Wartain.com || Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED) di Unit Pelayanan Terpadu Daerah (UPTD) Puskesmas Kadudampit Sukabumi terbilang sukses dalam menjalankan programnya.
PONED sendiri merupakan puskesmas rawat inap yang memiliki kemampuan serta fasilitas yang siap 24 jam untuk memberikan pelayanan terhadap ibu hamil, bersalin,nifas serta kegawatdaruratan bayi baru lahir dengan komplikasi baik yang datang sendiri atau atas rujukan kader di masyarakat, Bidan di Desa, Puskesmas dan melakukan rujukan ke RS/RS PONEK pada kasus yang tidak mampu ditangani.
Kepala Ruangan PONED Puskesmas Kadudampit Ida Rohayati mengaku bahwa berkat adanya PONED, dari waktu ke waktu jumlah ibu hamil dan melahirkan yang datang ke Puskesmas Kadudampit terus meningkat.
Hal tersebut juga tak lepas dari peran posyandu dan bidan desa yang menjadi garga terdepan dalam penanganan ibu hamil dan melahirkan. Serta tak luput dari program unggulan Puskesmas Kadudampit yaitu Salam Sepedah (Sepuluh Menit Berfaedah).
“Alhamdulillah dilihat dari tiap tahun itu ada progres peningkatan, dari tahun ke tahun sudah banyak peningkatan,” ujar Ida di kantornya, Selasa 23/4/2024.
Selain itu program Kader Antar Hubungi Ibu Bayi Sehat Selamat (Kahati) yang melibatkan kader-kader terkait juga menjadi perangsang bagi ibu hamil untuk mempercayakan proses persalinannya di Puskesmas Kadudampit.
Koordinator Bidan PONED Puskesmas Kadudampit Tati Rosidah menambahkan, menilik dari jumlah pasien yang meningkat tentunya juga dibarengi dengan respon positif dari masyarakat.

“Karena terlihat (pasien) sudah meningkat, tentunya kita dengar responnya juga baik. Yang awalnya cuman 10 (pasien) perbulan sekarang bisa sampai 35 perbulannya,” kata Tati.
Di Puskemas Kadudampit sendiri PONED sudah ada dari tahun 2013. Berawal dari statusnya yang masih Puskesmas Persalinan 24 Jam dan kini berstatus Puskesmas mampu PONED.
Kendati belum sepenuhnya berstatus PONED, pada bidan dan stakeholder terkait terus bersinergi untuk memberi pelayanan yang baik.
Ditanya mengenai hambatan selama PONED berjalan, Ida mengatakan, persoalan jarak dan lokasi menjadi sejumlah kendala yang menyebabkan masih banyak masyarakat di wilayah tersebut yang enggan memeriksa kandungannya atau bersalin di Puskesmas.
“Dari total angka kehamilan di wilayah ini (Kadudampit), saat ini diperkirakan baru mencapai 50 persen yang ditangani disini. Yang pertama karena medan, di daerah yang jauh dari sini dan lebih dekat ke fasilitas kesehatan lain lebih memilih untuk keluar wilayah karena terlalu jauh aksesnya kesini, meskipun sudah ada ambulance desa,” ucap Ida.
Ida berharap dengan terus menggencarkan program Kahati serta optimalisasi ambulance desa bisa keningkatkan minat masyarakat untuk bersalin di Puskesmas.***(RAF)
Foto: Wartain.com/Raka A. Firmansyah
