Wartain.com – Di tangan sebagian orang, golok hanyalah alat atau senjata. Namun berbeda dengan Bedog Kala Petok. Warisan budaya asal Sukabumi yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia ini bukan sekadar sebilah besi tajam, melainkan menyimpan sejarah panjang, filosofi kehidupan, hingga tata cara pembuatan yang penuh makna.
Pendiri Museum Prabu Siliwangi, Fajar Laksana, mengatakan Bedog Kala Petok merupakan warisan keluarganya yang memiliki garis keturunan hingga Kesultanan Banten. Pusaka tersebut dibawa ke Sukabumi sekitar tahun 1930-an bersamaan dengan penyebaran ilmu bela diri.
“Bedog Kala Petok ini warisan dari ayah saya, Raden Haji Adang Sabini, yang diwariskan dari kakeknya, Raden Sumawinata. Nah, itu dibawa ke Sukabumi sebetulnya ke Cikembang, Kabupaten, sekaligus dengan pelajaran ilmu bela diri tahun 1930-an,” ujar Fajar.
Ia menjelaskan, nama Bedog Kala Petok memiliki makna yang dalam. Bedog berarti senjata, kala berarti waktu yang diatur dengan ilmu, sedangkan petok berarti dekat.
“‘Bedog’ itu senjata, ‘kala’ itu waktu yang diatur oleh ilmu, ‘petok’ itu dekat. Jadi ini senjata untuk mendekatkan diri kepada Allah,” katanya.
Filosofi tersebut tercermin dalam setiap jurus permainan Bedog Kala Petok. Berbeda dengan seni memainkan golok pada umumnya, gerakan Bedog Kala Petok justru dipadukan dengan zikir.
“Jurusnya bukan untuk membunuh orang lain, tapi membelah dada kita. Laa… Ilaaha… Illallah… dimasukkan ke dalam jantung,” ungkapnya.
Keunikan lainnya terlihat pada rajahan Asmaul Husna yang terdapat di dekat gagang bedog. Seni permainannya memiliki 21 jurus yang memadukan sabetan, tarikan, tusukan, hingga gorokan dengan zikir, baik secara lisan maupun di dalam hati.
Menurut Fajar, pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda tidak diperoleh dengan mudah. Bedog Kala Petok harus melalui penelitian sejarah, penyusunan jurnal ilmiah, kajian peneliti independen, hingga sidang di tingkat kota, provinsi, dan nasional.
“Untuk bisa jadi Warisan Budaya Takbenda itu tidak mudah. Itu harus diteliti sejarahnya, disidangkan, diperiksa, harus sudah ada jurnalnya, harus ada orang independen meneliti,” ujarnya.
Sementara itu, penanggung jawab produksi sekaligus Empu Mutugeni, Yusuf Supandi, menjelaskan pembuatan Bedog Kala Petok pusaka sangat berbeda dengan golok biasa. Seluruh proses dilakukan dengan aturan adat dan spiritual yang ketat.
“Kalau pembuatan golok pusaka, kita dari mulai proses pengambilan besi mentah, ada pencucian, terus dibakar, ditempa, disepuh, baru diukir. Setelah diukir diserahkan ke Pak Kiai, jadilah golok pusaka. Dan itu semuanya dari awal sambil berpuasa,” jelas Yusuf.

Ia mengatakan proses tersebut diawali dengan membersihkan besi mentah sambil membaca selawat dan zikir. Berbeda dengan golok biasa yang bisa diproduksi lima hingga sepuluh bilah dalam sehari, satu Bedog Kala Petok pusaka membutuhkan waktu paling cepat tiga hari tiga malam.
Pembuatan pusaka juga tidak dapat dilakukan setiap saat. Menurut Yusuf, proses penempaan hanya dilakukan pada bulan Mulud dengan waktu-waktu tertentu, seperti hari Senin dan Kamis yang disertai puasa sunah, atau pada tanggal 12, 13, dan 14 bulan purnama.
“Jadi tidak serta-merta tiap hari bisa dibikin. Dalam satu tahun itu hanya di bulan Mulud saja pembuatannya,” katanya.
Meski demikian, Yusuf menegaskan para empu hanya bertugas menempa dan membentuk bilah golok. Setelah selesai diukir, pusaka tersebut diserahkan kepada kiai atau maestro untuk melalui tahapan akhir.
“Yang menjadikan pusaka itu bukan kami. Kami hanya menempa saja. Setelah diukir, diserahkan ke Pak Kiai, ke Sang Maestro, di situ baru jadi pusaka,” ujarnya.
Tak hanya proses pembuatannya, bahan yang digunakan pun berbeda. Untuk golok pusaka digunakan baja khusus, sedangkan proses penyepuhan memakai air kelapa muda, bukan air garam seperti anggapan banyak orang.
“Kalau untuk sepuhan, kita pakainya air kelapa muda supaya ketajamannya bertahan lama dan bajanya lebih keras,” jelas Yusuf.
Ia juga mengungkapkan arang batok kelapa dipilih sebagai bahan bakar utama karena menghasilkan panas yang stabil saat proses penempaan.
Dalam penggunaannya, Bedog Kala Petok memiliki 21 gerakan dasar. Cara memegang goloknya pun berbeda dengan golok pada umumnya. Adapun bedog pusaka tidak diperuntukkan sebagai senjata, melainkan menjadi simbol pegangan hidup dan warisan budaya.
“Karena pusaka itu sejatinya bukan untuk berperang, bukan untuk membacok. Itu hanya untuk pegangan saja,” katanya.
Pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia membawa dampak besar terhadap pelestarian sekaligus nilai ekonominya. Jika sebelumnya harga Bedog Kala Petok hanya berkisar Rp200 ribu hingga Rp250 ribu, kini nilainya meningkat menjadi Rp6 juta hingga Rp10 juta, bahkan ada yang mencapai Rp20 juta.
“Setelah diakui menjadi WBTbI, pesanan sangat luar biasa. Tapi untuk pusaka kami tidak bisa sembarangan membuatkannya karena harus benar-benar selektif. Kalau duplikasinya, siapa saja boleh memesan,” tutur Yusuf.
Bagi Fajar maupun Yusuf, nilai utama Bedog Kala Petok bukan terletak pada harga jualnya. Yang paling penting adalah menjaga warisan budaya, sejarah, dan filosofi yang telah diwariskan para leluhur agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang.***(RAF)
Editor : Aab Abdul Malik
