Wartain.com – Aksi keluar ruangan atau walk out kembali menjadi sorotan dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat yang berlangsung sepekan ini.
Sidang Majelis Umum PBB yang dihadiri sekitar 200 delegasi negara dan organisasi internasional memang menjadi panggung bagi para pemimpin dunia untuk mempromosikan negaranya, membahas isu geopolitik, hingga memamerkan capaian masing-masing.
Namun, pidato-pidato tersebut kerap mendapat respons beragam. Dari sekitar 1.000 diplomat yang berada di aula, walk out menjadi salah satu cara paling kentara untuk menunjukkan sikap protes diplomatik.
Rangkaian aksi walk out terjadi sejak awal pekan. Pada Selasa (22/9), kursi delegasi Iran hampir kosong ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan pidato. Dalam pidatonya, Trump menyebut Iran memiliki pilihan untuk membuat kesepakatan damai atau menghadapi “kehancuran”.
Sehari berselang, Rabu (23/9), giliran delegasi Kuba yang melakukan walk out saat Trump berada di podium. Mereka meninggalkan aula setelah Trump menyebut Kuba sebagai “negara gagal” dan mengatakan pemerintah AS akan berupaya menjatuhkan pemerintahannya.
Di hari yang sama, satu-satunya diplomat AS yang berada di aula juga meninggalkan tempat duduknya ketika Presiden Iran Masoud Pezeshkian menuduh AS menargetkan warga sipil Iran.
Puncaknya terjadi pada Jumat (25/9) dini hari WIB. Aksi walk out massal terjadi ketika Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mulai menyampaikan pidatonya.
Israel mencatat sebanyak 77 negara termasuk delegasi Indonesia keluar dari ruang sidang selama 41 menit pidato Netanyahu berlangsung. Sebagian delegasi bahkan sudah meninggalkan ruangan sebelum Netanyahu mulai berbicara. Delegasi Yordania dan Mesir tercatat tidak berada di aula sejak awal pidato.***
Editor: Aab Abdul Malik
(Dul)
