26.7 C
Jakarta
Jumat, Juni 26, 2026
Beranda blog Halaman 29

Berburu “Emas Perak” Musiman, Warga Palabuhanratu Padati Muara Citepus demi Tangkap Ikan Impun

0

Wartain.com – Ratusan warga Palabuhanratu berbondong-bondong memadati kawasan Pantai Muara Citepus, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, pada Kamis (11/6/2026). Kedatangan warga lintas usia ini bertujuan untuk memburu ikan impun, sejenis ikan kecil berukuran lembut yang sedang mengalami musim migrasi dari laut menuju sungai.

Fenomena alam yang unik ini dimanfaatkan warga sebagai momen tahunan yang menguntungkan. Sejak pagi hari di bibir muara sudah dipenuhi oleh masyarakat lokal yang membawa berbagai perlengkapan tradisional. Mereka dengan sabar menunggu gelombang pasang yang biasanya membawa kawanan ikan tersebut ke arah daratan.

Alat utama yang digunakan warga untuk menangkap ikan impun ini adalah sirib, sebuah jala tradisional berbentuk jaring kotak yang ditopang oleh bambu silang. Cara menggunakannya cukup sederhana namun butuh kejelian, warga merendam sirib di dalam air muara yang dangkal, lalu mengangkatnya dengan cepat begitu melihat pergerakan kawanan ikan impun yang melintas di atas jaring.

Bagi masyarakat setempat, kemunculan ikan impun bukan sekadar fenomena biologi biasa, melainkan berkah musiman yang dinanti-nanti. Kehadiran ikan ini tidak menentu dan biasanya hanya terjadi pada waktu-waktu tertentu, khususnya menjelang pergantian bulan dalam penanggalan Hijriah, di mana arus pasang air laut berada pada puncaknya.

Sutisna (42), salah seorang warga asli Citepus yang ikut berburu sejak pagi, mengaku sangat bersyukur dengan berkah musiman ini. Menurutnya, hasil tangkapan hari ini cukup melimpah dibandingkan beberapa bulan lalu.

“Alhamdulillah, hari ini impunnya lumayan banyak turun ke muara. Musimnya kan tidak menentu, kadang sebulan sekali atau dua bulan sekali baru muncul. Biasanya hasil tangkapan ini langsung dimasak di rumah buat lauk keluarga, dibikin pepes atau dikrecek, tapi kalau dapatnya banyak ya sebagian saya jual ke tetangga,” ujar Sutisna saat ditemui di lokasi.

Tradisi menangkap ikan impun di Muara Citepus ini tidak hanya membantu ketahanan pangan warga sekitar, tetapi juga menjadi daya tarik wisata lokal yang unik. Hingga menjelang sore hari, aktivitas berburu ikan impun masih terus berlangsung riuh, menciptakan pemandangan khas pesisir Palabuhanratu yang penuh dengan kearifan lokal.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Yosep)

Harga BBM Non-Subsidi Akhirnya Naik, Alarm Bagi Rakyat

0

Oleh: Lukman Nurhakim/ Aktivis ’98 Bandung

Wartain.com – Harga Pertamax per 10 Juni 2026 resmi naik tanpa pengumuman sebelumnya. Kenaikannya disebut mencapai sekitar 30 persen, dengan alasan volatilitas harga minyak mentah dunia yang belum juga menemukan titik terang di tengah konflik berkepanjangan di Asia Barat antar AS-Israel melawan Iran. Selat Hormuz yang merupakan jalur sepertima pasukan minyak dunia hingga kini masuk diblokade Iran, yang mengakibatkan pasokan terganggu. Kini, harga Pertamax bahkan sudah mendekati harga bensin yang sama dengan harga di Amerika Serikat.

Dampaknya langsung menghantam kelas menengah yang selama ini mengandalkan BBM non-subsidi.

Kelompok yang biasanya masih bisa bersikap lebih santai, kini mulai ramai bersuara di media sosial.

Kenaikan biaya energi hampir selalu merembet ke berbagai sektor. premi asuransi, biaya sewa apartemen atau kos-kosan, ongkos transportasi, hingga harga kebutuhan sehari-hari berpotensi ikut terkerek. Biaya hidup naik karena rantai distribusi dan biaya produksi ikut meningkat.

Pertanyaannya, sampai sejauh mana pemerintah mampu menjaga harga energi bersubsidi? Ini tampaknya masih menjadi misteri dan mungkin hanya soal waktu. Di tengah penggunaan anggaran negara yang dinilai boros oleh sebagian kalangan, serta nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang berada di bawah tekanan, ruang fiskal pemerintah tentu tidak tanpa batas.

Lalu bagaimana dengan income? Apakah ikut naik? Masih gelap. Banyak pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku impor mulai menghadapi tekanan berat akibat kenaikan biaya dan pelemahan rupiah.

Konsekuensinya bukan hanya pada keberlangsungan usaha, tetapi juga menyangkut nasib para pekerja. Jika tekanan terus berlangsung, efisiensi usaha, penundaan ekspansi, bahkan pengurangan tenaga kerja dapat menjadi risiko yang harus dihadapi.

Biaya transportasi meningkat. Ongkos distribusi barang menjadi lebih mahal. Pelaku usaha menghadapi kenaikan biaya produksi. Harga kebutuhan pokok perlahan ikut terkerek. Rumah tangga dipaksa melakukan penyesuaian pengeluaran, sementara daya beli masyarakat tertekan.

Bagi kelas menengah, kenaikan biaya energi berarti menyusutnya ruang konsumsi. Anggaran untuk tabungan, pendidikan anak, rekreasi, hingga investasi pribadi terpaksa dikurangi untuk menutup kebutuhan rutin yang semakin mahal.

Bagi pelaku usaha, terutama yang bergantung pada bahan baku impor dan distribusi antardaerah, kenaikan biaya energi dapat menggerus margin keuntungan. Sebagian memilih menaikkan harga jual, sebagian melakukan efisiensi, menunda ekspansi usaha, bahkan tidak sedikit yang mempertimbangkan pengurangan tenaga kerja untuk bertahan.

Bagi pekerja, sementara biaya hidup meningkat, kenaikan pendapatan belum tentu mengikuti. Ketika kenaikan upah tidak sebanding dengan laju inflasi, kemampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari akan semakin tertekan.

Bagi mahasiswa dan kelompok muda, situasi ini juga berdampak nyata. Biaya transportasi ke kampus meningkat, harga kos dan kebutuhan harian berpotensi naik, sementara peluang kerja paruh waktu dan kesempatan memasuki dunia kerja dapat ikut terpengaruh apabila dunia usaha sedang melakukan pengetatan.

Kritik atas Program Pemerintah yang Dinilai Tidak Mendesak

Di tengah tekanan ekonomi akibat kenaikan biaya hidup akibat kenaikkan Bahan Bakar Minyak, melemahnya daya beli masyarakat, serta ketidakpastian global, muncul kritik bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih bukanlah kebutuhan yang paling mendesak untuk diprioritaskan saat ini untuk menekan anggaran biaya negara dan memulihkan kepercayaan investor..

Sebagian kalangan menilai anggaran negara seharusnya lebih difokuskan pada menjaga stabilitas harga pangan dan energi, memperkuat layanan kesehatan, meningkatkan kualitas pendidikan, memperluas perlindungan sosial, serta membantu pelaku usaha yang terdampak perlambatan ekonomi.

Pertanyaan yang muncul adalah: apakah saat ini merupakan waktu yang tepat untuk menjalankan program-program tersebut secara masif, ataukah diperlukan penyesuaian, uji coba bertahap, evaluasi berkala, serta pengalihan sebagian anggaran untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang lebih mendesak?

Kritik terhadap tata kelola juga menguat menyusul adanya dugaan penyalahgunaan kewenangan yang menyeret sejumlah pejabat terkait pelaksanaan program. Apabila dugaan tersebut terbukti melalui proses hukum yang berlaku, hal itu menjadi pengingat bahwa program sebesar apa pun memerlukan sistem pengawasan yang kuat agar tidak menyimpang dari tujuan awalnya.

Di sisi lain, pemerintah berpendapat bahwa MBG merupakan investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, sedangkan Koperasi Desa Merah Putih diproyeksikan sebagai instrumen penguatan ekonomi desa.

Masyarakat menilai lebih baik program ini dialihkan pada penguatan sistem layanan sosial, Pendidikan dan kesehatan. Sungguh sangat ironis banyak ditemukan di lapanan di tengah pembangunan fisik banyak Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPB) dan Bangunan Fisik Koperasi desa Merah Putih (KDMP) ditemukan berdampingan dengan sekolah dasar yang rusak keadaan fisiknya bahkan mau ambruk dan pembangunan di lahan yang sangat jauh dari keramaian warga desa.

Kritik atas Kunjungan Presiden ke Luar Negeri

Di tengah tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat, muncul kritik terhadap tingginya intensitas perjalanan dinas Presiden dan pejabat negara ke luar negeri. Sebagian masyarakat mempertanyakan urgensi kunjungan tersebut ketika pemerintah pada saat yang sama meminta rakyat berhemat dan beradaptasi dengan kondisi ekonomi yang semakin berat.

Kritik ini semakin menguat ketika realisasi investasi belum menunjukkan capaian yang dianggap sebanding dengan upaya promosi yang dilakukan. Jika perjalanan luar negeri dimaksudkan untuk menarik investasi, mengapa masih ada investor yang memilih menunggu, mengurangi ekspansi, atau mengalihkan investasinya ke negara lain?

Banyak pelaku usaha justeru menilai keputusan investasi tidak hanya ditentukan oleh promosi, tetapi juga oleh kepastian hukum, konsistensi regulasi, efisiensi birokrasi, stabilitas ekonomi dan politik, kualitas infrastruktur, serta ketersediaan tenaga kerja terampil.

Di sisi lain, pemerintah menilai diplomasi ekonomi tetap penting untuk membuka akses pasar, memperkuat kerja sama strategis, serta menarik investasi jangka panjang.

Kritik atas Pengajuan Anggaran Pertahanan 2027

Kementerian Pertahanan bersama TNI mengajukan tambahan anggaran sebesar Rp195 triliun untuk Tahun Anggaran 2027. Menurut penjelasan pemerintah, tambahan tersebut dibutuhkan untuk mendukung modernisasi alutsista, meningkatkan kesiapan operasional prajurit, memperkuat logistik pertahanan, membangun kekuatan di wilayah strategis, serta mendukung operasi non-militer seperti penanggulangan bencana dan tugas kemanusiaan.

Pemerintah juga menegaskan bahwa pertahanan bukan sekadar pengeluaran konsumtif, melainkan investasi untuk menjaga kedaulatan, stabilitas politik, serta menjamin kelangsungan pembangunan nasional.

Namun, di tengah tekanan ekonomi yang diperkirakan masih akan berlanjut hingga beberapa tahun ke depan, muncul pertanyaan mengenai skala prioritas anggaran negara.

Apakah tambahan anggaran pertahanan sebesar itu merupakan kebutuhan yang paling mendesak saat masyarakat masih menghadapi tingginya biaya pendidikan, kebutuhan layanan kesehatan, ancaman PHK, serta melemahnya daya beli?

Sebagian pengamat juga mengusulkan agar modernisasi pertahanan lebih diarahkan pada kemampuan yang dinilai lebih efisien dari sisi biaya namun memiliki daya gentar tinggi, seperti pengembangan drone, sistem pertahanan udara, perang elektronik, rudal jarak menengah, serta penguatan keamanan maritim mengingat karakter Indonesia sebagai negara kepulauan.

Kritik lainnya menyangkut transparansi dan akuntabilitas. Pengadaan alutsista dan pembangunan kekuatan pertahanan perlu disertai perencanaan yang jelas, pengawasan ketat, serta evaluasi terbuka agar terhindar dari pemborosan dan potensi penyimpangan.

Mahasiswa dan Masyarakat Sipil: Tradisi Kritik dalam Demokrasi

Bagi mahasiswa, reaksinya tentu bisa berbeda. Setiap kenaikan harga BBM, baik subsidi maupun non-subsidi, hampir selalu memunculkan respons tersendiri dari kalangan kampus. Mahasiswa memiliki tradisi panjang untuk mengkritisi kebijakan publik yang dinilai berdampak luas terhadap masyarakat, terutama ketika menyangkut biaya hidup, akses pendidikan, dan keadilan sosial.

Sebagian masyarakat memandang bahwa mahasiswa dan kelompok masyarakat sipil masih memiliki ruang yang relatif lebih independen untuk menyuarakan kritik terhadap kebijakan pemerintah yang dipanda boros saat ini. Mereka tidak terikat langsung pada kepentingan elektoral maupun hubungan industrial, sehingga lebih leluasa menyampaikan aspirasi, melakukan kajian, diskusi publik, hingga aksi demonstrasi sebagai bagian dari hak demokratis warga negara.

Sementara itu, partai-partai politik dalam koalisi pemerintahan umumnya mendukung kebijakan pemerintah. Sebagian organisasi buruh besar juga memilih membangun dialog dan kerja sama dengan pemerintah, termasuk melalui keterlibatan tokoh-tokohnya dalam struktur pemerintahan. Meski demikian, tetap terdapat kelompok buruh dan organisasi masyarakat sipil yang menyampaikan kritik dan penolakan terhadap kebijakan yang dianggap merugikan anggotanya.

Kesimpulan

Kenaikan biaya energi, khususnya BBM, bukan sekadar persoalan bertambahnya pengeluaran saat mengisi tangki kendaraan. Ia dapat memicu efek domino yang menjalar ke hampir seluruh sendi kehidupan masyarakat.

Jika berlangsung dalam waktu lama, kenaikan biaya energi dapat menurunkan tingkat konsumsi masyarakat yang selama ini menjadi salah satu penggerak utama perekonomian nasional. Pertumbuhan ekonomi melambat, penerimaan usaha menurun, dan risiko meningkatnya pengangguran menjadi lebih besar.

Karena itu, kenaikan biaya energi seharusnya menjadi alarm bagi semua pihak. Pemerintah perlu menghadirkan kebijakan mitigasi yang tepat sasaran, menjaga stabilitas harga, memperkuat perlindungan sosial, serta memastikan penggunaan anggaran negara dilakukan secara efisien dan berorientasi pada kebutuhan yang paling mendesak.

Sebab pada akhirnya, persoalan energi bukan hanya tentang harga BBM, melainkan tentang kualitas hidup, daya tahan ekonomi keluarga, keberlangsungan usaha, dan masa depan kesejahteraan rakyat.

Di tengah tekanan ekonomi dan ketidakpastian global akibat krisi energi dan dampaknya pada kenaikkan harga Bahan Bakar Minyak saat ini, pemerintah dituntut bukan hanya mampu menjaga stabilitas, tetapi juga menunjukkan kepekaan terhadap beban yang ditanggung rakyat.

Efisiensi, transparansi, akuntabilitas, serta keberanian mengevaluasi kebijakan yang belum berjalan optimal merupakan prasyarat penting untuk menjaga kepercayaan publik.

Dalam demokrasi, kritik dan pertanyaan seperti di atas adalah hal yang wajar. Uang negara berasal dari rakyat. Karena itu, penggunaannya perlu terbuka terhadap pengawasan, evaluasi, dan pertanggungjawaban publik.

Tujuan kritik bukan untuk menghambat pembangunan, menolak diplomasi internasional, ataupun melemahkan pertahanan negara. Kritik bertujuan memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan benar-benar menjawab persoalan yang paling dirasakan masyarakat, memiliki manfaat yang terukur, dan disusun berdasarkan skala prioritas yang jelas.

Pada akhirnya, demokrasi yang sehat bukan sekadar memberi ruang untuk berbicara, melainkan juga menghadirkan kesediaan untuk mendengar, memperbaiki, dan memastikan bahwa kebijakan negara benar-benar berpihak pada kepentingan rakyat dan masa depan bangsa.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Ketua MUI Jampang Tengah Dorong Penguatan Pendidikan Diniyah Melalui PORSADIN Ke-8

0

Wartain.com – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Jampang Tengah, Abdul Wahab, menegaskan pentingnya dukungan seluruh pihak terhadap pendidikan keagamaan dalam momentum Pekan Olahraga dan Seni Antar Diniyah (PORSADIN) ke-8 tingkat Kecamatan Jampang Tengah. Dilaksanakan di Alun alun Jampang Tengah pada Kamis (11/06/2026).

Ia menyampaikan bahwa PORSADIN merupakan agenda rutin yang diselenggarakan setiap dua tahun sekali dan memiliki peran penting dalam membentuk karakter serta meningkatkan motivasi para santri Madrasah Diniyah.

Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana pembinaan generasi muda agar memiliki kecintaan terhadap pendidikan agama sejak dini.

“PORSADIN diharapkan mampu menjadi motivasi bagi anak-anak didik, khususnya santri Madrasah Diniyah, untuk terus meningkatkan kemampuan dan prestasi mereka dalam bidang agama maupun keterampilan lainnya,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa kemajuan pendidikan keagamaan tidak dapat diwujudkan hanya melalui peran lembaga keagamaan seperti MUI, Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT), maupun organisasi lainnya.

Menurutnya, dukungan pemerintah sangat dibutuhkan agar cita-cita mewujudkan Kabupaten Sukabumi yang religius dan penuh keberkahan dapat tercapai.

Ia juga berharap pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap keberadaan pendidikan diniyah dengan memperkuat legalitas ijazah Madrasah Diniyah sebagai salah satu dokumen pendukung dalam proses penerimaan peserta didik pada jenjang pendidikan formal.

“Kami berharap ijazah diniyah dapat diakui dan menjadi salah satu syarat pendukung dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dengan demikian, masyarakat akan semakin menyadari pentingnya pendidikan agama bagi anak-anak mereka,” katanya.

Lebih lanjut, Abdul Wahab mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mendukung pengembangan pendidikan keagamaan sebagai fondasi utama dalam membentuk generasi yang berakhlak mulia, berilmu, dan mampu menghadapi tantangan zaman.

Melalui pelaksanaan PORSADIN 8, ia berharap lahir generasi santri yang tidak hanya unggul dalam bidang keagamaan, tetapi juga mampu menjadi penerus pembangunan yang membawa kemajuan dan keberkahan bagi Kabupaten Sukabumi.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Intan)

Solidaritas Garuda untuk Beckham Putra: Pemain Timnas Satu Keluarga Lawan Kebencian Suporter

0
Oplus_131072

Rizky Ridho dan Jay Idzes Kompak Pasang Badan, Beckham: Kritik Tak Akan Ubah Komitmen untuk Merah Putih

Wartain.com – Sejumlah pemain timnas Indonesia menunjukkan solidaritas setelah kemenangan 1-0 atas Mozambik pada laga FIFA Match Day di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Selasa 17/6/2026. Dukungan mengalir untuk Beckham Putra yang menjadi sasaran perlakuan tidak pantas dari oknum suporter.

Beckham menegaskan komitmennya tetap membela Indonesia meski mendapat kritik dan perlakuan tidak menyenangkan. “Saya selalu memberikan 100 persen bahkan lebih kemampuan saya untuk Indonesia. Apa pun yang dikatakan di luar sana tidak akan mengubah komitmen saya untuk terus berjuang demi Merah Putih,” tulisnya di Instagram pribadi, Rabu 10/6/2026.

Pemain Persib Bandung berusia 24 tahun itu menjadi sorotan setelah video beredar di media sosial. Video memperlihatkan Beckham mendapat perlakuan tidak pantas dari oknum suporter seusai pertandingan melawan Mozambik. Situasi sempat memanas sebelum ditenangkan rekan setimnya, Kevin Diks.

Bagi Beckham, insiden itu jadi pelajaran berharga. “Setiap pengalaman adalah pelajaran untuk terus bertumbuh. Terima kasih kepada mereka yang tetap percaya dan terima kasih juga kepada mereka yang membuat saya semakin kuat,” tulisnya.

Sejak debut Juni 2025, Beckham sudah mengoleksi delapan penampilan bersama timnas Indonesia. Ia juga mencetak dua gol saat Indonesia mengalahkan Saint Kitts dan Nevis 4-0 pada laga debut pelatih John Herdman Maret lalu.

Di tengah polemik, dukungan datang dari kapten timnas dan pemain senior. Bek tengah Rizky Ridho mengingatkan bahwa semua pemain yang mengenakan seragam Garuda adalah satu keluarga, tanpa membedakan latar belakang klub.

“Kita mungkin datang dari klub yang berbeda, tetapi saat mengenakan jersi tim nasional, kita adalah satu keluarga,” tulis Ridho lewat Instagram. Unggahan itu menampilkan fotonya bersama Beckham, Saddil Ramdani, Dony Tri Pamungkas, dan Rayhan Hannan.

Pesan Ridho dipandang sebagai ajakan menjaga persatuan di lingkungan timnas. Ia meminta rivalitas antarklub tidak dibawa ke level tim nasional karena target semua pemain sama, membawa nama Indonesia.

Ridho juga mengajak suporter menghentikan provokasi dan kebencian. “Mari hentikan segala bentuk kebencian dan provokasi, dan dukung siapa pun yang berjuang untuk lambang Garuda,” ujar pemain Persija Jakarta tersebut.

Dukungan serupa datang dari kapten timnas Jay Idzes. Pemain Sassuolo itu menegaskan begitu mengenakan seragam Indonesia, semua pemain bersatu. “Begitu kita mengenakan seragam Indonesia, kita semua bersatu. Kamu adalah bagian dari kami,” tulis Idzes.

Solidaritas pemain senior ke pemain muda ini penting untuk menjaga mental tim. Tekanan dari suporter bisa merusak fokus pemain, padahal timnas sedang fokus menatap agenda kualifikasi dan FIFA Match Day selanjutnya.

Dengan dukungan rekan setim, Beckham diharapkan tetap percaya diri. Timnas butuh semua pemain dalam kondisi mental kuat. Sebab di lapangan, yang berjuang bukan nama klub, melainkan lambang Garuda di dada.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Driver Ojol Sukabumi Keluhkan Kenaikan Pertamax: Penghasilan Potong Rp30 Ribu Per Hari

0
Oplus_131072

Ujang Oman (52) Tahun Pilih Pertamax Sejak 2018, Minta Pemerintah Kaji Ulang Kebijakan Harga BBM

Wartain.com  – Kenaikan harga Pertamax per tanggal 10 Juni 2026, kembali dikeluhkan oleh pengemudi ojek online (Ojol). Ujang Oman (52), driver online yang beroperasi di Kabupaten dan Kota Sukabumi sejak 2018, merasakan langsung dampaknya terhadap pendapatan harian.

Ujang Oman mengaku tetap mengisi BBM jenis Pertamax meskipun harganya naik. Baginya, kualitas bahan bakar non-subsidi itu lebih terjamin untuk kendaraan yang dipakai kerja belasan jam setiap hari.

“Berpengaruh ke penghasilan. Dengan kenaikan harga Pertamax saya kehilangan penghasilan sekitar Rp20-30 ribuan per hari,” ujar Ujang saat ditemui di pangkalan Ojol Sukabumi, Kamis 11/6/2026.

Ia menjelaskan, sebagai ojol yang full time di jalan, konsumsi BBM sangat besar. Selisih harga Pertamax yang naik membuat margin pendapatannya makin tipis, padahal tarif layanan tidak ikut naik.

Selama menjadi pengemudi online, Ujang tidak pernah menggunakan BBM bersubsidi jenis Pertalite. Ada dua alasan utama yang membuatnya setia ke Pertamax sejak 2018.

Alasan pertama, Pertamax lebih awet terhadap mesin motor. “Mesin lebih bersih, tidak gampang ngelitik. Kalau motor rusak, pendapatan bisa berhenti total,” katanya.

Driver Ojol Sukabumi Keluhkan Kenaikan Pertamax: Penghasilan Potong Rp30 Ribu Per Hari (Foto :Aab)

Alasan kedua, Pertamax dinilai lebih irit untuk jarak tempuh jauh. Menurut Ujang Oman, satu liter Pertamax bisa membawa order lebih banyak dibanding Pertalite, sehingga efisiensi waktu dan tenaga lebih baik.

Keluhan Ujang Oman mewakili keresahan ribuan driver ojol lain di Sukabumi. Mereka terjepit di antara kenaikan harga BBM dan biaya perawatan kendaraan, sementara tarif platform masih stagnan.

Kenaikan harga BBM non-subsidi memang mengikuti mekanisme pasar dan harga minyak dunia. Namun bagi pekerja lapangan seperti ojol, perubahan harga sedikit saja langsung terasa di dompet.

Ujang Oma berharap pemerintah mengkaji ulang kebijakan kenaikan harga Pertamax. Ia meminta ada pertimbangan khusus bagi pekerja transportasi online yang 100% bergantung pada kendaraan dan BBM.

“Saya tidak pernah pakai Pertalite bersubsidi. Tapi kalau Pertamax terus naik, kami yang kerja di jalan paling kena imbasnya,” harap Ujang Oman. Ia meminta pemerintah mencari solusi agar daya beli driver tidak anjlok.

Hingga kini belum ada insentif khusus bagi driver ojol terkait kenaikan BBM. Padahal mereka termasuk garda depan mobilitas dan ekonomi digital yang ikut menggerakkan roda usaha mikro di Sukabumi.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Bhabinkamtibmas dan Babinsa Desa Sukasari Dampingi Petani Cabai, Perkuat Ketahanan Pangan dan Kamtibmas

0

Wartain.com – Upaya memperkuat ketahanan pangan nasional terus dilakukan melalui sinergi berbagai elemen, termasuk aparat TNI dan Polri yang aktif mendampingi masyarakat di sektor pertanian. Hal tersebut terlihat dalam kegiatan sambang dan monitoring ketahanan pangan yang dilaksanakan Bhabinkamtibmas Desa Sukasari Polsek Pameungpeuk bersama Babinsa Desa Sukasari di Kampung Waas RT 02 RW 01, Desa Sukasari, Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Bandung, Kamis (11/6/2026).

Kegiatan yang melibatkan Kelompok Tani (Poktan) dan warga setempat tersebut difokuskan pada pemantauan perkembangan budidaya tanaman cabai sebagai salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi tinggi serta berperan penting dalam menjaga stabilitas pasokan pangan masyarakat.

Dalam kesempatan itu, Bhabinkamtibmas dan Babinsa melakukan pengecekan langsung kondisi tanaman cabai di lahan pertanian warga. Selain memantau pertumbuhan tanaman, petugas juga berdialog dengan para petani guna mengetahui berbagai kendala yang dihadapi selama proses budidaya, mulai dari perawatan tanaman, pengendalian hama, hingga faktor cuaca yang dapat memengaruhi produktivitas hasil panen.

Pendampingan tersebut merupakan bentuk dukungan terhadap program pemerintah dalam mendorong pemanfaatan lahan produktif guna meningkatkan ketersediaan pangan sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat berbasis pertanian.

Kehadiran aparat keamanan di tengah aktivitas pertanian juga menjadi bukti nyata sinergitas TNI-Polri dalam mendukung pembangunan masyarakat dari berbagai sektor. Tidak hanya berfokus pada aspek keamanan, aparat turut berperan sebagai mitra masyarakat dalam mendorong keberhasilan program-program strategis yang berdampak langsung terhadap kesejahteraan warga.

Selain monitoring ketahanan pangan, petugas juga menyampaikan pesan-pesan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas). Warga diimbau untuk senantiasa menjaga keamanan lingkungan, meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai bentuk tindak kriminalitas, khususnya pencurian dengan pemberatan (curat), pencurian dengan kekerasan (curas), dan pencurian kendaraan bermotor (curanmor).

Masyarakat juga diajak untuk memperkuat budaya gotong royong, menjaga kerukunan antarwarga, serta membangun komunikasi yang baik dengan aparat keamanan. Apabila ditemukan potensi gangguan kamtibmas maupun persoalan sosial yang dapat mengganggu ketertiban lingkungan, warga diminta segera berkoordinasi dengan Bhabinkamtibmas atau Babinsa agar dapat ditangani secara cepat dan tepat.

Kapolsek Pameungpeuk, Kompol Asep Dedi, S.H., M.M., mengatakan bahwa kegiatan sambang dan monitoring ketahanan pangan merupakan salah satu bentuk kehadiran Polri di tengah masyarakat dalam mendukung program pembangunan nasional sekaligus menjaga stabilitas keamanan wilayah.

“Kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk mendukung program ketahanan pangan, tetapi juga mempererat hubungan kemitraan antara aparat dengan masyarakat. Dengan komunikasi yang baik dan kerja sama yang kuat, diharapkan tercipta lingkungan yang aman, nyaman, serta mampu mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui sektor pertanian,” ujarnya.

Menurutnya, keberhasilan program ketahanan pangan membutuhkan dukungan seluruh elemen masyarakat. Oleh karena itu, sinergitas antara pemerintah, kelompok tani, TNI, Polri, dan masyarakat perlu terus diperkuat agar berbagai potensi pertanian yang dimiliki daerah dapat dimanfaatkan secara optimal.

Melalui kegiatan pendampingan yang berkelanjutan tersebut, diharapkan produktivitas tanaman cabai di Desa Sukasari dapat terus meningkat sehingga memberikan manfaat ekonomi bagi petani, menjaga ketersediaan pasokan pangan, serta mendukung terwujudnya ketahanan pangan yang berkelanjutan di wilayah Kecamatan Pameungpeuk dan Kabupaten Bandung secara umum.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Ape/Biro Ciamis)

PORSADIN 8 Tingkat Kecamatan Jampang Tengah, Jadi Ajang Seleksi Generasi Qurani Berprestasi

0

Wartain.com – Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Kecamatan Jampang Tengah menggelar Pekan Olahraga dan Seni Antar Diniyah (PORSADIN) ke-8 tingkat kecamatan sebagai ajang seleksi peserta terbaik yang akan mewakili Kecamatan Jampang Tengah pada PORSADIN tingkat Kabupaten Sukabumi tahun 2026. Kegiatan ini berpusat di Alun Alun Jepang Tengah, Kamis (11/06/2026).

Kegiatan yang berlangsung meriah tersebut diikuti oleh puluhan peserta dari berbagai Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) yang berada di wilayah Kecamatan Jampang Tengah. Dari total 82 madrasah sebanyak 50 madrasah mengirimkan perwakilannya untuk mengikuti seleksi tahun ini.

Sementara sebagian madrasah lainnya belum dapat berpartisipasi karena berbagai kendala, di antaranya bertepatan dengan kegiatan kenaikan kelas serta faktor jarak yang cukup jauh.

Camat Jampang Tengah, Chaerul Ichwan, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut.

Menurutnya, PORSADIN merupakan sarana penting dalam menjaring putra-putri terbaik untuk dipersiapkan mengikuti PORSADIN tingkat Kabupaten Sukabumi yang dijadwalkan berlangsung pada 24–26 Juli 2026 di Kecamatan Jampangkulon.

“Alhamdulillah hari ini kita telah melaksanakan pembukaan seleksi PORSADIN 8 tingkat Kecamatan Jampang Tengah. Kegiatan ini merupakan bagian dari ikhtiar kita dalam menjaring generasi terbaik yang nantinya akan mewakili kecamatan pada tingkat kabupaten,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi dukungan seluruh unsur yang terlibat, mulai dari Forkopimcam, kepala UPTD, kepala desa, pengurus FKDT, hingga para orang tua yang telah memberikan izin dan pendampingan kepada putra-putrinya selama mengikuti perlombaan.

“Semoga kegiatan ini menjadi ikhtiar bersama dalam membentuk generasi yang saleh dan salehah, generasi Qurani yang mampu membawa keberkahan bagi Kabupaten Sukabumi,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua DPC FKDT Kecamatan Jampang Tengah, Jojong Nasrullah, menjelaskan bahwa PORSADIN tingkat kecamatan ini menjadi tahapan penting dalam proses seleksi peserta menuju tingkat kabupaten dan provinsi.

Menurutnya, sembilan cabang perlombaan dipertandingkan dalam kegiatan tersebut, meliputi berbagai bidang keagamaan yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan di Madrasah Diniyah Takmiliyah, seperti tahfiz Al-Qur’an, Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), Lomba Cerdas Cermat (LCC), dan cabang lainnya.

“Kegiatan ini bertujuan untuk menyeleksi peserta terbaik yang nantinya akan mewakili Kecamatan Jampang Tengah pada PORSADIN tingkat Kabupaten Sukabumi. Harapannya, mereka juga dapat melangkah hingga tingkat Provinsi Jawa Barat,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa sebelumnya sejumlah cabang olahraga juga telah dilaksanakan. Namun untuk tahun ini, beberapa cabang seperti sepak bola tidak dipertandingkan karena mempertimbangkan faktor keselamatan peserta.

Lebih jauh, ia berharap kegiatan PORSADIN dapat menjadi motivasi bagi para santri untuk semakin giat belajar, khususnya dalam bidang pendidikan keagamaan.

“Melalui kegiatan seperti ini, anak-anak memiliki semangat dan motivasi yang lebih besar untuk belajar. Mereka memiliki wadah untuk menunjukkan kemampuan sekaligus mengembangkan potensi yang dimiliki,” katanya.

PORSADIN tingkat Kecamatan Jampang Tengah diharapkan tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana pembinaan karakter, penguatan nilai-nilai keislaman, serta pencarian bibit-bibit unggul yang mampu mengharumkan nama daerah pada tingkat yang lebih tinggi.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Intan)

Pemkot Bandung Dukung Penuh Konprov PWI Jabar 2026, Farhan Siap Jadi Tuan Rumah Agustus Mendatang

0
Oplus_131072

Wartain.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menyatakan dukungan penuh terhadap pelaksanaan Konferensi Provinsi Konprov Persatuan Wartawan Indonesia PWI Provinsi Jawa Barat tahun 2026. Agenda lima tahunan itu dipastikan digelar di Kota Bandung pada Agustus mendatang.

Komitmen tersebut terungkap dalam audiensi jajaran PWI Jawa Barat dengan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan. Pertemuan berlangsung di Pendopo Kota Bandung, Rabu 10 Juni 2026, membahas persiapan teknis dan dukungan Pemkot sebagai tuan rumah.

Dalam pertemuan itu Farhan menegaskan kesiapan Kota Bandung menjadi tuan rumah Konprov PWI Jabar. “Alhamdulillah hari ini kita sudah berdiskusi mengenai persiapan Kota Bandung untuk menjadi tuan rumah Konferensi Provinsi PWI Jawa Barat. Rencananya akan dilaksanakan pada bulan Agustus,” ujar Farhan.

Ia menjelaskan, pelaksanaan Konprov diperkirakan berlangsung pekan kedua Agustus 2026. Berbagai persiapan teknis akan dikoordinasikan intensif antara panitia pelaksana dengan Dinas Komunikasi dan Informatika Diskominfo Kota Bandung.

Menurut Farhan, kehadiran Konprov PWI Jabar di Kota Bandung menjadi momentum penting. Ajang ini dinilai strategis untuk penguatan ekosistem media dan peningkatan kualitas jurnalistik di Jawa Barat.

Konferensi Provinsi PWI Jawa Barat merupakan forum tertinggi organisasi di tingkat provinsi. Forum ini memiliki peran strategis menentukan arah kebijakan, kepemimpinan, dan program kerja organisasi untuk lima tahun ke depan.

Pelaksana Tugas Plt Ketua PWI Jawa Barat Ahmad Syukri A. menjelaskan Konprov memiliki tiga agenda utama. Agendanya penyampaian laporan pertanggungjawaban pengurus, penyusunan program kerja organisasi, serta pemilihan Ketua PWI Jawa Barat periode berikutnya.

“Ini hajatan lima tahun sekali. Agenda utamanya memilih ketua, menyusun program kerja, dan laporan pertanggungjawaban. Kami merancang pelaksanaannya 12–13 Agustus 2026. Insyaallah tempatnya di Hotel Horison. Peserta diperkirakan 1.500 hingga 2.000 anggota PWI se-Jawa Barat,” kata Ahmad Syukri.

Ahmad Syukri mengapresiasi dukungan Pemkot Bandung, khususnya Wali Kota Bandung. “Kami sangat berterima kasih atas dukungan Pemkot Bandung. Bahkan jauh-jauh hari Pak Wali sudah mendeklarasikan dukungan agar Konprov dilaksanakan di Kota Bandung,” ujarnya.

Sebelum Konprov, PWI Jawa Barat juga akan menggelar Uji Kompetensi Wartawan UKW pada 24–25 Juni 2026 di Kota Bandung. Kegiatan ini bagian dari upaya meningkatkan profesionalisme dan kompetensi insan pers di Jawa Barat.

Ketua Panitia Konprov PWI Jawa Barat 2026 Roberto Purba menilai dukungan Pemkot Bandung menunjukkan sinergi erat pemerintah daerah dengan industri media. “Apa pun yang kita lakukan tujuannya untuk kesejahteraan masyarakat. Kami bertekad terus memperbaiki kualitas jurnalisme,” ungkap Roberto.

Secara administratif persiapan berjalan sesuai rencana. Saat ini tercatat sekitar 900 anggota PWI di Jawa Barat yang memiliki hak pilih. Ketua Pokja PWI Kota Bandung Zaenal Ihsan menambahkan, Kota Bandung akan mengemas acara untuk memperkaya literasi kejurnalistikan.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Bupati Sukabumi Resmikan Gedung Serbaguna Desa Sukamulya Kecamatan Cikembar 

0

Wartain.com – Bupati Sukabumi H. Asep Japar meresmikan gedung serbaguna milik Desa Sukamulya yang berlokasi di Kampung Kebonjeruk, RT 03/01, Kecamatan Cikembar, Rabu, 10 Juni 2026. Bangunan yang proses pengerjaannya sejak 2022, kini menjadi kebanggaan masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Sukabumi H. Asep Japar menyebutkan, kehadiran gedung serbaguna tersebut akan sangat bermanfaat bagi desa dan masyarakat. Terutama dari sisi peningkatan pendapatan asli desa.

“Gedung ini bisa dipakai untuk pertemuan, pernikahan, ataupun kegiatan yang dapat meningkatkan pendapatan asli desa,” ujarnya.

Namun tak sekadar itu saja, gedung ini pun dapat menjadi sarana pembentukan bibit atlet Kabupaten Sukabumi.Hal itu dengan memanfaatkan sebagai sarana olahraga masyarakat.

“Ketika keberadaannya dikelola dan dimanfaatkan sebaik mungkin, bisa mencetak bibit atlet dari desa ini,” ucapnya.

Hal itu semisal dipakai berlatih pencaksilat ataupun kegiatan olahraga lainnya. Apalagi di era digital saat ini, kegiatan olahraga menjadi suatu hal yang sangat baik.

“Kegiatan olahraga seperti pencaksilat yang baru saja tampil, menjadi suatu hal positif agar anak tidak terlalu fokus bermain gawai. Jadi manfaatkan gedung ini sebaik mungkin,” ungkapnya

Kepala Desa Sukamulya, Dudun Ibrahim menambahkan, gedung serbaguna ini merupakan cita cita desa sejak lama. Bahkan proses pembangunannya mencapai empat tahun hingga bisa diresmikan hari ini.

“Alhamdulillah sedikit demi sedikit sejak 2022, kita bisa berproses untuk membangun gedung serbaguna ini,” pungkasnya.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Intan)

Gelap Gulita Melanda Jabar: Pemadaman Massal Rabu 10 Juni Bikin Aktivitas Warga Mati Total

0
Oplus_131072

Wartain.com – Warga Jawa Barat dikejutkan pemadaman listrik mendadak pada Rabu, 10/6/2026. Ribuan rumah dan usaha mendadak gelap gulita, membuat aktivitas harian lumpuh tanpa peringatan terlebih dahulu.

Belum ada pengumuman resmi, tapi dampaknya nyata di lapangan. Dari Sumedang di timur hingga Sukabumi di barat, masyarakat kompak mengeluh karena listrik padam berjam-jam tanpa kepastian kapan menyala kembali.

Sumedang jadi wilayah pertama yang terdampak. Pemadaman dimulai pukul 08.00 WIB pagi dan baru pulih pukul 13.00 WIB. Selama 5 jam, siswa daring, pelaku UMKM, dan pekerja WFH terpaksa menghentikan aktivitas karena laptop dan WiFi mati total.

Siang beralih ke sore, giliran Kota Bandung yang kena imbas. Kawasan Cibiru dan Cilengkrang padam mulai 14.00 WIB. Listrik baru normal lagi menjelang magrib, pukul 17.30 WIB. Warga mengaku kerepotan menyiapkan berbuka tanpa penerangan memadai.

Situasi paling parah terjadi di Cipatik, Kabupaten Bandung Barat. Pemadaman dimulai pukul 17.30 WIB sore. Hingga berita ini ditulis malam harinya, wilayah Cipatik masih gelap total. Genset warga sudah meraung-raung karena PLN belum memberi kepastian.

Sukabumi tak luput dari gelombang padam ini. Warga di beberapa kecamatan melaporkan listrik mati tiba-tiba dengan durasi cukup lama. Pola padam yang tidak terjadwal membuat masyarakat sulit beradaptasi.

Kerugian ekonomi langsung terasa. Toko kelontong kehilangan pembeli, kulkas warung es batu meleleh, dan mesin produksi UMKM berhenti. Bagi pekerja digital, deadline pekerjaan terancam molor karena tidak ada arus listrik dan sinyal.

Yang membuat warga resah adalah minimnya informasi. Rabu 10/6/2026 malam, belum ada rilis resmi dari Pemerintah Provinsi Jabar maupun PLN. Penyebab padam, wilayah yang terdampak, dan estimasi nyala kembali masih tanda tanya besar.

Tanpa jadwal pemadaman bergilir yang jelas, masyarakat tidak bisa menyiapkan antisipasi. Power bank cepat habis, bahan bakar genset mahal, dan stok lilin terbatas. Ketidakpastian ini memicu kepanikan, terutama di daerah rawan kriminalitas saat gelap.

Padahal transparansi informasi penting agar warga bisa mengatur ulang aktivitas. Jika penyebabnya gangguan transmisi, perawatan, atau beban puncak, publik berhak tahu agar tidak berspekulasi liar di media sosial.

Masyarakat berharap PLN segera buka suara dan memberikan data real time titik padam. Sementara itu, Pemkab/Pemkot diimbau aktif menyebarkan informasi ke warganya lewat RT/RW dan media sosial resmi daerah.

Sampai listrik kembali normal, warga diminta mencabut steker peralatan elektronik. Langkah ini untuk mencegah kerusakan saat arus listrik kembali menyala tiba-tiba.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)