26.7 C
Jakarta
Minggu, Juni 28, 2026

Latest Posts

Kisah Abah Sarnuh, Petani Lansia di Sukabumi yang Mandiri Listrik Berkat Kincir Air

Wartaincom – Di balik lebatnya kawasan Kontrak Pasidatar, Desa Sukamulya, Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi, hidup seorang petani lanjut usia yang mampu membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk mandiri. Berbekal kreativitas dan ketekunan, Abah Sarnuh (80) berhasil menghadirkan listrik secara swadaya dengan memanfaatkan aliran sungai di sekitar tempat tinggalnya.

Sejak menetap di kawasan tersebut pada 1998, Abah Sarnuh belum pernah menikmati aliran listrik dari jaringan PLN. Kondisi itu mendorongnya mencari solusi agar rumahnya tetap mendapat penerangan. Pilihannya jatuh pada pembangkit listrik tenaga air sederhana yang dibuat sendiri menggunakan kincir air, dinamo, dan kumparan.

Hingga kini, pembangkit listrik rakitannya masih berfungsi dengan baik. Energi yang dihasilkan mampu menerangi dua rumah dan sebuah mushala setiap malam tanpa harus membayar biaya listrik bulanan.

“Prinsipnya dinamo digerakkan kincir oleh air, gesekannya di dalam oleh kumparan, langsung menghasilkan tenaga listrik yang dialirkan ke rumah. Di sini mah listrik dipakai kalau malam saja dan bisa diatur besar kecil volumenya,” ujar Abah Sarnuh, Minggu (28/6/2026).

Abah Sarnuh mengisahkan, pada awal tinggal di kawasan tersebut ia hanya mengandalkan lampu petromaks berbahan bakar minyak tanah sebagai sumber penerangan. Namun ketika minyak tanah mulai sulit diperoleh sekitar tahun 2007, ia mulai memikirkan alternatif lain.

Saat itu sebenarnya ia sempat mendapat kesempatan memasang sambungan listrik PLN. Namun, karena lokasi rumahnya berada jauh dari jaringan utama, ia diwajibkan menyediakan sendiri sekitar 32 rol kabel dengan biaya mencapai Rp3,2 juta. Nominal tersebut dianggap terlalu besar bagi seorang petani, terlebih kabel yang dipasang melewati kawasan hutan berpotensi mengalami kerusakan dan membutuhkan biaya perawatan tambahan.

Alih-alih digunakan untuk memasang jaringan listrik, uang yang telah disiapkan justru dibelanjakan untuk membeli dinamo dan berbagai komponen pembangkit di Kota Sukabumi. Dari peralatan itulah lahir kincir air yang hingga kini menjadi sumber listrik utama bagi keluarganya.

Kisah Abah Sarnuh, Petani Lansia di Sukabumi yang Mandiri Listrik Berkat Kincir Air (Foto : Azi)

“Saya kan bukan orang bergaji. Kalau pakai diesel juga harus beli solar atau bensin. Akhirnya uang Rp3,2 juta itu saya pakai membeli dinamo dan alat lainnya. Alhamdulillah sampai sekarang tidak mengeluarkan biaya listrik lagi,” tuturnya.

Selama hampir dua dekade memanfaatkan pembangkit tersebut, Abah Sarnuh mengaku jarang mengalami gangguan, bahkan ketika musim kemarau. Justru saat musim hujan, debit air yang meningkat sering menyebabkan bendungan kecil dan saluran air rusak akibat diterjang banjir sehingga harus diperbaiki secara berkala.

Perjalanan hidup Abah Sarnuh di kawasan Pasidatar juga menyimpan kisah panjang perjuangan menggarap lahan. Berasal dari Desa Cikahuripan, Kecamatan Kadudampit, ia memutuskan membuka kawasan yang saat itu masih berupa hutan lebat dan dikenal warga sebagai habitat macan.

Pada masa pascareformasi, kawasan tersebut ramai digarap masyarakat setelah adanya kebijakan yang mendorong pemanfaatan tanah terlantar. Ratusan warga membuka lahan pertanian untuk meningkatkan taraf hidup. Namun seiring berjalannya waktu, sebagian besar lahan kembali dikuasai perusahaan pemegang Hak Guna Usaha (HGU), sehingga para penggarap harus berpindah.

“Dulu tanah terlantar ini digeruduk masyarakat karena ada instruksi harus dikelola. Tapi sekarang sebagian diambil lagi oleh perusahaan pemegang HGU. Dari lebih 500 orang yang menggarap, kami akhirnya bergeser. Lahan saya sekarang tinggal sekitar 45 are,” ungkapnya.

Di lahan yang tersisa itulah Abah Sarnuh bersama istrinya bertahan hidup dengan membudidayakan berbagai tanaman hortikultura, seperti wortel dan pisang. Jika dahulu hasil panen harus dipikul berjalan kaki menuju perkampungan, kini para pengepul justru datang langsung ke kebunnya menggunakan sepeda motor yang telah dimodifikasi agar mampu melintasi jalur berbatu dan menanjak.

Bagi masyarakat yang ingin berkunjung ke kediaman Abah Sarnuh, perjalanan dapat ditempuh dengan berjalan kaki sekitar satu jam dari area parkir objek wisata Vila Kaca Pasir Datar. Jalur menuju lokasi didominasi tanjakan dan jalan berbatu sehingga belum dapat dilalui kendaraan biasa.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.