26.7 C
Jakarta
Sabtu, September 12, 2026

Latest Posts

Rumah Pengasingan Hatta-Sjahrir di Sukabumi Resmi Jadi Museum, Simpan Jejak Perjuangan Kemerdekaan

Wartain.com — Jejak sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia kini dapat kembali ditelusuri dari sebuah bangunan bersejarah di Kota Sukabumi.

Rumah Pengasingan Bung Hatta dan Sutan Sjahrir di Jalan Bhayangkara, Kecamatan Gunungpuyuh, resmi ditetapkan sebagai museum, Sabtu (12/9/2026).

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon meresmikan sekaligus menetapkan bangunan tersebut sebagai Museum Rumah Pengasingan Bung Hatta dan Sutan Sjahrir.

Museum ini menghadirkan berbagai koleksi yang berkaitan dengan perjalanan kedua tokoh bangsa tersebut, mulai dari benda bersejarah, arsip surat dan literatur hingga dokumentasi serta foto-foto Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir.

Bangunan yang sebelumnya digunakan sebagai rumah dinas dan mes milik kepolisian itu telah melalui proses pemugaran untuk mengembalikan karakter bangunan seperti bentuk aslinya.

Revitalisasi dilakukan melalui kolaborasi Kementerian Kebudayaan, Setukpa Lemdiklat Polri, Pemerintah Kota Sukabumi, serta keluarga para tokoh sejarah.

Menjadi Jejak Pengasingan Dua Tokoh Bangsa

Fadli Zon mengatakan, keberadaan rumah tersebut menjadi bagian penting dalam rangkaian sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Menurutnya, pengasingan Bung Hatta dan Sutan Sjahrir di Sukabumi merupakan salah satu kepingan penting yang melengkapi perjalanan sejarah menuju kemerdekaan Indonesia.

“Rumah ini adalah rumah yang bersejarah karena merupakan pengasingan dari Bung Hatta dan Bung Sjahrir sejak tahun 1942, tepatnya tanggal 3 Februari setelah diasingkan dari Banda Neira.

Jadi dari Banda Neira dibawa ke Sukabumi pada awal tahun 1942 dan ditempatkan di sini 47 hari, yaitu mulai dari tanggal 3 Februari 1942,” ujar Fadli Zon kepada Koran Gala, Sabtu (12/9/2026).

Sebelum berada di Sukabumi, Bung Hatta dan Sutan Sjahrir sebelumnya menjalani masa pengasingan di Boven Digoel dan Banda Neira.

Pada masa yang hampir bersamaan, dua tokoh pergerakan lainnya, yakni Dr. Cipto Mangunkusumo dan Iwa Kusumasumantri, juga menjalani pengasingan di wilayah Sukabumi, tepatnya di Selabintana.

Fadli menyebut periode tersebut menjadi bagian dari masa penting menjelang beralihnya kekuasaan di Indonesia dari pemerintah kolonial Belanda kepada Jepang.

Penyerahan kekuasaan Belanda kepada Jepang berlangsung di Kalijati, Subang, pada 7 Maret 1942.

“Sebulan setelah di Sukabumi, Jepang secara resmi masuk ya, dengan penyerahan Belanda di Kalijati tanggal 7 Maret 1942,” ungkapnya.

Menurut Fadli, museum tersebut tidak hanya menjadi tempat menyimpan benda-benda bersejarah, tetapi juga sarana untuk mengenalkan kembali perjalanan perjuangan para tokoh bangsa kepada generasi muda.

Ia pun mengapresiasi keluarga Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir yang turut membantu dengan meminjamkan koleksi foto maupun dokumentasi pribadi untuk melengkapi museum.

“Jadi ini adalah satu aset sejarah, aset budaya yang penting sehingga bisa melengkapi puzzle sejarah kita dari rumah-rumah pengasingan, dari langkah-langkah perjuangan, dan juga terutama bisa memperlihatkan kepada generasi muda bagaimana perjuangan itu luar biasa dilakukan oleh para founding fathers kita,” paparnya.

Sukabumi Jadi Titik Konsolidasi Perjuangan

Putri Sutan Sjahrir, Siti Rabyah Parvati Sjahrir atau Upik Sjahrir, menilai keberadaan rumah pengasingan tersebut memiliki arti penting dalam perjalanan perjuangan kemerdekaan.

Menurut Upik, masa pengasingan di Sukabumi justru menjadi momentum bagi Bung Hatta dan Sutan Sjahrir untuk kembali membangun komunikasi dengan jaringan pejuang setelah bertahun-tahun berada dalam pembuangan.

“Ini satu titik awal perjuangan kembali dari pembuangan Ayah dan Bung Hatta dari Boven Digul ke Banda Neira. Begitu kembali ke Sukabumi, mereka mulai menjalin kembali hubungan dengan pejuang-pejuang lain. Meskipun di sini ditahan, tapi mereka boleh menerima tamu. Jadi Amir Sjarifuddin datang, Pak Soeditno adik dari Soetomo semua datang dan mereka melakukan rapat-rapat, konsolidasi kembali. Dan anehnya, Ayah (Sutan Sjahrir) itu bisa ke Bandung, dia bisa keliling mulai melakukan perjalanan keliling itu setelah di Sukabumi,” ujar Upik.

Ia menjelaskan, Bung Hatta dan Sutan Sjahrir kemudian mengambil jalur perjuangan yang berbeda dalam menghadapi pendudukan Jepang.

Bung Hatta menjalankan perjuangan melalui jalur terbuka dengan berkomunikasi dan bekerja sama dengan pihak Jepang, sementara Sjahrir memilih bergerak secara rahasia melalui jaringan bawah tanah.

“Keputusan untuk mengatur strategi di mana Ayah (Sutan Sjahrir) akan bergerak di bawah tanah, sedangkan Bung Hatta harus di atas, harus bekerja sama dengan Jepang—bukan dengan senang hati, tapi untuk bisa mendukung perjuangan-perjuangan pemuda yang bergerak di bawah tanah,” paparnya.

Didorong Jadi Cagar Budaya Nasional

Fadli Zon menegaskan pemerintah akan melanjutkan upaya perlindungan terhadap bangunan tersebut.

Menurutnya, proses konservasi telah menjadi perhatian sejak dirinya meninjau lokasi tersebut pada Januari 2025.

Bangunan yang sebelumnya mengalami sejumlah kerusakan kemudian dipugar dengan melibatkan tim kurator di bawah Direktorat Sejarah dan Permuseuman.

“Tadinya kan tempat ini merupakan Rumah dinas juga mess yang dipakai oleh kepolisian. Kemudian ketika itu sudah ada juga kerusakan-kerusakan, jadi waktu saya datang, warnanya juga tidak seperti ini. Kita kembalikan coba ke aslinya dengan tim yang ada kurator di bawah Direktorat Sejarah dan Permuseuman, kemudian kita intervensi dengan melakukan ini (pemugaran). Dan tentu saja atas persetujuan dari pihak kepolisian,” ujar Fadli.

Selain pemugaran fisik, museum tersebut juga dilengkapi dengan unsur digitalisasi sehingga diharapkan dapat menjadi salah satu destinasi wisata sejarah dan heritage di Kota Sukabumi.

Kementerian Kebudayaan juga menargetkan status bangunan tersebut dapat ditingkatkan dari Cagar Budaya tingkat kota menjadi Cagar Budaya Nasional.

“Segera kita daftarkan, kita registrasi, dan mudah-mudahan dalam waktu dekat rumah Hatta-Sjahrir ini bisa menjadi Cagar Budaya Nasional. Sekarang baru Cagar Budaya di tingkat kota. Mudah-mudahan tahun ini bisa jadi Cagar Budaya Nasional. Sehingga ini bisa terawat, bisa terjamin semuanya,” jelas Fadli.

Sementara itu, putri Bung Hatta, Meuttia Hatta, menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah terhadap keberadaan aset-aset bersejarah bangsa.

“Terima kasih banyak Bapak Menteri Kebudayaan yang sangat paham mengenai bagaimana aset-aset sejarah harus dilindungi ya, dan juga ada manfaatnya dan juga di sini terlihat semangat dari nilai-nilai dari tokoh-tokoh yang ada di sini,” ujar Meuttia.

Ia berharap museum tersebut dapat menjadi ruang belajar bagi generasi muda untuk memahami sejarah perjuangan bangsa, termasuk sejarah yang terjadi di daerah.

“Nah, jadi di samping itu juga kita mengajak kembali anak-anak muda terutama untuk mengenal satu bagian, satu sisi sejarah yang dulu tidak diperhatikan tapi ini sangat penting dalam alur perjalanan dari perjuangan bangsa kita untuk merdeka. Ini sangat penting sekali,” pungkasnya.***(RAF)

Editor: Aab Abdul Malik

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.