Wartain.com – Kreativitas warga menjelang perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia kembali menghadirkan suasana berbeda di Kota Sukabumi.
Di RT 01 RW 07, Kelurahan Karamat, Kecamatan Gunungpuyuh, warga menyulap lingkungan permukiman mereka menjadi sebuah kawasan bernuansa budaya Sunda yang diberi nama Kampung Golek.
Berbagai ornamen menghiasi kawasan tersebut. Mulai dari bambu, dekorasi berbahan limbah, lukisan tiga dimensi, hingga sejumlah tokoh wayang golek berukuran besar.
Ide untuk menghidupkan kembali semarak perayaan kemerdekaan di lingkungan tersebut awalnya muncul dari warga bernama Abi Mumuh. Gagasan itu kemudian disampaikan kepada Ketua RT setempat dan mendapat sambutan positif dari masyarakat.
Ketua RW 07, Unang Suwarna, mengatakan konsep tersebut dibuat untuk kembali membangkitkan antusiasme warga dalam menyambut Hari Kemerdekaan.
“Awalnya dari ide ini murni dari warga, terutama yang bernama Abi Mumuh itu yang pertama pencetus. Abi Mumuh punya ide kepada Pak RT, ini Pak RT-nya Pak Aji. Katanya, ‘Yuk kita bikin gini-gini, kita meriahkan lagi dari awal supaya antusias warga lebih baik lagi dan Hari Kemerdekaan lebih baik lagi,'” ujar Unang.
Pengerjaan Kampung Golek dilakukan secara bertahap sejak awal Juli 2026. Hingga kini, proses pengerjaan disebut telah mencapai sekitar 90 persen karena masih terdapat sejumlah ornamen yang akan dipasang.
“Dari awal 1 Juli sampai sekarang belum launching juga karena kita masih banyak ornamen-ornamen yang harus kita pasang. Ini baru 90 persen,” kata Unang.
Menariknya, kemeriahan Kampung Golek dibangun dengan semangat gotong royong. Warga secara swadaya mengumpulkan biaya sekaligus memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di sekitar lingkungan.
Unang mengatakan, bambu yang digunakan untuk sejumlah ornamen bahkan diperoleh dari lahan milik warga sekitar.
“Alhamdulillah kalau pembiayaan, bahan baku kita dari swadaya masyarakat. Terus alhamdulillah ya berkat Pak RT juga kekompakan warganya alhamdulillah sampai saat ini dana belum pernah ada dari yang lain, donatur yang lain, kecuali dari warga RT 01 RW 07,” ungkapnya.
Ia menambahkan, sejumlah material yang digunakan juga berasal dari bahan yang sebelumnya dianggap sebagai limbah dan kemudian dimanfaatkan kembali menjadi bagian dari dekorasi.

“Ini dari limbah-limbah yang kita gunakan. Seperti bambu-bambu ini kita ngambil dari bawah. Kebetulan pohon bambu tersebut punya warga, kita nego, kita ngobrol sama warga,” jelas Unang.
Konsep Kampung Golek sendiri terinspirasi dari budaya Sunda. Warga ingin menghadirkan suasana kampung yang tidak hanya meriah, tetapi juga memiliki ciri khas budaya lokal.
Menurut Unang, keberadaan wayang golek menjadi salah satu pembeda utama dari dekorasi yang mereka buat. Sejumlah tokoh pewayangan berukuran besar ditempatkan di kawasan tersebut.
“Filosofinya ini kita mengacu ke Sundaan. Awalnya dari kita punya dari Panglawungan yang di Bandung. Saya mengidekan dari situ, ngobrol sama Abi Mumuh, sama Pak RT, ‘Yuk kita juga bisa, masa sih enggak bisa.’ Nah alhamdulillah kita sudah mencapai,” tuturnya.
Salah satu daya tarik Kampung Golek adalah wayang berukuran sekitar 2,5 meter. Saat ini sudah terdapat figur Gatotkaca dan Bima, sementara beberapa tokoh lain seperti Semar, Gareng, dan Cepot masih dipersiapkan untuk melengkapi kawasan tersebut.
“Ini tinggi wayang sekitar 2,5 meter. Ini baru dua, ini Gatotkaca, yang satu lagi Bima,” kata Unang.
Antusiasme warga dan masyarakat dari luar lingkungan pun mulai terlihat. Tidak hanya warga sekitar, Kampung Golek juga menarik perhatian masyarakat dari sejumlah wilayah lain setelah dekorasinya ramai diperbincangkan dan muncul di media sosial.
Unang mengatakan, sejak pagi warga sudah berdatangan untuk melihat dan mengabadikan suasana Kampung Golek. Bahkan pada malam hari, kawasan tersebut semakin ramai ketika lampu-lampu dekorasi dinyalakan.
“Alhamdulillah antusias masyarakat itu dari pagi tadi saya pas pulang salat subuh dari masjid, dari jam 5 sudah banyak foto-foto di sini. Apalagi malam ketika adanya nyalain lampu-lampunya, sudah warga dari mana-mana sampai dari Cisaat, Sukaraja, dari Cibadak juga ada yang ke sini,” ujarnya.
Salah seorang pengunjung, Iis, mengaku tertarik mendatangi Kampung Golek setelah melihat suasananya secara langsung. Ia menilai dekorasi yang dibuat warga terlihat menarik dan berbeda.
“Ini pendapatnya sangat-sangat bagus sekali, Pak,” ujar Iis.
Warga lainnya menyebut keberadaan Kampung Golek juga mulai viral di media sosial, termasuk TikTok. Ia berharap kreativitas warga tersebut terus dikembangkan sehingga kawasan itu bisa tampil lebih menarik pada masa mendatang.
“Jadi viral ke mana-mana,” katanya.
Bagi warga RT 01 RW 07, Kampung Golek bukan sekadar dekorasi untuk menyambut Hari Kemerdekaan. Di balik ornamen bambu, lukisan tiga dimensi, dan wayang golek berukuran besar, terdapat semangat kebersamaan warga dalam menghidupkan kembali tradisi perayaan kemerdekaan sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Sunda melalui kreativitas sederhana dari lingkungan sendiri.***(RAF)
Editor : Aab Abdul Malik
