Wartain.com || Kementerian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza melaporkan, jumlah korban jiwa akibat agresi Israel sejak 7 Oktober di wilayah kantong itu telah mencapai sedikitnya 25.105 orang pada Minggu 21/1/2024.
Angka ini diprediksi bakal terus bertambah, seiring dengan banyaknya mayat yang terkubur dan terjebak di bawah reruntuhan — yang masih belum diidentifikasi, ditambah wabah penyakit dan kelaparan yang menghantui jutaan orang di sana.
Dikutip dari Daily Sabah, menurut Kementerian Kesehatan Palestina angka korban luka pun turut bertambah menjadi 62.681 orang. Selain itu, dilaporkan bahwa dalam 24 jam terakhir sedikitnya 178 warga Palestina telah terbunuh dan 293 lainnya terluka oleh pasukan Israel.
“Penjajah Israel melakukan 15 pembantaian terhadap keluarga-keluarga di Jalur Gaza, menyebabkan 178 orang syahid dan 293 orang terluka selama 24 jam terakhir,” bunyi pernyataan Kementerian Kesehatan Palestina.
“Banyak orang masih terjebak di bawah reruntuhan dan di jalan-jalan karena tim penyelamat tidak dapat menjangkau mereka,” tambahnya.
Terlepas dari desakan warga Israel untuk menghentikan kekerasan, pasukan penjajah masih meluncurkan serangannya di Gaza sekaligus menyerbu Tepi Barat yang diduduki. Penggerebekan hingga berujung kekerasan acap dilaporkan dan ribuan orang Palestina ditangkap.
Kantor berita resmi Palestina, WAFA, melaporkan bentrokan antara pasukan Israel dan Hamas pecah di Desa Maithalun, sebelah selatan Jenin, serta di kota-kota Tepi Barat Arura dan Qalqilya.
Suara tembakan, serangan udara, ledakan, dilaporkan menggelegar di penjuru wilayah tersebut. Namun, titik kekerasan paling parah terjadi di Khan Younis, kota di bagian selatan yang dijadikan sebagai lokasi kamp pengungsian warga Palestina.
Israel telah memfokuskan serangannya ke arah selatan dalam misi menggempur Hamas, setelah militer mengatakan pada awal Januari lalu bahwa struktur komando kelompok militan Palestina tersebut sudah dihancurkan.
Namun, Hamas melaporkan adanya pertempuran sengit di bagian utara Gaza melawan pasukan udara dan laut Israel. ***
Foto: AFP/Mahmud Hams
Editor: Raka A. Firmansyah
(Red)
