26.7 C
Jakarta
Minggu, September 6, 2026

Latest Posts

Mengenal Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau yang Berdampak ke Penerbangan

Wartain.com – Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda berdampak terhadap aktivitas penerbangan di sejumlah wilayah Indonesia. Sebaran abu vulkanik yang mencapai ruang udara di sekitar Jawa, Sumatra, Banten, hingga Jabodetabek membuat sejumlah bandara harus menghentikan sementara operasional penerbangan demi alasan keselamatan.

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan mencatat, hingga Minggu (6/9/2026) pukul 10.35 WIB, sedikitnya 373 penerbangan terdampak akibat penutupan sejumlah bandara. Data tersebut mencakup penerbangan yang dibatalkan, ditunda, dialihkan, hingga terdampak karena memiliki rute menuju atau berasal dari bandara yang ditutup.

Bandara Internasional Soekarno-Hatta menjadi salah satu yang paling terdampak. Dari 202 penerbangan yang terdampak di bandara tersebut, sebanyak 167 penerbangan berstatus batal, 16 mengalami penundaan, tujuh ditunda keberangkatannya, empat dialihkan, serta sejumlah penerbangan lainnya telah mendarat, berangkat, atau kembali ke bandara asal.

Selain Soekarno-Hatta, penutupan sementara juga diberlakukan di Bandara Halim Perdanakusuma, Bandara Radin Inten II Lampung, Bandara Budiarto Curug, dan Bandara Pondok Cabe. Kemudian, Bandara Husein Sastranegara Bandung turut ditutup sementara setelah indikasi sebaran abu vulkanik terdeteksi di kawasan bandara.

Untuk Husein Sastranegara, penutupan ditetapkan pada pukul 12.07 hingga 16.00 WIB. Sebanyak delapan penerbangan terdampak, terdiri dari empat penerbangan kedatangan dan empat keberangkatan, dengan sekitar 1.344 penumpang ikut terdampak.

Sementara itu, di Bandara Soekarno-Hatta, InJourney Airports mencatat 209 penerbangan yang dijadwalkan pada periode pukul 01.30 hingga 09.30 WIB dibatalkan. Jumlah tersebut terdiri dari 160 penerbangan domestik, 39 penerbangan internasional, dan 10 penerbangan kargo.

Tidak hanya penerbangan di sekitar Jakarta dan Jawa Barat yang terkena dampak. Bandara H. AS Hanandjoeddin di Belitung juga membatalkan enam penerbangan rute Jakarta-Tanjungpandan dan sebaliknya. Pembatalan dilakukan karena sebaran abu vulkanik mengganggu jalur penerbangan serta operasional Bandara Soekarno-Hatta.

Abu vulkanik menjadi ancaman serius bagi penerbangan karena terdiri dari partikel batuan, mineral dan kaca vulkanik berukuran sangat halus. Partikel tersebut dapat terbawa hingga ketinggian jelajah pesawat dan masuk ke dalam mesin.

Ketika masuk ke mesin, partikel abu vulkanik dapat mengikis komponen kompresor dan mengganggu kinerja mesin. Pada kondisi tertentu, material tersebut juga dapat meleleh akibat suhu tinggi di ruang mesin kemudian menempel pada bilah turbin dan menghambat aliran udara.

Selain berisiko terhadap mesin, abu vulkanik juga dapat mengurangi jarak pandang pilot serta mengganggu sejumlah komponen pesawat. Kondisi inilah yang membuat keberadaan abu vulkanik di ruang udara harus menjadi pertimbangan utama sebelum penerbangan diizinkan beroperasi.

Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, mengatakan penutupan sejumlah bandara merupakan keputusan bersama para pemangku kepentingan penerbangan nasional.

Menurutnya, langkah tersebut dilakukan melalui koordinasi antara Otoritas Bandar Udara, BMKG, Perum LPPNPI atau AirNav Indonesia, pengelola bandara, otoritas setempat hingga TNI.

“Sinergi lintas sektor ini dilakukan untuk memastikan bahwa setiap kebijakan darurat yang diambil menempatkan keselamatan operasional penerbangan sebagai prioritas utama,” ujarnya.

Sementara itu, Peneliti Keamanan Kesehatan Griffith University Australia sekaligus Dosen Manajemen Bencana Sekolah Pascasarjana Universitas YARSI, Dicky Budiman, menjelaskan abu vulkanik juga berbahaya karena mengandung kristal silika yang memiliki karakteristik tajam seperti serpihan kaca.

Dalam penerbangan, abu yang masuk ke ruang bakar mesin dapat mengalami pelelehan akibat temperatur tinggi. Material tersebut kemudian dapat membeku pada bilah turbin dan menghambat aliran udara sehingga berpotensi menyebabkan mesin kehilangan tenaga.

Dampak abu vulkanik juga dapat dirasakan manusia. Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, mengatakan ukuran abu yang sangat kecil membuat partikelnya dapat menembus penyaringan alami pada hidung dan masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.

“Secara kimiawi, partikel abu vulkanik diselimuti oleh senyawa asam seperti asam sulfat dan asam klorida, serta mengandung berbagai logam berat dan mineral,” katanya.

Selain berpengaruh terhadap mesin dan jarak pandang, abu vulkanik juga berpotensi mengganggu sistem navigasi maupun sensor pesawat. Kondisi ruang udara yang berubah akibat sebaran abu akhirnya dapat memaksa maskapai mengubah rute, menunda keberangkatan, mengalihkan penerbangan, bahkan membatalkan perjalanan.

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara menegaskan keselamatan menjadi dasar utama dalam setiap keputusan operasional. Status penutupan maupun pembukaan kembali bandara dapat berubah mengikuti perkembangan sebaran abu vulkanik dan kondisi meteorologi.

Pemerintah juga mengimbau calon penumpang yang akan bepergian melalui bandara terdampak untuk tidak datang sebelum memperoleh kepastian dari maskapai. Penumpang diminta memantau informasi terbaru mengenai status penerbangan serta hak dan pilihan penanganan apabila perjalanan mereka terdampak.

Dengan kondisi sebaran abu yang masih dipantau, penyesuaian operasional penerbangan dilakukan secara dinamis oleh otoritas bersama maskapai, pengelola bandara, AirNav Indonesia dan BMKG.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.