Wartain.com || Diet lemon kerap menjadi pilihan masyarakat yang ingin menurunkan berat badan secara alami. Namun, bagi penderita maag, konsumsi lemon secara sembarangan justru berisiko memicu naiknya asam lambung. Oleh karena itu, diperlukan cara khusus agar diet lemon tetap aman bagi lambung.
Lemon diketahui mengandung asam sitrat yang cukup tinggi. Jika dikonsumsi dalam kondisi perut kosong atau tanpa pengenceran, kandungan asam tersebut dapat menyebabkan perih pada ulu hati, mual, hingga sensasi terbakar di dada. Meski demikian, diet lemon tidak sepenuhnya dilarang bagi penderita maag.
Pakar kesehatan menyarankan agar konsumsi lemon dilakukan dengan prinsip kehati-hatian.
Lemon sebaiknya tidak diminum dalam bentuk perasan murni. Penggunaan air hangat sebagai campuran dinilai lebih aman dibandingkan air dingin atau panas. Takaran yang dianjurkan pun sangat kecil, cukup sekitar setengah sendok teh air perasan lemon yang dicampur dengan satu gelas air hangat.
Selain itu, waktu konsumsi menjadi faktor penting. Air lemon disarankan diminum 30 hingga 60 menit setelah makan, bukan saat perut kosong. Untuk membantu menetralkan asam, penderita maag juga dapat menambahkan satu sendok teh madu atau irisan jahe tipis ke dalam campuran air lemon.
Sebaliknya, konsumsi air lemon pada malam hari sebaiknya dihindari karena berpotensi memicu refluks asam lambung saat berbaring.
Jika setelah mengonsumsi lemon muncul keluhan seperti nyeri ulu hati, mual, sendawa asam, atau rasa panas di dada, penderita disarankan segera menghentikan diet lemon.
Sebagai alternatif, penderita maag yang ingin menurunkan berat badan dapat memilih metode diet yang lebih ramah lambung, seperti mengonsumsi air hangat dengan madu, infused water mentimun, teh chamomile, serta memperbanyak makanan berserat seperti oatmeal, pisang, dan pepaya.
Dengan pengolahan dan waktu konsumsi yang tepat, diet lemon masih memungkinkan dilakukan oleh penderita maag. Namun, para ahli menegaskan bahwa diet ini tidak boleh dilakukan secara ekstrem dan harus disesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Intan)
