Oleh: Kang Dzikri Nur/ Pengamat Sosial KeagamaanÂ
Wartain.com – Di tengah menguatnya arus spiritualitas modern, muncul kecenderungan untuk memisahkan Tuhan dari agama. Tuhan dipahami sebagai realitas universal yang dapat dijangkau melalui pengalaman batin semata, sedangkan agama dianggap hanya sebagai produk budaya atau instrumen sosial yang berfungsi membantu manusia menemukan makna hidup. Pandangan seperti ini tampak menarik karena menawarkan sikap yang inklusif dan menekankan pengalaman spiritual personal. Namun, dari perspektif filsafat Islam, terdapat persoalan epistemologis dan ontologis yang mendasar ketika agama direduksi hanya sebagai hasil konstruksi manusia.
Islam mengakui bahwa Allah Swt. adalah Tuhan Yang Maha Awal (Al-Awwal) dan Maha Akhir (Al-Akhir), sehingga keberadaan-Nya sama sekali tidak bergantung pada agama maupun manusia. Akan tetapi, pengakuan terhadap keazalian Tuhan tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa agama adalah ciptaan manusia. Al-Qur’an secara tegas menyatakan, “Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam” (QS. Ali ‘Imran: 19), dan “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu…” (QS. Al-Ma’idah: 3). Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa agama wahyu berasal dari Allah, sedangkan yang merupakan hasil kreasi manusia adalah tradisi, institusi, budaya, serta berbagai bentuk penafsiran keagamaan.
Secara filosofis, kekeliruan tersebut muncul karena mencampuradukkan antara agama sebagai wahyu (ad-din) dengan praktik keberagamaan manusia. Dalam logika, kesalahan ini dikenal sebagai equivocation fallacy, yaitu penggunaan satu istilah dengan dua makna yang berbeda sehingga menghasilkan kesimpulan yang keliru. Kritik terhadap penyalahgunaan institusi agama memang sah dan bahkan menjadi bagian dari tradisi pembaruan Islam. Namun kritik terhadap institusi tidak identik dengan penolakan terhadap asal-usul ilahiah agama itu sendiri.
Persoalan berikutnya adalah anggapan bahwa agama hanyalah alat menuju Tuhan. Dalam filsafat Islam, agama memang berfungsi sebagai jalan (shirath), tetapi jalan tersebut berasal dari petunjuk Allah, bukan hasil rekayasa akal manusia. Al-Ghazali menjelaskan bahwa akal membutuhkan cahaya wahyu agar tidak tersesat oleh keterbatasannya sendiri. Senada dengan itu, Ibnu Arabi menegaskan bahwa hakikat (haqiqah) tidak pernah bertentangan dengan syariat. Oleh sebab itu, pengalaman spiritual yang mengabaikan wahyu berpotensi menjadikan pengalaman subjektif sebagai ukuran tunggal kebenaran.
Konsep present moment atau kesadaran saat ini juga memerlukan penempatan yang proporsional. Islam mengajarkan kehadiran batin melalui dzikir, muraqabah, dan ihsan. Namun kesadaran tersebut selalu berorientasi kepada Allah, bukan sekadar pengamatan psikologis terhadap pikiran. Demikian pula, muhasabah dalam Islam tidak berhenti pada observasi tanpa penilaian, tetapi dilanjutkan dengan evaluasi moral berdasarkan wahyu sehingga manusia mampu membedakan antara yang hak dan yang batil.
Pandangan yang memaknai surga dan neraka hanya sebagai sistem reward and punishment juga belum mencerminkan kedalaman filsafat Islam. Mulla Shadra menjelaskan bahwa surga dan neraka merupakan konsekuensi eksistensial dari kualitas jiwa manusia. Keduanya bukan sekadar hadiah dan hukuman, melainkan manifestasi kedekatan atau keterpisahan manusia dari Cahaya Ilahi yang dibentuk oleh pilihan hidupnya.
Pada akhirnya, perbedaan paling mendasar terletak pada sumber pengetahuan tentang Tuhan.
Spiritualitas modern cenderung menempatkan pengalaman batin sebagai otoritas utama, sedangkan filsafat Islam memadukan akal, pengalaman ruhani, dan wahyu dalam satu kesatuan epistemologis. Ketiganya tidak dipertentangkan, melainkan saling menyempurnakan. Dengan demikian, agama tidak sekadar menjadi alat menuju Tuhan, tetapi merupakan manifestasi petunjuk-Nya agar manusia mengenal, mengabdi, dan mencapai ma’rifat kepada-Nya secara benar.
Inilah fondasi tauhid yang menjaga keseimbangan antara kebebasan berpikir, kedalaman spiritual, dan otoritas wahyu sebagai cahaya yang membimbing perjalanan manusia menuju Allah Swt.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
