Oleh: Dede Heri/ Sekretaris Jenderal Rumah Literasi Merah Putih
Wartain.com – Penetapan 31 desa/kampung wisata oleh Pemerintah Kabupaten Sukabumi melalui Dinas Pariwisata di kawasan wisata Karang Para, Desa Kebonmanggu, Kecamatan Gunungguruh, pada 13 Mei 2026, patut diapresiasi sebagai langkah awal dalam membangun sektor pariwisata daerah.
Kebijakan tersebut menunjukkan adanya upaya pemerintah daerah untuk menjadikan pariwisata sebagai salah satu sumber peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), terlebih Kabupaten Sukabumi kembali mendapatkan perpanjangan status UNESCO Global Geopark Ciletuh. Status internasional itu tentu bukan sekadar simbol prestise, melainkan amanah besar untuk menjaga, merawat, dan mengembangkan potensi alam serta budaya yang dimiliki Sukabumi.
Namun pertanyaannya, sejauh mana keseriusan itu benar-benar diwujudkan di lapangan?
Pengembangan wisata tidak cukup hanya dengan seremoni, peluncuran program, pemasangan baliho, atau kegiatan formal yang menghabiskan anggaran tanpa dampak nyata terhadap kualitas destinasi wisata itu sendiri. Pariwisata membutuhkan kerja konkret, perawatan berkelanjutan, penataan kawasan, infrastruktur yang memadai, serta keberpihakan terhadap kelestarian lingkungan.
Realita di lapangan justru menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Saat mengunjungi kawasan wisata Karang Para beberapa waktu lalu, kondisi lokasi terlihat kurang terawat, dipenuhi ilalang, dan minim penataan. Padahal kawasan tersebut memiliki panorama alam yang luar biasa dan berpotensi menjadi salah satu ikon wisata unggulan Kabupaten Sukabumi.
Ironisnya, di tengah semangat pengembangan wisata, aktivitas pertambangan terlihat begitu dekat dengan kawasan wisata. Bukit-bukit yang seharusnya menjadi daya tarik alam perlahan mengalami pengikisan. Pemandangan indah yang mestinya dijaga untuk generasi mendatang justru terancam rusak akibat lemahnya konsistensi dalam penataan ruang.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar mengenai arah pembangunan daerah. Apakah pemerintah benar-benar ingin menjadikan pariwisata sebagai sektor unggulan, atau hanya sebatas program administratif untuk memenuhi target kegiatan tahunan?
Jika sektor wisata ingin dijadikan tulang punggung ekonomi daerah, maka pembangunan harus dilakukan secara serius dan berkelanjutan. Pemerintah tidak boleh hanya fokus pada agenda seremonial yang bersifat simbolis, sementara kondisi destinasi wisata di lapangan terbengkalai.
Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi harus mampu membuktikan bahwa program desa wisata bukan sekadar proyek pencitraan. Sebab masyarakat hari ini tidak hanya melihat banyaknya acara yang digelar, tetapi juga melihat hasil nyata dari kebijakan tersebut.
Pengembangan wisata membutuhkan konsep yang matang dan keberanian mengambil sikap tegas terhadap aktivitas yang berpotensi merusak lingkungan. Jangan sampai pariwisata dan pertambangan berjalan di kawasan yang sama tanpa pengawasan yang jelas. Sebab jika alam rusak, maka identitas wisata Sukabumi perlahan akan hilang.
Selain itu, transparansi penggunaan anggaran juga menjadi hal penting. Publik berhak mengetahui sejauh mana efektivitas anggaran pariwisata yang selama ini digelontorkan pemerintah daerah. Jangan sampai anggaran besar habis untuk kegiatan seremonial, sementara pengelolaan destinasi wisata tetap minim perhatian.
Kabupaten Sukabumi memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Dari pegunungan, pantai, geopark, hingga desa-desa dengan potensi budaya yang kuat. Semua itu bisa menjadi kekuatan ekonomi daerah jika dikelola dengan sungguh-sungguh dan berpihak pada keberlanjutan lingkungan.
Momentum status UNESCO Global Geopark Ciletuh seharusnya menjadi titik kebangkitan pariwisata Sukabumi, bukan sekadar slogan yang dibanggakan dalam pidato-pidato resmi. Pemerintah daerah harus hadir dengan kebijakan yang nyata, terukur, dan berdampak langsung terhadap kualitas destinasi wisata serta kesejahteraan masyarakat sekitar.
Karena pada akhirnya, wisata bukan hanya soal promosi dan seremoni. Wisata adalah tentang komitmen menjaga alam, merawat identitas daerah, dan memastikan generasi mendatang masih bisa menikmati keindahan Sukabumi yang sesungguhnya.***
Editor : Aab Abdul Malik
(DH)
