26.7 C
Jakarta
Senin, Agustus 24, 2026

Latest Posts

Sunnah: Al-Quran yang Berjalan Dalam Realitas Kehidupan 

Oleh: Kang Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan 

Wartain.com – Istilah sunnah sering mengalami penyempitan makna. Ia kerap dipahami hanya sebagai kategori hukum fiqih: dikerjakan berpahala, ditinggalkan tidak berdosa, atau dibatasi pada ritual individual seperti salat dan puasa sunnah. Pemahaman tersebut benar dalam konteks tertentu, tetapi tidak memadai untuk menjelaskan sunnah sebagai jalan hidup kenabian. Secara lebih luas, sunnah adalah jalan hidup Rasulullah SAW dalam mengaktualisasikan petunjuk Allah ke dalam sejarah manusia.

Karena itu, sunnah dapat dipahami sebagai Al-Qur’an yang “berjalan” dalam realitas kehidupan: bukan Al-Qur’an itu sendiri secara ontologis, melainkan pengejawantahan, penjelasan, dan keteladanan Nabi dalam menghidupkan nilai-nilai wahyu.
Secara bahasa, sunnah berarti jalan, kebiasaan, atau pola yang ditempuh.

Dalam pengertian syariat, Sunnah Nabi menunjuk kepada petunjuk dan keteladanan Rasulullah SAW yang membimbing manusia dari kegelapan menuju cahaya tauhid. Allah berfirman: “Dan tidaklah dia berbicara menurut keinginannya. Ucapannya itu tidak lain adalah wahyu yang diwahyukan.” (QS. An-Najm: 3–4).

Ayat ini harus dipahami dalam konteks penyampaian risalah, bukan berarti setiap tindakan manusiawi Nabi identik secara literal dengan Al-Qur’an. Justru di sinilah kedudukan Sunnah menjadi jelas: Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang menjadi Kitab, sedangkan Sunnah adalah teladan kenabian dalam menjelaskan dan menerapkan risalah tersebut.

Ketika Aisyah RA ditanya tentang akhlak Rasulullah SAW, beliau menjawab bahwa akhlak beliau adalah Al-Qur’an (HR. Muslim). Pernyataan ini mengandung kedalaman makna: wahyu tidak berhenti sebagai teks, tetapi membentuk karakter, keputusan, hubungan sosial, keluarga, kepemimpinan, dan seluruh orientasi kehidupan Rasulullah.

Dengan demikian, memahami Sunnah bukan hanya bertanya, “Apa yang dilakukan Nabi?”, tetapi juga, “Nilai tauhid, rahmat, amanah, dan keadilan apa yang diwujudkan Nabi melalui tindakan tersebut?”

Dalam ilmu hadis, Sunnah dikenal melalui tiga bentuk utama. Pertama, Sunnah Qauliyah, yaitu ucapan Rasulullah berupa ajaran, nasihat, perintah, larangan, dan penjelasan agama. Kedua, Sunnah Fi’liyah, yaitu perbuatan beliau yang menjadi teladan konkret dalam ibadah, keluarga, pendidikan, sosial, dan kepemimpinan. Ketiga, Sunnah Taqririyah, yaitu persetujuan Nabi terhadap perbuatan sahabat yang beliau ketahui dan tidak beliau ingkari. Ketiganya menunjukkan bahwa kenabian tidak hanya berbicara melalui teks, tetapi juga melalui keteladanan yang hidup.

Karena itu, misi Rasulullah tidak dapat direduksi hanya menjadi pengajaran ritual. Allah berfirman: “Sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan Kami turunkan bersama mereka Kitab dan neraca keadilan agar manusia menegakkan keadilan.” (QS. Al-Hadid: 25). Ayat ini menunjukkan bahwa risalah memiliki dimensi sosial: tauhid harus melahirkan keadilan, dan ibadah harus membentuk manusia yang amanah.

Sunnah dengan demikian memiliki daya transformatif. Ia membebaskan manusia dari penghambaan kepada sesama makhluk menuju pengabdian kepada Allah. Tauhid menolak kesombongan rasial, penindasan, eksploitasi, dan absolutisme kekuasaan. Prinsip kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh bangsa atau status sosial, melainkan oleh ketakwaan.

Rasulullah juga meneladankan pembangunan masyarakat Madinah sebagai komunitas politik yang diikat oleh amanah, perjanjian, tanggung jawab, dan keadilan. Karena itu, sunnah memiliki relevansi terhadap keluarga, ekonomi, hukum, masyarakat, dan kepemimpinan.

Namun, “kaaffah” tidak boleh dipahami sebagai pembenaran bahwa setiap institusi modern harus memiliki bentuk yang persis sama dengan masyarakat Madinah. Yang diwariskan Sunnah adalah prinsip-prinsip kenabian: tauhid, keadilan, amanah, musyawarah, perlindungan terhadap yang lemah, penghormatan terhadap manusia, dan tanggung jawab kekuasaan di hadapan Allah.

Dalam kerangka ini, Al-Qur’an dan Sunnah tidak ditempatkan sebagai dua sumber yang saling bersaing. Al-Qur’an menjadi sumber wahyu dan prinsip, sedangkan Sunnah menjadi penjelasan serta model penerapannya. Karena itu, ketika membaca Sunnah, umat harus menjaga dua keseimbangan sekaligus: tidak melepaskan Sunnah dari Al-Qur’an, dan tidak memisahkan Al-Qur’an dari penjelasan Rasulullah.

Sunnah memberi bentuk praksis kepada nilai wahyu, sementara Al-Qur’an memberi arah, ukuran, dan orientasi bagi Sunnah. Dari sinilah lahir kehidupan Islam yang tidak terpecah antara spiritualitas dan realitas sosial. Dengan keseimbangan itu, sunnah menjadi energi pembentukan manusia, masyarakat, dan peradaban yang berakar pada tauhid dan keadilan universal.

Allah berfirman: “Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kamu.” (QS. Ali ‘Imran: 31). Ayat ini menjadikan ittiba’ kepada Rasulullah sebagai bukti nyata cinta kepada Allah. Mengikuti Sunnah berarti mengubah cinta menjadi tindakan, keyakinan menjadi akhlak, ibadah menjadi tanggung jawab, dan tauhid menjadi kekuatan moral dalam kehidupan.

Maka sunnah bukan sekadar simbol kesalehan, melainkan jalan transformasi. Ia menghubungkan wahyu dengan sejarah, tauhid dengan keadilan, ibadah dengan akhlak, dan kenabian dengan peradaban.

Mengikuti Sunnah secara benar berarti menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber orientasi hidup, Rasulullah sebagai uswah hasanah, dan nilai-nilai kenabian sebagai dasar membangun kehidupan yang adil dan penuh rahmat.

Pada akhirnya, Sunnah adalah jalan untuk menghidupkan cahaya wahyu dalam manusia dan masyarakat. Ia mengajarkan bahwa pengabdian kepada Allah tidak berhenti di masjid, tetapi harus hadir di rumah, pasar, ruang sosial, hukum, pendidikan, dan kepemimpinan. Inilah makna universal Sunnah: bukan sekadar Sunnah yang dihafalkan, tetapi Sunnah yang dihidupkan; bukan sekadar Sunnah yang dibicarakan, tetapi Sunnah yang diwujudkan; dan bukan sekadar identitas keagamaan, melainkan jalan kenabian menuju manusia bertauhid, berakhlak, adil, dan menjadi rahmat bagi seluruh alam.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.