26.7 C
Jakarta
Jumat, Mei 1, 2026

Latest Posts

Manifesto Politik Gerakan Mahasiswa, ”Serangkain kesejahtraan yang harus Dibersamai Perjuangan di Kabupaten Garut”

Oleh : Dani Wijaya Kusuma/ Ketua Senat Mahasiswa STHG

Wartain.com || Cari dan berdialetikalah dengan orang- orang yang resah maka kita akan bertemu.

Beberapa waktu terakhir, keadilan tampak menjauh dari denyut nadi rakyat. Sayap- sayap kemakmuran tercabik oleh regulasi yang melukai perut, pikiran, dan hati setiap insan. Rangkaian perjuangan, baik di skala nasional maupun daerah, kian dianggap angin lalu. Ironisnya, keresahan itu justru dinikmati oleh mereka yang menanggung beban paling berat: rakyat sendiri.

Dalam ikhtiar menegakkan martabat demokrasi, harapan besar diletakkan pada partai politik agar menjadi penyambung lidah rakyat—bukan alat kekuasaan yang tunduk pada ambisi harta dan jabatan. Begitu pula mahasiswa, sebagai middle class intelektual, perlahan kehilangan identitasnya. Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya nilai pengabdian, tereduksi menjadi alat tunduk pada nilai-nilai materialistik dan pragmatisme.

“Para penguasa ibarat hewan yang bersantap rakus, membungkam suara burung yang menjeritkan kesengsaraan.”

Kini, kebebasan berpendapat kehilangan marwah. Dicap sebagai pemberontakan, suara rakyat dikerdilkan. Namun, bila keadilan dan kesejahteraan tak lagi terasa, maka perlawanan adalah jalan Tuhan.

Ruang-ruang demokrasi yang dulu menjadi arena perdebatan konstruktif kini berubah menjadi panggung sandiwara politik yang penuh kepalsuan. Kritik yang membangun akan dipandang sebagai makar, sementara pujian kosong dipandang sebagai loyalitas tertinggi. Diamnya kaum intelektual sama halnya dengan pengkhianatan terhadap amanah kemanusiaan.

Ketika budaya malu tergantikan oleh budaya asing yang tercerabut dari akar moral, maka perpecahan bukan lagi ancaman, melainkan kenyataan. Malu jika berbuat zalim. Malu jika menyakiti sesama. Malu jika mengkhianati cita-cita gotong royong yang menjadi fondasi bangsa.

Dalam keheningan malam, kita saksikan bagaimana mimpi-mimpi rakyat layu sebelum sempat mekar. Setiap fajar yang terbit membawa kabar duka: petani kehilangan lahan karena eksploitasi korporasi, buruh yang diperas keringatnya tanpa mendapat upah yang layak. Inilah realitas pahit yang mengalir dalam bangsa.

Ketimpangan ekonomi yang semakin menganga bukan hanya soal angka statistik. Ia adalah cermin dari sistem yang gagal mendistribusikan kemakmuran secara adil. Sementara segelintir orang menikmati kemewahan yang berlebihan, jutaan rakyat berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.

Maka dari itu, marilah kita bangkit dari kelengahan dan ketidakpedulian. Marilah kita bergandengan tangan melawan tirani kemunafikan dan kebohongan sistemik yang telah terlalu lama mencengkeram leher bangsa ini. Revolusi mental yang sebenarnya dimulai dari kesadaran bahwa perubahan sejati hanya akan terwujud jika setiap individu berani mengambil sikap dan bertindak sesuai dengan hati nurani.

Kita adalah manusia jujur yang berusaha menjaga kemewahan idealisme dari kemunafikan dan arus kepentingan busuk yang mencemari ruh kesejahteraan bersama. Karena itu, kampus—sebagai benteng intelektual—harus tetap menjadi ruang netral dan independen, bebas dari intervensi politik kotor yang berupaya melemahkan daya kritis generasi penerus.

Idealisme bukanlah kemewahan yang sia- sia, melainkan kekuatan yang mampu mengubah bangsa ini menuju masa depan yang lebih adil dan bermartabat.

“Ketika kebenaran menjadi barang yang langka, maka kebohongan pun dianggap emas.” (***)

Foto : Istimewa

Editor : Aab Abdul Malik

(Salman/Biro Garut)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.