26.7 C
Jakarta
Kamis, April 30, 2026

Latest Posts

Dari Dapur ke Industri — Perjalanan Baru Sampah Warga Desa di Sukabumi

Wartain.com || Tumpukan plastik bekas, bungkus deterjen, hingga limbah rumah tangga lain di Desa Kebonmanggu kini tak lagi berhenti di tempat sampah atau berakhir jadi abu pembakaran. Di tangan warga, sampah justru menempuh perjalanan panjang—dari dapur rumah hingga menjadi bahan bakar alternatif di industri semen.

Setiap pekan, warga berdatangan membawa karung berisi sampah yang telah mereka pilah dari rumah. Di fasilitas waste station desa, sampah-sampah itu ditimbang, dipilah ulang, lalu ditukar dengan kebutuhan rumah tangga seperti sabun dan pembersih.

Salah satunya Een Rohaeni (70). Perempuan lansia itu tampak sumringah usai menimbang sampah yang ia kumpulkan selama dua bulan terakhir.

“Dapat 10,7 kilo. Sampahnya plastik, bekas sabun, sama plastik hitam,” ujar Een, Kamis (30/4/2026).

Dari sampah yang dikumpulkan itu, ia tak membawa pulang uang, melainkan sabun dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Meski nilainya tak besar, ia mengaku cukup terbantu.

“Dapat sabun, macam-macam. Senang sekali, buat dipakai sehari-hari,” katanya.
Dulu, cara paling praktis bagi warga untuk mengelola sampah adalah dengan membakarnya. “Dulu mah dibakar,” ucapnya singkat.

Kini, kebiasaan itu mulai berubah. Sampah justru dikumpulkan dan dipilah dari rumah, lalu dibawa ke waste station untuk ditukar.
Hal serupa dilakukan Hayati (60). Ia mengumpulkan sampah selama satu bulan hingga mencapai lebih dari 11 kilogram dari tiga karung.

“Ibu satu bulan dari bulan belakang sampai sekarang tanggal 30 yang dikumpulkan tiga karung, banyaknya sebelas kilo lebih. Yang ibu kumpulkan plastik, kertas, kardus dan sampah lainnya,” kata Hayati.

Dari hasil itu, ia menukarkannya dengan kebutuhan rumah tangga seperti sabun cuci piring dan pewangi lantai.

Perubahan perilaku ini tak terjadi begitu saja. Kepala Desa Kebonmanggu, Rasnita Diharja, menyebut kesadaran warga mulai tumbuh seiring hadirnya sistem pengelolaan sampah yang lebih terorganisir.

“Di jalur jalan raya, pengumpulan sampah sudah dikoordinir oleh tukang rongsokan. Warga biasanya memberi insentif sekitar Rp20 ribu per bulan,” kata Rasnita.

Sementara di wilayah pedalaman, sebelumnya warga masih banyak yang membakar sampah atau menampungnya secara mandiri sebelum diangkut ke desa.

“Kalau sekarang ini sudah terkoordinir.
Masyarakat sudah sadar melalui RT, RW, dan kadus. Bahkan ada yang operasionalnya pakai motor untuk angkut sampah,” ujarnya.

Dari sekitar 2.000 kepala keluarga atau 5.800 jiwa di Desa Kebonmanggu, hampir separuhnya kini telah terbiasa memilah sampah dari rumah.

“Sekarang hampir 1.000 keluarga sudah sadar menampung sampah plastik,” ungkapnya.

Dari Dapur ke Industri — Perjalanan Baru Sampah Warga Desa di Sukabumi (foto : RAF)

Menurutnya, program waste station menjadi titik balik dalam mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah.

“Saya bersyukur sekali program ini bisa menyadarkan masyarakat. Dulu sampah itu seperti simalakama, sekarang sudah ada penanganannya,” katanya.

Namun, nilai utama dari program ini bukan hanya pada penukaran kebutuhan rumah tangga. Sampah non-organik yang terkumpul memiliki peran lebih besar dalam rantai pengolahan lanjutan.

General Manager of Administration PT Semen Jawa, Indra Leksono, menjelaskan bahwa program ini mendorong kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah.

“Intinya kita ingin berkolaborasi dengan warga dan pemerintah desa untuk mulai memilah sampah. Karena kita tahu kapasitas TPA sudah over capacity,” kata Indra.

Di fasilitas tersebut, sampah dipisahkan menjadi organik dan non-organik. Sampah organik diolah menjadi kompos, sementara non-organik memiliki nilai tukar bagi warga.
“Tidak gratis, tapi bisa ditukarkan dengan kebutuhan rumah tangga,” ujarnya.

Lebih jauh, sampah non-organik itu tidak berhenti di waste station. Sampah kemudian dikirim ke pabrik semen untuk diolah menjadi bahan bakar alternatif.

“Dikirimkan ke Semen Jawa sebagai bahan bakar alternatif untuk menggantikan batu bara,” tutur Indra.

Di pabrik, sampah dicacah lalu dicampur dengan biomassa sebelum masuk ke proses pembakaran utama.

“Masuk ke proses kiln, jadi bahan bakar dan tercampur dalam proses produksi semen,” jelasnya.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya industri mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

“Hari ini kita sudah bisa mencapai kurang lebih 30 persen penggantian bahan bakar fosil,” katanya.

Selain memberi manfaat ekonomi bagi warga, program ini juga membantu mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang selama ini mengalami kelebihan kapasitas.

“Dari kapasitas awal 180 ton per hari, sekarang sudah hampir 300 ton per hari,” ujar Indra.

Sejak berjalan pada 2022, lima desa yang terlibat telah menyumbang sekitar 11 ton sampah non-organik.

“Target pemerintah 2060, kalau kami di 2050 sudah harus net zero. Makanya kita cicil dari sekarang,” tegasnya.

Bagi warga Desa Kebonmanggu, sampah kini bukan lagi sekadar limbah. Ia menjadi bagian dari siklus baru—menghubungkan kebutuhan rumah tangga, kesadaran lingkungan, hingga kontribusi nyata dalam pengurangan emisi.

Dari dapur sederhana hingga tungku industri, perjalanan sampah itu kini membawa dampak yang jauh lebih luas.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.