuh inti kesadaran, hubungan batin dengan Tuhan dan Rasul, serta realitas terdalam keberadaan manusia. Penjelasan maknanya dalam dua tingkat itu:
1. Dzikir (ذِكر) dalam Hakikat dan Makrifat
Secara Hakikat:
Dzikir adalah hadirnya hatii bersama Allah. Bukan hanya menyebut nama-Nya, tapi menyadari keberadaan-Nya dalam segala sesuatu.
Hakikat dzikir adalah kesadaran Ilahiyah yang terus-menerus, yakni menyadari bahwa tiada yang wujud kecuali Allah (lā mawjūda illā Allāh).
Dalam dzikir hakiki, hati bukan hanya mengingat,i tapi menyatu dalam hadirat-Nya, seolah tiada lagi tabir antara hamba dan Tuhan.
“Dan sebutlah Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut…” (QS. Al-A’raf: 205)
Secara Makrifat:
Dzikir adalah pembukaan tabir antara hamba dan Yang Maha Disembah.
Dalam makrifat, dzikir bukan lagi aktivitas, tapi keadaan jiwa: fana dalam al-Haqq (lenyap dari diri, tinggal dalam Allah).
Ia menjadi napas ruhani, di mana setiap detik adalah pengakuan batin: Lā ilāha illā Anta — Tiada selain Engkau.
Orang ‘arif tidak lagi berdzikir untuk mengingat Allah, karena Allah-lah yang berdzikir dalam dirinya.
2. Shalawat dalam Hakikat dan Makrifat
Secara Hakikat:
Shalawat adalah pantulan cinta Allah kepada Rasulullah, yang kemudian dipantulkan oleh makhluk kepada Sang Kekasih (Muhammad).
Shalawat adalah bentuk pengakuan akan kemuliaan Nur Muhammad, yang menjadi asal segala ciptaan.
Dalam hakikat, shalawat adalah keterhubungan spiritual antara hamba dengan Rasulullah, menyambungkan jiwa kita kepada pusat cinta dan cahaya Ilahi.
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkan salam dengan penuh penghormatan.” (QS. Al-Ahzab: 56)
Secara Makrifat:
Shalawat adalah jalan masuk ke rahasia Nur Muhammad, yang menjadi cermin pertama Tajalli Allah.
Dalam makrifat, shalawat bukan sekadar pujian, tapi keterhubungan batin dengan sumber cahaya hakikat insan kamil.
Ia adalah cara ruhani untuk menyaksikan cahaya kenabian dalam diri, karena Muhammad bukan sekadar sejarah, tapi hakikat ruh setiap manusia yang mengenal Tuhan.
Orang ‘arif melihat Rasulullah sebagai cahaya dirinya yang paling sejati, sehingga bershalawat berarti bersatu dengan asal-usul ruhani kita.
Kesimpulan Maknawi
Dzikir adalah jalan menuju kesadaran Ilahiyah.
Shalawat adalah jembatan menuju kesadaran Muhammadiyah.
Keduanya adalah dua sayap ruh untuk terbang menuju Hadirat Tuhan: satu melalui Nama-Nya, satu melalui Wajah Kekasih-Nya.
“Dzikir membawamu ke hadirat Allah. Shalawat membawamu ke pelukan Rasulullah. Dan dari sanalah ruhmu mengenal bahwa ia tak pernah terpisah dari Cinta yang Maha Abadi.” (***)
Foto : Istimewa
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
