Wartain.com || Pergerakan tanah melanda Kampung Cijambe, Desa Bantargadung, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, sejak awal pekan ini. Sedikitnya 90 rumah terdampak, dengan total 112 kepala keluarga (KK) atau 355 jiwa terpaksa mengungsi demi keselamatan.
Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) Bantargadung, Sihab, mengatakan laporan awal diterima pada 23 Februari 2026 melalui grup WhatsApp tingkat kecamatan yang menginformasikan adanya dugaan pergerakan tanah di wilayah tersebut.
“Pada tanggal 23 kami bersama Kasi Trantib langsung mengecek ke lokasi. Saat itu belum terlihat ada pergerakan signifikan, retakan yang ada masih seperti kondisi lama,” ujarnya.
Namun, pihak kecamatan tetap melakukan pemantauan intensif dengan meminta laporan berkala dari RT setempat. Pada pengecekan lanjutan Selasa dan Rabu, mulai terlihat perubahan di lapangan dibanding hasil survei sebelumnya.
“Di hari Jumat kondisinya sudah cukup parah. Ada tiang rumah yang mulai miring. Puncaknya terjadi pada Sabtu malam, bangunan mulai ambruk dan kondisinya sudah tidak karuan,” kata Sihab.
Warga pun melakukan evakuasi mandiri pada Sabtu pagi. Sebagian mengungsi ke rumah kerabat, sementara lainnya bertahan di sekitar lokasi. Pemerintah kecamatan segera berkoordinasi dengan unsur Forkopimcam serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi.
Sebanyak 10 tenda darurat dikirim dan enam di antaranya didirikan di halaman masjid setempat. Pada malam Minggu, sekitar 100 jiwa telah menempati tenda karena rumah mereka mengalami kerusakan berat.
Namun, karena pergerakan tanah kembali terjadi pada malam itu, warga meminta tenda dipindahkan ke lokasi yang lebih aman. Pada Minggu, sembilan tenda dipindahkan ke samping Puskesmas Bantargadung. Tambahan dua tenda kembali dikirim Dinas Sosial pada hari berikutnya.
“Saat ini seluruh warga sudah tidak ada yang tinggal di rumah. Semua mengungsi di tenda. Total ada 90 rumah terdampak, 112 KK atau 355 jiwa. Alhamdulillah sampai sekarang tidak ada korban luka maupun korban jiwa,” ungkap Sihab.
Salah seorang warga terdampak, Yusuf (56), mengaku peristiwa ambruknya bangunan terjadi sekitar pukul 18.00 WIB.
“Suaranya seperti bom waktu Magrib. Bangunan yang roboh itu masih baru, jadi kaget sekali,” tuturnya.
Menurut Yusuf, hingga kini pergerakan tanah masih berlangsung dan beberapa bangunan masih terus mengalami kerusakan. “Hari ini masih ada yang rubuh. Kondisinya sudah hancur dan semua sudah kosong, warga sudah pindah. Jujur, kami takut sekali dengan kejadian ini,” katanya.
Hingga saat ini, pemerintah setempat bersama BPBD Kabupaten Sukabumi terus melakukan pemantauan dan pendataan lanjutan guna mengantisipasi kemungkinan pergerakan tanah susulan.***(RAF)
Editor : Aab Abdul Malik
