26.7 C
Jakarta
Sabtu, April 18, 2026

Latest Posts

Binar Sosial: Benteng Ketahanan Pangan Berbasis Kearifan Lokal

Oleh: Salman Rizkatillah Abdussalam, S.M/
Pemuda Pelopor Bidang Sosial dan Advokasi Masyarakat Kabupaten Garut 2025

Wartain.com || Di tengah bayang-bayang krisis global—mulai dari perubahan iklim yang tak menentu, guncangan ekonomi, hingga tensi geopolitik yang kian memanas—ada satu kekuatan yang sering kali luput dari radar kebijakan negara: kekuatan masyarakat itu sendiri.

Di sudut-sudut desa, di hamparan ladang rakyat, hingga di dapur-dapur sederhana, sebenarnya ada cahaya kecil yang terus menyala menjaga denyut kehidupan. Saya menyebutnya *Binar Sosial.*

Binar Sosial bukanlah istilah teknis yang rumit. Ia adalah pancaran semangat ketika masyarakat masih saling menjaga, saling mengulurkan tangan, dan tetap setia menanam di tanahnya sendiri. Ia lahir dari rahim gotong royong, tumbuh besar melalui tradisi bertani, dan diperkuat oleh pengetahuan lokal yang diwariskan turun-temurun.

Ini bukan sekadar romantisme budaya masa lalu. Ini adalah sistem pertahanan pangan rakyat yang nyata, yang telah terbukti mampu membuat masyarakat tetap tegak berdiri meski sistem pangan modern sering kali goyah diterpa badai distribusi.

Berdikari di Atas Tanah Sendiri

Bagi saya, ketahanan pangan tidak boleh hanya direduksi menjadi urusan angka-angka impor beras atau stabilitas harga di pasar semata. Ketahanan pangan yang sejati tercapai ketika masyarakat mampu *berdiri di atas kaki sendiri*—menanam, mengolah, dan menjaga sumber pangannya secara mandiri.

Di banyak wilayah, termasuk di wilayah selatan Garut, kita menyaksikan bagaimana potensi lokal menjadi pahlawan yang sunyi. Pohon-pohon aren yang tumbuh subur, ladang-ladang rakyat yang dikelola dengan penuh cinta, serta ragam pangan lokal lainnya, telah lama menjadi penopang utama kehidupan masyarakat tanpa perlu bergantung pada rantai pasok global yang rentan.

Persatuan sebagai Fondasi

Dalam konteks ini, saya menyimak secara mendalam pemikiran yang disampaikan oleh *Sufmi Dasco Ahmad*. Beliau menekankan bahwa persatuan nasional yang dibarengi dengan kekompakan serta soliditas masyarakat sipil merupakan fondasi vital dalam mendukung keberhasilan program-program pemerintah.

Pandangan ini sangat relevan. Tanpa masyarakat yang kuat dan bersatu di tingkat akar rumput, kebijakan negara—sehebat apa pun itu—sering kali kehilangan akarnya. Persatuan nasional tidak akan lahir hanya dari mimbar pidato politik, melainkan dari interaksi sosial yang saling menguatkan di lapisan terbawah.

Ketika masyarakat sipil solid, desa-desa menjadi produktif, dan kearifan lokal tetap dijaga sebagai kompas kehidupan, maka program pembangunan nasional akan memiliki landasan yang kokoh. Hal ini sejalan dengan agenda ketahanan pangan yang diusung oleh *Prabowo Subianto*, yang membutuhkan sinergi total antara visi negara dan kedaulatan rakyat.

Penutup

Saya percaya bahwa *Binar Sosial* adalah benteng pertama sekaligus terakhir kita dalam menghadapi ancaman krisis pangan dunia. Ia adalah energi yang lahir dari rakyat, dijaga dengan penuh ketulusan oleh rakyat, dan akan menjadi kekuatan nyata dalam menopang ketahanan bangsa di masa depan.

Sebab, bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu menjamin piring-piring rakyatnya terisi dari hasil keringat dan tanahnya sendiri.***

Editor : Aab Abdul Malik

(SAL)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.