Wartain.com – Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Jabar kembali menggelar Pemilihan Pemuda Pelopor Tahun 2026. Program ini merupakan seleksi berjenjang dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) bersama Dispora daerah untuk mencari inovator muda yang memberi dampak nyata di masyarakat.
Cakupannya luas. Ada 5 bidang yang dilombakan, yaitu: Pendidikan, Pangan, Inovasi Teknologi, Seni Budaya, dan Pengelolaan SDA serta Pariwisata. Tujuannya satu: menemukan pemuda yang mampu menghadirkan solusi kreatif terhadap persoalan sosial di daerahnya.
Dari Kabupaten Sukabumi, nama Anwar Syapei, S.Pd, menjadi salah satu perwakilan yang berhasil melaju jauh. Pria kelahiran Sukabumi, 16 Juni 1997, (29) tahun itu tampil di Bidang Kepeloporan Pendidikan dengan membawa sebuah gagasan sederhana namun berdampak besar.
Gagasannya bernama SADIS – “Sakola Dibayar Sampah”. Sebuah model pendidikan TK gratis yang “membayarnya” bukan dengan uang, melainkan dengan sampah yang dikumpulkan orang tua murid.
“Motivasi saya ikut lomba ini adalah ingin menjadi pemuda yang terus berdampak dan menghadirkan manfaat untuk masyarakat,” kata Anwar dalam keterangannya yang diterima Wartain.com, Sabtu 25/07/2026.
“Salah satunya dengan menghadirkan pendidikan TK gratis berkualitas, sebagai solusi bagi warga yang terkendala biaya pendidikan yang semakin mahal.”
Persaingan pemuda pelopor tingkat Jawa Barat di bidang pendidikan tidak main-main. Sekitar 15 peserta dari 15 kabupaten/kota se-Jawa Barat ikut dalam kategori yang sama. Mereka semua membawa program unggulan di daerah masing-masing.
Anwar harus melewati beberapa tahap. Setelah seleksi administrasi dan wawancara, ia berhasil masuk 5 besar tingkat provinsi. Itu artinya karyanya dianggap layak untuk dinilai langsung di lapangan oleh tim juri.
Tepatnya pada Tanggal 25 Juni 2026, momen visitasi pun tiba. Tim juri dari Provinsi Jawa Barat bersama Dispora Kabupaten Sukabumi dan Forkopimcam Kecamatan Simpenan datang langsung ke TK KUTTAB AL-FATIH Simpenan, tempat Anwar mengimplementasikan program SADIS.
Di hadapan dewan juri, Anwar mendapat “ujian” sekitar 15 pertanyaan. Mulai dari konsep, mekanisme pengelolaan sampah, dampak ke masyarakat, hingga keberlanjutan program. Ia menjawab satu per satu dengan data dan bukti kegiatan di lapangan.
Konsep yang Ia bawakan adalah, “Implementasi Konsep Sakola Dibayar Sampah (SADIS) Sebagai solusi hadirkan sekolah gratis berkualitas dalam rangka mendukung program Pemerintah Wajib Belajar Satu Tahun Pra Sekolah”.

Alhamdulillah, presentasi dan bukti nyata yang ditunjukkan meyakinkan juri. Para orang tua dan anak-anak TK juga dilibatkan saat visitasi, sehingga juri bisa melihat langsung bagaimana program itu berjalan.
Penantian panjang terbayar, pada 24 Juli 2026. Melalui informasi dari Kabid Dispora Kabupaten Sukabumi dan Surat Keputusan resmi, Anwar Syapei mendapat kabar membanggakan: ia meraih Juara 2 Pemuda Pelopor Bidang Pendidikan tingkat Provinsi Jawa Barat 2026.
“Jujur saya tidak menyangka. Rasanya haru. Banyak keluarga dan teman yang langsung memberi ucapan selamat. Ini bukan kemenangan saya pribadi, tapi kemenangan bersama masyarakat Simpenan,” ungkapnya.
Inti dari Konsep SADIS memang menyentuh persoalan dasar: akses pendidikan. Melalui program ini, orang tua tidak perlu mengeluarkan uang tunai untuk biaya sekolah. Cukup mengumpulkan sampah anorganik dari rumah, lalu disetorkan ke sekolah sebagai “uang sekolah”.
Sampah yang terkumpul kemudian dikelola dan dijual ke pengepul. Hasilnya digunakan untuk operasional TK: membeli alat belajar, membayar honor guru, hingga perbaikan sarana. Anak tetap dapat pendidikan berkualitas, orang tua tidak terbebani biaya.
Selain meringankan ekonomi, program ini juga menanamkan dua nilai penting sejak dini: cinta lingkungan dan budaya menabung. Anak-anak belajar memilah sampah, sementara orang tua belajar bahwa sampah punya nilai ekonomi.
Program SADIS juga selaras dengan program pemerintah Wajib Belajar Satu Tahun Pra Sekolah. Di banyak wilayah, kendala terbesar bukan pada kemauan, tapi pada biaya. SADIS menjawab itu dengan cara yang kreatif dan berkelanjutan.
Menurut Anwar, tantangan terbesar setelah diakui bukan soal penghargaan, tapi bagaimana menjaga konsistensi. “Sekolah harus terus berinovasi agar anak-anak dan orang tua tidak bosan. Menunya harus beragam, kegiatannya harus menarik,” ujarnya.
Ia berharap prestasi ini bisa menjadi pemantik. Ke depan, konsep SADIS ingin ia kembangkan ke TK-TK lain di Sukabumi, bahkan di luar Sukabumi. “Kalau satu TK bisa jalan, kenapa tidak 10, 20, atau 100 TK lainnya? Pendidikan gratis itu hak, bukan privilege,” tegasnya.
Dispora Jabar mengapresiasi karya Anwar. Pemilihan Pemuda Pelopor memang ditujukan untuk menemukan figur seperti ini: muda, berani mencoba, dan mau turun langsung menyelesaikan masalah.
Dengan raihan Juara 2 ini, Anwar Syapei tidak hanya membawa nama baik Sukabumi. Ia juga membuktikan bahwa inovasi sederhana dari desa bisa naik ke level provinsi dan memberi inspirasi bagi pemuda lain di Jawa Barat.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
Data Diri
Nama Lengkap: Anwar Syapei
Tempat, Tanggal Lahir: Sukabumi, 16 Juni 1997 (29 Tahun)
Pekerjaan Sekarang: Guru di TK Kuttab Alfatih Simpenan, Kabupaten Sukabumi
Riwayat Pendidikan
-
SDN Babakan Astana – Lulus 2010
-
SMPN 1 Simpenan – Lulus 2013
-
SMK Doa Bangsa Palabuhanratu – Lulus 2016
-
Universitas Ibnu Chaldun Jakarta – S1 PAI, Lulus 2021
-
Universitas Islam Jakarta – S2 PAI, Masih Studi
Riwayat Organisasi
1. Ketua Forum Kreativitas Pelajar Palabuhanratu (2015)
2. Pengurus OSIS SMK Doa Bangsa (2015)
3. Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat STAI Palabuhanratu (2017)
4. Pengurus BEM STAI Palabuhanratu (2017)
5. Komandan Resimen Mahasiswa Satuan UIC Jakarta (2018)
-
Pengurus Pemuda Dewan Dakwah DKI Jakarta (2019)
-
Pengurus Karang Taruna Kabupaten Sukabumi (2021-2026)
-
Ketua IPSM Kecamatan Simpenan (2024-sekarang)
-
Ketua Forum Komunikasi Guru PAI Taman Kanak-kanak Kabupaten Sukabumi (2025-sekarang)
-
Pengurus MD KAHMI Sukabumi (2025-sekarang).
