Wartain.com || Aroma harum langsung menyergap begitu mendekati rak besi di sudut ruangan itu. Deretan bacang berbentuk limas segitiga tergantung rapi, terbalut daun hanjuang yang masih segar dan diikat tali bambu. Dari sanalah, kisah sederhana tentang ketekunan dan rasa bermula.
Di dapur produksinya yang tak terlalu luas di Jalan Pemuda, Kecamatan Citamiang, Kota Sukabumi, Christian (37) tampak tak banyak bicara. Tangannya sibuk melipat daun, mengisi beras dan daging, lalu mengikatnya satu per satu. Bersama lima hingga enam pekerja, ia menjaga ritme produksi yang sudah dijalaninya sejak hampir satu dekade lalu.
Usaha Bacang Panas 88 yang ia rintis sejak 2017 bukan sekadar bisnis kuliner. Ada kecintaan pada makanan dan pengalaman panjang di dunia perhotelan yang mendorongnya mencoba sesuatu yang berbeda. Ia memilih jalur sederhana—mengandalkan bahan alami, tanpa tambahan kimia, dengan tetap mempertahankan cita rasa yang bisa diterima banyak orang.
“Jadi, kita tuh baru mulai produksi itu tahun 2017. Istimewanya itu kita lebih simpel, pakai bahan-bahan natural. Kita pakai daun hanjuang sama talinya tali bambu, jadi bebas dari kimia,” tuturnya.
Di tangan Christian, bacang yang identik dengan kuliner Tionghoa itu diolah agar lebih akrab dengan lidah masyarakat lokal. Rasa manis dan gurih berpadu dengan sedikit sentuhan pedas, menciptakan sensasi khas yang ia sebut sebagai “lekoh” di lidah.
“Dari lain-lain kita mengutamakan cita rasa yang unik. Jadi lidah orang Sunda sama orang Indonesia itu cocok,” katanya.
Yang membuatnya berbeda, bacang di sini tidak harus selalu disantap dingin. Pelanggan bisa memilih menikmatinya dalam kondisi panas—masih mengepul dari kukusan—atau dingin, sesuai selera masing-masing.
Dalam sehari, sekitar 300 hingga 400 bacang diproduksi dari 25 kilogram beras. Prosesnya dimulai dari daun hanjuang yang dibersihkan, batangnya dikupas agar lentur, lalu direbus sebelum dibentuk, diisi, diikat, dan dimasak hingga matang.

“Dari daun kita kopekin batangnya biar lentur, habis itu direbus. Baru dibentuk, diisi nasi sama daging, diikat, terus direbus,” ujarnya sambil terus bekerja.
Namun di balik rutinitas itu, ada tantangan yang tak ringan. Kenaikan harga bahan baku seperti daging, ayam, beras, hingga kemasan plastik turut menekan usaha kecil yang ia jalankan.
“Terdampak banget sih. Daging, ayam, beras naik semua. Sama plastik juga terasa banget,” ungkapnya.
Ia pun sempat menaikkan harga jual, meski hanya Rp1.000 per buah. Kini satu bacang dijual sekitar Rp12.000—harga yang menurutnya masih terjangkau, meski tetap terasa bagi pelaku usaha kecil.
Di tengah segala keterbatasan, harapan tetap menggantung seperti bacang-bacang di rak besi itu. Setiap musim liburan, usahanya justru kebanjiran pesanan. Wisatawan yang datang ke Sukabumi kerap menjadikan bacangnya sebagai buah tangan praktis.
“Biasanya ramai kalau musim libur. Orang-orang wisata mampir, beli buat dibawa pulang. Praktis, langsung bisa dimakan,” katanya.
Menariknya, Christian juga memastikan seluruh produknya telah bersertifikat halal. Ia ingin siapa pun bisa menikmati bacangnya tanpa ragu.
Di balik kepulan uap panas dari panci besar, Christian terus menjaga rasa dan konsistensi. Bagi sebagian orang, mungkin ini hanya bacang. Namun baginya, ini adalah cerita tentang bertahan, beradaptasi, dan merawat tradisi dengan cara yang sederhana.***(RAF)
Editor : Aab Abdul Malik
