Oleh: Kang Dzikri Nur/Pengamat Sosial KeagamaanÂ
Wartain.com – Perkembangan neurosains dalam beberapa dekade terakhir telah mengubah cara manusia memahami dirinya sendiri. Jika dahulu perilaku manusia banyak dijelaskan melalui filsafat, agama, atau psikologi, kini ilmu saraf berusaha menelusuri akar seluruh pengalaman manusia hingga ke aktivitas miliaran neuron di dalam otak.
Di Indonesia, salah satu tokoh yang aktif memperkenalkan perspektif ini kepada publik adalah Ryu Hasan. Melalui berbagai diskusi, wawancara, dan kanal edukasi, ia mengajak masyarakat melihat manusia sebagai produk evolusi biologis yang sangat kompleks. Pandangannya sering kali provokatif karena menantang banyak asumsi yang selama ini dianggap mapan.
Kesadaran: Produk Evolusi atau Realitas Fundamental?
Salah satu gagasan yang sering dikemukakan dr. Ryu Hasan adalah bahwa kesadaran bukanlah sesuatu yang turun dari langit secara terpisah dari tubuh, melainkan hasil proses evolusi biologis yang berlangsung selama jutaan tahun.
Dalam perspektif neurosains, kesadaran muncul dari aktivitas jaringan saraf yang sangat kompleks. Pikiran, emosi, kehendak, bahkan identitas diri dipandang sebagai hasil kerja otak yang terus-menerus memproses informasi dari lingkungan.
Pandangan ini menimbulkan pertanyaan besar:
Apakah manusia hanyalah mesin biologis yang sangat rumit?
Apakah kehendak bebas benar-benar ada?
Jika kesadaran lahir dari otak, apakah ia akan lenyap ketika otak berhenti bekerja?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut hingga hari ini masih menjadi perdebatan besar antara neurosains, filsafat, dan agama.
Otak dan Perilaku Sosial
Neurosains menunjukkan bahwa perilaku sosial manusia tidak muncul secara kebetulan. Evolusi membentuk otak manusia agar mampu:
bekerja sama,
membangun kelompok,
mengenali kawan dan lawan,
menciptakan norma,
serta mengembangkan moralitas.
Dengan kata lain, rasa keadilan, empati, dan solidaritas memiliki dasar biologis yang kuat. Kelompok yang mampu bekerja sama cenderung bertahan hidup lebih baik dibanding kelompok yang penuh konflik.
Namun pada saat yang sama, evolusi juga mewariskan kecenderungan lain:
egoisme,
dominasi,
perebutan sumber daya,
dan konflik antarkelompok.
Karena itu, sejarah manusia selalu bergerak di antara dua kutub: kerja sama dan persaingan.
Neurosains Melihat Kedzaliman dan Ketidakadilan
Dari sudut pandang neurosains, kedzaliman tidak dipahami sebagai kategori metafisik, melainkan sebagai perilaku yang muncul dari interaksi berbagai faktor:
Struktur biologis otak.
Lingkungan sosial.
Pendidikan.
Pengalaman hidup.
Sistem politik dan ekonomi.
Kekuasaan yang terlalu besar, misalnya, dapat memengaruhi cara seseorang memandang orang lain. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kekuasaan sering menurunkan sensitivitas terhadap penderitaan pihak lain dan meningkatkan kecenderungan untuk membenarkan tindakan sendiri.
Karena itu, neurosains tidak hanya bertanya:
“Siapa yang salah?”
Tetapi juga:
“Kondisi biologis dan sosial apa yang memungkinkan kesalahan itu terjadi?”
Dialog dengan Perspektif Tauhid
Bagi sebagian kalangan, termasuk para pencari Ma’rifatullah, penjelasan neurosains belum tentu menjawab seluruh dimensi kemanusiaan.
Neurosains mampu menjelaskan:
bagaimana otak bekerja,
bagaimana emosi muncul,
bagaimana keputusan dibuat.
Namun pertanyaan yang lebih mendasar tetap terbuka:
Mengapa kesadaran ada?
Apa makna hidup?
Mengapa manusia mencari kebenaran?
Dari mana asal pengalaman spiritual yang mendalam?
Dalam paradigma tauhid, otak dapat dipahami sebagai instrumen, sedangkan kesadaran terdalam manusia berhubungan dengan ruh dan fitrah yang berasal dari Allah.
Dengan demikian, neurosains dan spiritualitas tidak harus selalu dipertentangkan. Neurosains menjelaskan mekanisme, sedangkan agama dan filsafat berusaha menjelaskan makna.
Penutup
Kajian-kajian yang disampaikan oleh dr. Ryu Hasan penting untuk memperluas literasi ilmiah masyarakat Indonesia. Ia mengingatkan bahwa manusia adalah bagian dari alam biologis yang tunduk pada hukum-hukum evolusi dan kerja otak.
Namun pada saat yang sama, pertanyaan tentang makna, nilai, keadilan, dan tujuan hidup tetap menjadi wilayah yang melampaui penjelasan biologis semata.
Mungkin di titik inilah dialog antara neurosains, filsafat, dan spiritualitas menjadi penting. Sebab manusia bukan hanya makhluk yang berpikir, tetapi juga makhluk yang bertanya tentang makna keberadaannya.
Neurosains membantu kita memahami bagaimana manusia berpikir. Tauhid mengajak manusia memahami untuk apa ia berpikir. Di antara keduanya terbentang ruang dialog yang masih terus menunggu untuk dijelajahi.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
