26.7 C
Jakarta
Selasa, Juni 30, 2026
Beranda blog Halaman 81

Cegah Potensi Pelanggaran Hukum, Timpora Perkuat Pengawasan Terhadap Keberadaan WNA

0
Oplus_131072

Wartain.com – Tim Pengawasan Orang Asing (Timpora) Kabupaten Sukabumi memperkuat pengawasan terhadap keberadaan warga negara asing (WNA) di wilayah Sukabumi. Langkah itu dibahas dalam Rapat Koordinasi Timpora Tahun 2026 yang digelar di Grand Inna Samudra Beach (GISBH) Kecamatan Cikakak, Kamis (21/5/2026).

Rakor yang diinisiasi Kantor Imigrasi Kelas I Non TPI Sukabumi tersebut melibatkan sekitar 112 peserta dari berbagai unsur, mulai dari TNI, Polri, kejaksaan, intelijen, pemerintah daerah, hingga aparat kewilayahan tingkat kecamatan dan desa.

Dandim 0622/Kabupaten Sukabumi diwakili Danramil 2202/Palabuhanratu Kapten Chk Agus Hermansyah. Hadir pula unsur Polres Sukabumi, Denpom III/1-2 Sukabumi, BAIS TNI, BINDA Sukabumi, Kejari Kabupaten Sukabumi, BNNK Sukabumi, Kesbangpol, para camat, kepala KUA, hingga Babinsa dan Bhabinkamtibmas.

Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Non TPI Sukabumi, Henki Irawan, mengatakan pengawasan terhadap orang asing tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus melibatkan seluruh unsur lintas sektoral.

Menurutnya, keberadaan WNA di Indonesia diharapkan dapat memberi dampak positif terhadap pembangunan dan investasi. Namun, di sisi lain, pengawasan juga harus diperketat guna mencegah potensi pelanggaran hukum maupun penyalahgunaan izin tinggal.

“Sinergitas lintas sektoral menjadi kekuatan utama Timpora dalam menjaga stabilitas dan keamanan wilayah,” ungkapnya.

Dalam rakor tersebut, Hengki memaparkan hasil pengawasan lapangan, termasuk pengungkapan dugaan jaringan penipuan daring internasional atau love scamming yang melibatkan WNA di wilayah Sukabumi.

Selain itu, sektor pertambangan dan kawasan pesisir turut menjadi perhatian karena dinilai rawan terhadap penyalahgunaan izin tinggal dan aktivitas tenaga kerja asing ilegal.

Melalui forum tersebut, seluruh peserta menyepakati penguatan patroli gabungan terpadu, optimalisasi pertukaran informasi intelijen antarinstansi, serta peningkatan edukasi kepada masyarakat terkait bahaya Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan Tindak Pidana Penyelundupan Manusia (TPPM).***

Editor : Aab Abdul Malik

(Intan)

Tatap Masa Depan Pesisir, Putri Nelayan Ke-66 Ajak Generasi Muda Palabuhanratu Rawat Tradisi Labuh Saji

0

Wartain.com – Putri Nelayan Palabuhanratu ke-66, Gladys Aura Zalfa, mengajak seluruh generasi muda di Kabupaten Sukabumi untuk aktif menjaga dan melestarikan kebudayaan lokal pesisir. Siswi SMA Negeri 1 Palabuhanratu tersebut menegaskan bahwa keterlibatan anak muda sangat krusial agar tradisi leluhur seperti upacara adat Labuh Saji tidak punah ditelan zaman. Palabuhanratu, Kamis (21/5/2026).

Hal itu disampaikan Gladys di sela-sela istirahat setelah prosesi upacara adat Hari Nelayan Palabuhanratu ke-66 yang berlangsung khidmat di kawasan pesisir Pantai Palabuhanratu, Sukabumi. Mengenakan pakaian adat hijau lengkap dengan mahkota keemasan yang megah, ia tampak didampingi oleh tokoh adat setempat saat melayani wawancara dengan awak media.

Dalam keterangannya, Gladys menyoroti pentingnya menumbuhkan rasa penasaran yang tinggi di kalangan generasi muda terhadap akar budaya mereka sendiri.

“Bagi saya caranya itu adalah kita sebagai generasi muda harus tahu dan punya rasa penasaran yang besar akan budaya, sehingga budaya itu akan tetap lestari dan selalu ada setiap tahunnya,” ujar Gladys.

Terkait pelaksanaan ritual Labuh Saji yang baru saja selesai digelar, Gladys menjelaskan bahwa pelarungan sesajen berupa hasil bumi dan laut tersebut merupakan simbol rasa syukur yang mendalam atas rezeki yang melimpah.

“Harapan saya, semoga nelayan bisa mendapatkan tangkapan ikan yang lebih banyak dan juga lebih berkah ke depannya,” tambahnya penuh harap.

Guna memperluas jangkauan promosi wisata dan budaya daerah, dara yang berstatus sebagai pelajar SMA ini berkomitmen untuk memanfaatkan teknologi digital. Gladys berencana memproduksi berbagai konten edukatif dan informatif di media sosial pribadinya sebagai wadah utama pengenalan potensi maritim Palabuhanratu ke kancah yang lebih luas.

Menutup wawancara, Gladys optimistis bahwa sinergi antara pelestarian budaya tradisional dan pemanfaatan media digital oleh anak muda dapat mendongkrak sektor pariwisata daerah. Upacara Hari Nelayan ke-66 ini pun diharapkan tidak hanya menjadi tontonan tahunan, melainkan menjadi momentum kebangkitan ekonomi dan identitas budaya masyarakat pesisir Sukabumi.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Yosep)

BKPSDM Sukabumi Perkuat Kompetensi Pengawas Lewat Pelatihan Kepemimpinan

0

Wartain.com – BKPSDM Kabupaten Sukabumi terus mendorong peningkatan kualitas aparatur sipil negara melalui Pelatihan Kepemimpinan Pengawas Angkatan V Tahap Klasikal yang digelar pada Senin, (18/05/2026).

Kegiatan tersebut diikuti para pejabat pengawas sebagai upaya memperkuat kapasitas manajerial dan meningkatkan kualitas pelayanan publik yang akuntabel.

Kepala BKPSDM Kabupaten Sukabumi, Ganjar Anugrah, menegaskan bahwa peran pejabat pengawas sangat penting dalam memastikan pelayanan kepada masyarakat berjalan efektif, profesional, dan responsif terhadap kebutuhan warga.

Menurutnya, pelatihan kepemimpinan bukan sekadar kegiatan formal, tetapi menjadi langkah strategis dalam membentuk aparatur yang memiliki integritas, kemampuan memimpin, serta mampu menciptakan perubahan positif di lingkungan kerja.

“Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan tidak hanya memahami konsep kepemimpinan, tetapi juga mampu menerapkannya dalam pelaksanaan tugas sehari-hari, terutama dalam pelayanan publik,” ujarnya, Rabu (20/5/2026).

Ia menjelaskan, para peserta diarahkan untuk membangun pola kepemimpinan yang mengedepankan kolaborasi, inovasi, serta orientasi pada hasil kerja yang nyata.

Dengan kompetensi tersebut, pejabat pengawas diharapkan mampu menjadi motor penggerak birokrasi yang adaptif dan profesional.

Selain meningkatkan kemampuan manajerial, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Sukabumi dalam menyiapkan pemimpin birokrasi yang siap menghadapi tantangan pemerintahan modern.

Ganjar menambahkan, seorang pengawas harus mampu menjadi teladan bagi tim kerja, memiliki keberanian untuk berinovasi, dan mampu membangun kerja sama yang solid di lingkungan organisasi.

“Pengawas harus mampu menggerakkan tim dan menghadirkan solusi dalam setiap tantangan pelayanan. Dengan kepemimpinan yang kuat, birokrasi akan lebih cepat dan tepat dalam merespons kebutuhan masyarakat,” pungkasnya.

Melalui pelatihan tersebut, BKPSDM berharap lahir aparatur yang profesional dan berdaya saing guna mendukung terwujudnya Kabupaten Sukabumi yang Maju, Unggul, Berbudaya, dan Berkah (MUBARAKAH).***

Editor : Aab Abdul Malik

(Intan)

Aditiya Pratama Wahyudi, Raih Emas Cabor Tenis Meja Ajang O2SN SMP Tingkat Kabupaten Sukabumi 2026

0

Wartain.com – Aditiya Pratama Wahyudi, sukses meraih medali emas cabang olahraga tenis meja pada ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional SMP Tingkat Kabupaten Sukabumi 2026, yang berlangsung di Komplek Ponpes Terpadu Yaspida, Kadudampit, Kabupaten Sukabumi, Kamis 21/05/2026.

Adit, yang tercatat sebagai siswa kelas VII SMPN 2 Nagrak, Rayon Cibadak tersebut, menuntaskan perlawanan para pesaingnya hingga babak final.

Perjalanannya menuju podium juara dimulai dari babak 16 besar. Adit mengalahkan perwakilan Kecamatan Lengkong, Rayon Cikembar dengan skor 3-2. Di babak 8 besar, ia kembali menunjukkan dominasinya dengan mengalahkan perwakilan Kecamatan Kadudampit, Rayon Cisaat dengan skor 3-1.

Memasuki babak semifinal, tekad Adit untuk menjadi juara semakin terlihat. Ia menang telak 3-0 atas perwakilan Kecamatan Surade, Rayon Jampangkulon.

Pertandingan paling sengit tersaji di babak final. Bermain di hadapan ratusan penonton, Adit tampil kompetitif dan berhasil mengalahkan Alarik Tafta Ghaly dari SMP IT Al Husna Rayon Cicurug dengan skor 3-1.

Aditiya Pratama Wahyudi, Raih Emas Cabor Tenis Meja Ajang O2SN SMP Tingkat Kabupaten Sukabumi 2026 (Foto: Yud)

“Terima kasih kepada Allah SWT, orang tua, guru-guru (khususnya di SMPN 2 Nagrak), dan pelatih saya. Ini perjuangan yang tidak mudah. Alhamdulillah bisa menjadi yang terbaik di tingkat kabupaten,” ungkap Adit usai pertandingan.

Ia menambahkan, kemenangan ini adalah hasil kerja keras selama berlatih. “Berkat bimbingan dan motivasi semua pihak, akhirnya saya dapat meraih emas cabor tenis meja,” tambahnya.

Pelatih Adit, Yudi Sutiadi, mengatakan keberhasilan anak didiknya tidak lepas dari semangat dan daya juang selama latihan.

“Ya, ini adalah bukti bahwa perjuangan tidak akan sia-sia selama mau berlatih. Saya pribadi sangat mengapresiasi semangat Adit yang selalu konsisten berlatih,” kata Yudi.

Yudi berharap Adit terus meningkatkan kemampuannya. Menurutnya, gelar juara kabupaten bukan akhir dari segalanya.

“Saya berharap porsi latihannya terus ditingkatkan. Dengan begitu, prestasi di jenjang yang lebih tinggi akan tercapai, baik tingkat provinsi, nasional, bahkan internasional,” pungkasnya.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Reformasi Dikhianati dari Dalam: Dari Aktifis Jalanan Menjadi Tukang Cuci Kotoran

0

Oleh: BARIKADE 98

Wartain.com – Rupanya sejarah memang punya selera humor yang gelap tentang gerakan reformasi 98. Dua puluh delapan tahun kemudian, sebagian orang yang dulu berteriak paling keras tentang demokrasi justru terlihat paling sibuk mengamankan kenyamanan di sekitar kekuasaan. Dan setelah 28 tahun berlalu, pengkhianatan terbesar terhadap Reformasi ternyata bukan bukan datang dari sisa-sisa Orde Baru. Pengkhianatan itu justru datang dari dalam tubuh gerakan itu sendiri. Dari orang-orang yang dulu mengaku paling revolusioner, dari mereka yang dulu paling keras berteriak tentang demokrasi dan HAM.

Di titik inilah sejarah terasa seperti satire politik yang terlalu kejam untuk dipercaya. Sebagian eks aktivis 98 kini mendukung Prabowo Subianto dengan semangat yang nyaris spiritual. Sosok yang selama bertahun-tahun tidak pernah lepas dari kontroversi penculikan dan penghilangan paksa aktivis menjelang Reformasi, kini diperlakukan seperti tokoh yang harus dibela dari kritik sejarah. Dan ironinya terasa terlalu sempurna untuk disebut kebetulan.

Ironi politik macam apa ini? Dulu mereka menyebut penculikan aktivis sebagai kejahatan terhadap demokrasi. Sekarang mereka marah ketika publik mengingat sejarah itu. Dulu mereka bicara tentang penghilangan paksa dengan mata merah penuh amarah.
Sekarang mereka sibuk menjelaskan mengapa rakyat harus “move on.” Dulu mereka melawan kekuasaan karena dianggap otoriter. Sekarang mereka menjadi humas moral bagi kekuasaan yang memiliki bayang-bayang gelap pelanggaran HAM Reformasi 98. Dan yang paling menjijikkan: mereka melakukannya sambil tetap memakai identitas “Aktivis 98.” Seolah sejarah bisa dicuci dengan jabatan. Seolah darah para korban bisa diputihkan dengan pidato persatuan nasional. Seolah luka keluarga korban penculikan bisa disembuhkan dengan gelaran jamuan makan.

Mereka kini seperti mantan vegetarian yang menjadi duta rumah potong hewan: bukan sekadar berubah posisi, tetapi aktif mempromosikan apa yang dulu mereka kutuk. Dulu mengepal tangan melawan tirani. Sekarang mengepal proposal proyek sambil bicara tentang persatuan nasional. Dulu berteriak “lawan otoritarianisme!” Sekarang menjadi satpam moral penguasa.

Dan betapa tragisnya melihat sebagian aktivis berubah menjadi kipas angin hidup kekuasaan: berputar ke mana arah angin istana bertiup. Mereka menjadi tukang cuci jubah yang penuh darah orang yang saat ini mereka sembah, padahal dulu sangat membuat mereka marah.

Mereka mungkin lelah, maka saatnya sekarang mereka mengaku realistis. Mereka menyebut itu kedewasaan politik. Mereka menyebutnya ini strategi. Padahal sering kali itu hanyalah nama lain dari kelelahan moral dan kelaparan jabatan.

Sementara di sudut lain republik ini, keluarga korban penculikan masih hidup dengan luka yang tidak pernah selesai. Masih ada ibu yang menunggu anaknya pulang. Masih ada sejarah yang belum mendapatkan keadilan. Tetapi para mantan aktivis itu kini terlalu sibuk menikmati cahaya lampu kekuasaan untuk peduli pada bayangan orang-orang yang hilang.

Dulu mereka bicara tentang pelanggaran HAM dengan nada penuh amarah. Sekarang mereka bicara tentang stabilitas nasional dengan nada penuh kelembutan. Dulu mereka menuntut negara mengakui dosa sejarah. Sekarang mereka justru terlihat sibuk meminta rakyat melupakan sejarah demi rekonsiliasi. Tampaknya sebagian aktivis memang mengalami evolusi politik yang menarik sekaligus demoralisasi yang menjijikan : dari oposisi jalanan menjadi dekorasi moral kekuasaan.
Tentu saja tidak ada yang salah ketika aktivis masuk ke dalam pemerintahan. Demokrasi justru membutuhkan orang-orang yang memiliki pengalaman gerakan sosial untuk ikut mengelola negara. Masalahnya bukan pada keberadaan mereka di lingkar kekuasaan. Masalahnya adalah ketika mereka secara totalitas berubah dari pengontrol kekuasaan menjadi pembela tanpa kritik terhadap kekuasaan yang secara historis memiliki noda gelap pelanggaran HAM yang dulu dilawannhya.

Di situlah kritik sosial berubah menjadi tepuk tangan protokoler. Dan di republik ini, tepuk tangan sering kali jauh lebih menguntungkan daripada keberanian. Kita lalu menyaksikan fenomena yang unik: para mantan aktivis tampak lebih sensitif terhadap kritik kepada penguasa dibanding terhadap luka keluarga korban pelanggaran HAM itu sendiri. Lebih ironis lagi, sebagian dari mereka kini tampak sibuk menjadi “petugas kebersihan dan tukang cuci sejarah sejarah”: memoles citra kekuasaan, merelativisasi luka masa lalu, dan meminta publik melupakan tragedi penculikan aktivis atas nama rekonsiliasi nasional.

Mereka yang dulu curiga pada negara, kini justru curiga pada ingatan publik. Mereka terlihat sibuk merawat citra kekuasaan seperti petugas museum yang takut koleksi utamanya disentuh debu sejarah. Jika dulu negara dituduh gemar menculik orang, kini yang diculik justru ingatan kolektif masyarakat. Dan penculiknya bukan hanya negara, tetapi juga sebagian bekas aktivis yang dahulu mengaku melawan otoritarianisme.

Mereka kini terdengar sangat dewasa. Sangat realistis. Sangat moderat. Bahkan terlalu moderat, sampai-sampai kehilangan keberanian untuk berkata bahwa ada sejarah yang belum selesai. Ada hutang yang belum lunas dibayar tentang kawan mereka yang diculik dan dibunuh.

Yang menyedihkan, sebagian eks aktivis kini terdengar seperti sedang berperang melawan masa lalu mereka sendiri. Di titik tertentu, perubahan sikap politik memang sah. Demokrasi memberi ruang bagi setiap orang untuk berubah pandangan. Namun sejarah juga berhak bertanya: apakah perubahan itu lahir dari refleksi moral dan kepentingan bangsa, atau sekadar kompromi dengan kenyamanan dan akses kekuasaan sekalipun dengan harus memakan bangkai temannya sendiri?

Di situlah cita-cita Reformasi mulai kehilangan makna. Reformasi tidak runtuh karena serangan musuh-musuh demokrasi semata. Ia perlahan terkikis dari dalam oleh sebagian bekas pejuangnya sendiri yang memilih berdamai dengan kekuasaan. Karena besarnya tuntutan hidup, tidak siap miskin, beratnya beban perubahan gaya hidup dan yang lainnya memang karena karakter dan moral yang sejak awal memang busuk. Kalaupun dulu mereka ada di barisan gerakan reformasi, lebih karena gerakan reformasi bagi mereka ahanya sekedar momentum. Momentum karena kebetulan berdomisili di jakarta, momentum karena saat dijalan ada kerumunan massa aksi yang menuntut dia ikut bergabung, ada yang diajak teman untuk sekedar ikut meramaikan aksi dan juga tidak sedikit diantara mereka yang menjadi tokoh gerakan karena sebenarnya disiapkan atau menjadi bagian dari skenario kekuasaan tentara. Bahkan jika di lacak lebih jauh ke belakang, sebagian besar dari mereka tidak memiliki sejarah yang pernah hidup melakukan pendampingan atas kasus-kasus rakyat dilapangan dan tidak punya pengalaman panjang melukan pendidikan politik perlawanan rakyat di medan-medan dimana rakyat megalami penindasan.

Dan mungkin inilah tragedi terbesar Reformasi Indonesia: bahwa sebagian orang yang dahulu berdiri paling depan melawan otoritarianisme, kini justru menjadi pagar hidup bagi kekuasaan yang dulu mereka kritik dengan penuh kemarahan. Beginilah cara idealisme mati di zaman modern: bukan dibunuh secara brutal, tetapi dibius perlahan oleh akses kekuasaan, fasilitas negara, dan kenyamanan politik. Sekalipun kawan-kawan sendiri yang menjadi martir gerakan reformasi yang harus dikhianati.

Para aktivis adalah kelompok yang mulai percaya bahwa dosa sejarah bisa diputihkan dengan jabatan. Bahwa luka penculikan bisa disembuhkan dengan pidato persatuan. Bahwa kritik terhadap penguasa otomatis berarti ancaman terhadap bangsa. Padahal demokrasi justru sehat ketika kekuasaan terus dicurigai. Sebab kekuasaan, seperti gula bagi semut, selalu mengundang kerumunan orang yang awalnya datang membawa idealisme, lalu pulang membawa kartu akses. Yang menarik, mereka itu sampai masih senang dikenang sebagai “pejuang reformasi”. Mereka masih bercerita tentang demonstrasi, heroisme saat memimpin aksi massa, gas air mata, dan malam-malam konsolidasi gerakan. Padahal, bagi mereka yang telah berkhianat terhadap apa yang diperjuangkannya dulu saat dijalanan, mereka tidak memiliki hak sedikitpun atas masa lalunya itu. Perjuangannya telah terhapus oleh pengkhianatannya sendiri.

Maka untuk mereka yang masih percaya bahwa Reformasi bukan sekadar tanggal dalam buku sejarah, ada satu pelajaran penting yang harus dijaga: demokrasi tidak pernah benar-benar mati karena musuh di luar. Ia lebih sering mati pelan-pelan karena pengkhianatan dari dalam. Untuk kawan-kawan yang masih setia menjaga cita-cita Reformasi 98: jangan ikut mabuk oleh parfum kekuasaan. Tetaplah kritis meski sendirian dan jangan pernah menjadi manusia yang menjual kuburan kawannya sendiri demi tiket masuk ke istana. Karena sejarah selalu menyediakan satu tempat paling hina bagi pengkhianat perjuangan: diingat tanpa kehormatan. Dan bagi mereka, jangankan Surga, Neraka pun mungkin akan menolaknya.

Karena itu, tugas terbesar generasi hari ini bukan hanya melawan otoritarianisme, tetapi juga melawan godaan dari mereka yang dulu pernah kita lawan. Dari mereka yang dulu telah menghilangkan nyawa kawan-kawan kita seperjuangan. Sebab ketika aktivis berhenti kritis dan mulai sibuk menjadi pemaklum penguasa, saat itulah reformasi berubah dari gerakan moral menjadi sekadar merchandise politik nostalgia. Dan siapapun yang dengan tega memakan bangkai kawannya sendiri dimana kematiannya dijual dengan cara mura hanya untuk mendapatkan cuan dan kekuasaan, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang akan dihinakan oleh sejarah, agama dan tuhan yang diyakininya.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Truk Diduga Rem Blong Tabrak Mobil Box di Pertigaan Palabuhanratu, Arus Lalu Lintas Sempat Tersendat

0

Wartain.com – Kecelakaan lalu lintas terjadi di kawasan pertigaan Jalan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Kamis (21/5/2026) sekitar pukul 10.00 WIB.

Sebuah truk pengangkut tanah diduga mengalami rem blong hingga menabrak mobil box yang berada di belakangnya. Peristiwa tersebut mengundang perhatian warga dan pengguna jalan yang melintas di lokasi kejadian.

Truk pengangkut tanah bernomor polisi B 9111 U disebut kehilangan kendali saat melintasi jalur menurun, lalu menghantam mobil box bernopol B 9563 PCI yang berada tepat di belakangnya.

Salah seorang saksi mata, Agus (45), mengatakan kejadian berlangsung secara tiba-tiba. Menurutnya, truk sempat bergerak maju dan mundur tanpa dapat dikendalikan sebelum akhirnya menabrak kendaraan lain.

“Truk pengangkut tanah itu sempat maju lalu mundur lagi, seperti tidak kuat menahan beban. Mobil box juga tidak sempat menghindar karena jalurnya satu arah dari arah Sukabumi,” ujar Agus kepada wartawan. Akibat benturan tersebut, bagian depan mobil box mengalami kerusakan cukup parah.

Sejumlah pecahan bodi kendaraan berserakan di sekitar lokasi dan sempat menyebabkan arus lalu lintas tersendat beberapa saat. Sementara itu, sopir mobil box, Ahmad (29), mengaku terkejut saat truk tiba-tiba mundur ke arah kendaraannya.

Ia mengatakan saat kejadian dirinya baru selesai mengantarkan barang dari Tangerang menuju Sukabumi. “Saya lagi berhenti mau turun, tiba-tiba truk dari depan mundur karena diduga rem blong. Bagian depan mobil langsung rusak,” ungkap Ahmad.

Beruntung tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Namun kerugian materi diperkirakan cukup besar akibat kerusakan yang dialami kedua kendaraan. Hingga berita ini diturunkan, pihak Satlantas Polres Sukabumi belum memberikan keterangan resmi terkait penyebab pasti kecelakaan tersebut.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Intan)

Diskominfosan Kabupaten Sukabumi Peringati Hari Kebangkitan Nasional ke-118 Tahun 2026

0

Wartain.com – Pemerintah Kabupaten Sukabumi melalui Dinas Komunikasi Informatika dan Persandian (Diskominfosan) Kabupaten Sukabumi mengucapkan Selamat Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-118 Tahun 2026 yang diperingati setiap tanggal 20 Mei. Peringatan Harkitnas tahun ini mengusung tema “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara”.

Momentum tersebut menjadi pengingat penting bagi seluruh elemen masyarakat untuk terus menumbuhkan semangat persatuan, gotong royong, serta kontribusi nyata dalam pembangunan bangsa.

Diskominfosan Kabupaten Sukabumi mengajak masyarakat untuk menjadikan Hari Kebangkitan Nasional sebagai semangat bersama dalam bangkit, bergerak, dan bersinergi menghadapi berbagai tantangan di era digital dan globalisasi.

Semangat kebangkitan juga diwujudkan melalui peningkatan inovasi, kolaborasi, serta pelayanan publik yang semakin baik bagi masyarakat.

Selain itu, Harkitnas menjadi momentum untuk memperkuat rasa nasionalisme dan kepedulian terhadap generasi muda sebagai penerus bangsa.

Dengan menjaga persatuan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia, diharapkan Indonesia mampu menjadi negara yang maju, mandiri, dan berdaya saing.

Melalui peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-118 Tahun 2026, Diskominfosan Kabupaten Sukabumi berharap semangat kebangkitan terus tumbuh dalam kehidupan masyarakat demi mewujudkan Indonesia yang lebih kuat, sejahtera, dan berkemajuan.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Intan)

Tata Kelola SDA dan Ekonomi Nasional: Catatan Kritis atas Pidato Presiden di DPR

0
Oplus_131072

Wartain.com – Pidato Presiden Prabowo Subianto pada sidang Paripurna DPR RI, Rabu 20 Mei 2026, memang sangat menggelegar. Bukan karena angka asumsi dalam penyusunan RAPBN 2027 realistis atau tidak, tetapi pada kerangka ekonomi makro ke depan. Permasalahan ekonomi dikemukakan secara gamblang. Hal yang paling disoroti bukan pada kegaduhan geopolitik, tetapi lebih banyak pada masalah internal, fokusnya pada masalah tata kelola sumber daya alam Indonesia.

Sangat tepat jika Presiden Prabowo mengungkap hampir semua kenyataan yang memang masalah kronis selama ini. Komoditas ekspor dari hasil sumber daya alam telah memperkaya sekelompok kecil orang dengan ribuan triliun rupiah. Ekonomi tumbuh 35% selama 7 tahun terakhir, tetapi UMKM banyak yang terpuruk. Jumlah rakyat yang menghadapi kemiskinan dan kesenjangan tidak menurun secara signifikan.

Presiden juga menunjukkan data keuntungan dari ekspor sekitar US$ 430 miliar dan capital outflow sekitar Rp 350 miliar, sehingga tersisa di dalam negeri hanya sekitar US$ 100 miliar. Bahkan diduga angka yang dilaporkan sering lebih kecil dari hasil fakta penjualan, termasuk karena adanya praktik manipulasi seperti under invoicing, under counting, dan transfer pricing. Belum lagi hasil penyelundupan kayu, ikan, hasil tambang, migas, dsb, yang nilainya juga ratusan triliun rupiah.

Tentu saja devisa tidak semua masuk ke dalam negeri. Kekayaan kita bocor di mana-mana. Dugaannya untuk menghindarkan pajak dan pembayaran royalti. Selama ini pemerintah mengakui kurang pengawasan. Bahkan hukum tidak ditegakkan. Tata kelola sumber daya alam kita sangat koruptif sehingga perlu direformasi besar-besaran.

Jika dilaporkan dengan benar dan devisa disimpan di dalam negeri, maka APBN seharusnya jauh lebih besar dan yakin mampu meningkatkan gaji guru, ASN, subsidi kepada nelayan dan petani, serta kepada kaum miskin. Rasio APBN terhadap PDB Indonesia hanya sekitar 11%, jauh di bawah negara Filipina, Vietnam, Malaysia, dsb. Ketahanan rupiah terhadap USD juga akan lebih kuat. Banyak data disampaikan Presiden memperkuat argumennya.

Kita patut menghargai keberanian Presiden mengungkapkan persoalan ini karena keterbukaan ini akan menyinggung perilaku sebagian besar orang-orang terkaya di republik ini. Tetapi kita berharap solusinya efektif untuk menyelesaikan permasalahan, dan tidak menimbulkan masalah baru. Rakyat pasti mendukung, tentu dengan akal sehat.

Solusi yang disampaikan oleh Presiden sudah dalam bentuk Peraturan Pemerintah (PP). BUMN ditunjuk sebagai marketing body untuk komoditas yang berasal dari kekayaan alam kita. Perusahaan swasta yang telah kaya raya selama ini tidak boleh mengekspor sendiri, wajib melalui BUMN yang ditunjuk.

Di sini kita perlu tarik napas panjang. Apakah kebijakan ini bisa jadi solusi? Apakah tidak akan menimbulkan permasalahan baru? Apakah ada jaminan kalau kebocoran atau korupsi bisa dihilangkan jika dilakukan oleh BUMN dengan hak monopoli? Semua ini patut dikaji lebih lanjut.

Sebenarnya, permasalahan ekonomi kita adalah high cost economy, transparansi kebijakan, dan keakuratan data. Tata kelola itu bukan soal pelaku usaha swasta atau BUMN, tetapi soal pengawasan dan penegakan hukum dari pemerintah. Ada juga soal regulasi dan perizinan.

Sebagai contoh, bursa saham siang ini, saat Presiden menyampaikan pidato, langsung terjungkal balik arah menjadi merah merona. Signal tentang pengalihan ke BUMN belum bisa ditelaah oleh pasar. Rasa terkejutnya masih mendominasi. Pemilik modal menarik dananya dari bursa. Investor asing juga melakukan penjualan saham membabi buta. Kurs Rupiah melemah di atas Rp 17.700 per USD. Begitulah sambutan investor bursa siang ini, meskipun beberapa hari terakhir telah beredar kebijakan baru ini.

Ke depan pasti ramai diskusi publik baik di media sosial maupun di ruang formal. Bagaimana pula respon para pelaku usaha terkait, apakah bisa menerima kebijakan baru ini? Atau pemerintah akan mengambil tindakan hukum atas praktik penyimpangan selama ini, termasuk kepada pelaku transfer pricing dan under invoicing?

Masalah kejujuran dan keterbukaan data/informasi dari pihak pemerintah dan pengusaha juga masih belum selesai. Sistem dan penegakan hukum perlu direformasi. Dari pidato Presiden kita sadar bahwa tugas pemerintah masih sangat berat. Kita sebagai rakyat perlu memberikan dukungan penuh.

Sebagai catatan akhir, pada intinya kita membutuhkan sistem ekonomi yang bersaing sehat, efisien, produktif, dan berdaya saing, serta manfaatnya dapat langsung dinikmati oleh rakyat banyak. Korupsi harus diberantas dan hukum harus ditegakkan secara adil tanpa pandang bulu. Inilah tata kelola ekonomi yang kita butuhkan. Semoga bermanfaat.***

Penulis : Ir. S Benny Pasaribu, MEc PhD/Mantan Ketua Panitia Anggaran DPR RI/Mantan Ketua KPPU RI

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Petani Milenial Sukabumi Wakili Jabar, Raih Peringkat 6 Nasional di Ajang Young Ambassador Agriculture 2026

0
Oplus_131072

Wartain.com – Jaenal Abidin (33), petani milenial asal Kampung Sukasirna, Desa Mekarmukti, Kecamatan Waluran, mengharumkan nama Kabupaten Sukabumi di kancah nasional. Ketua Waluran Green Farmer (WGF) itu berhasil menempati posisi keenam pada Grand Final Young Ambassador Agriculture (YAA) 2026.

Kompetisi bergengsi ini digagas Kementerian Pertanian melalui program Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS), International Fund for Agricultural Development (IFAD), serta Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan.

Nama para pemenang diumumkan Rabu malam, 20 Mei 2026, setelah rangkaian penjurian rampung di Kompleks Surya BBPMKP Ciawi. Kepala BPPSDMP Kementan dr. Idha Widi Arsanti turut hadir menyaksikan pengumuman tersebut.

Jaenal berhasil mengungguli ratusan peserta dari seluruh Indonesia. Dari 30 finalis yang lolos ke tahap akhir, ia masuk dalam 20 besar nasional sebelum akhirnya meraih peringkat enam.

“Proses penjurian offline berlangsung sejak Selasa malam hingga Rabu sore. Dari lima wakil Jawa Barat yang lolos, hanya saya yang dikukuhkan sebagai perwakilan Kabupaten Sukabumi,” kata Jaenal pada Kamis, 21 Mei 2026.

Ia menyampaikan rasa syukur atas pencapaian ini dan menyebut keberhasilannya tidak lepas dari dukungan banyak pihak. Mulai dari Pemkab Sukabumi, Dinas Pertanian, BPP Waluran, Forkopimcam, pemerintah desa, hingga anggota Waluran Green Farmer.

“Alhamdulillah berkat dukungan semua stakeholder, kami bisa berbicara soal pertanian di level nasional. Ini bukan hal mudah, butuh proses panjang dan kerja keras, terutama bagi anak muda yang ingin serius di bidang pertanian,” ujarnya.

Jaenal juga mendorong generasi muda agar tidak ragu terjun ke dunia pertanian. Menurutnya, sektor ini punya potensi besar jika dikelola dengan inovasi dan semangat optimistis.

“Jangan mudah putus asa. Anak muda harus berani berinovasi dan optimistis dalam mengembangkan pertanian,” pesannya.

Waluran Green Farmer sendiri merupakan kelompok tani milenial yang berdiri sejak 2022. Komunitas ini dikenal aktif dan produktif, terutama dalam pengembangan bibit cabai serta berbagai inovasi pertanian di wilayah selatan Sukabumi.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi Aep Majmudin turut mengapresiasi prestasi Jaenal. Ia menyebut petani muda itu sebagai inspirasi bagi generasi tani di daerah.

“Selamat dan sukses untuk Jaenal Abidin atas raihan Peringkat 6 Young Ambassador Agriculture 2026 dari Kementerian Pertanian RI,” kata Aep.

Ia menambahkan, berkarya di sektor pertanian bukan hanya soal profesi, tetapi juga panggilan untuk menjaga ketahanan pangan bangsa.

“Prestasi ini diharapkan memotivasi petani lain untuk mewujudkan swasembada berkelanjutan dan kemandirian pangan sesuai visi daerah dan Asta Cita Presiden. Semoga Jaenal terus sukses mengemban amanah sebagai duta tani muda yang inspiratif, inovatif, dan unggul,” tegasnya.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Warisan Budaya Mendunia, Asep Japar Lepas Tradisi Festival Hari Nelayan Palabuhanratu, Sukabumi ke-66

0

Wartain.com – Suasana khidmat sekaligus meriah menyelimuti halaman Pendopo Kabupaten Sukabumi. Bupati Sukabumi, Asep Japar, secara resmi membuka sekaligus melepas langsung iring-iringan rombongan Festival Hari Nelayan Palabuhanratu yang ke-66, Kamis (21/5/2026).

Acara tahunan yang sarat akan nilai budaya ini dihadiri oleh ribuan warga, tokoh masyarakat, serta jajaran forkopimda setempat.

Dalam sambutannya yang penuh apresiasi, Bupati Asep Japar menegaskan pentingnya menjaga tradisi leluhur sebagai identitas daerah. Ia menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh panitia dan masyarakat nelayan yang telah bekerja keras menyukseskan gelaran akbar ini. Menurutnya, sinergi yang kuat adalah kunci utama tetap lestarinya budaya lokal di tengah era modernisasi.

“Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh panitia dan elemen masyarakat. Budaya Hari Nelayan ini adalah warisan yang sangat berharga, dan harus terus kita jaga serta lestarikan setiap tahunnya,” ujar Asep Japar di hadapan para peserta festival.

Lebih lanjut, Bupati juga menekankan bahwa Festival Hari Nelayan bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan wujud rasa syukur atas melimpahnya hasil laut Sukabumi. Event ini diharapkan mampu menjadi magnet pariwisata yang kuat, sehingga dapat mendongkrak perekonomian masyarakat pesisir, khususnya di wilayah Palabuhanratu dan sekitarnya.

Pelepasan rombongan festival ditandai dengan prosesi simbolis yang dipimpin langsung oleh Bupati dari halaman Pendopo. Rombongan yang terdiri dari mobil hias, pelaku seni adat, dan perwakilan nelayan tersebut kemudian bergerak menuju pusat kegiatan di pesisir Palabuhanratu, mengundang antusiasme luar biasa dari warga yang memadati sepanjang rute jalan.

Acara yang berlangsung tertib dan semarak ini menjadi bukti nyata komitmen Pemerintah Kabupaten Sukabumi dalam merawat kebudayaan lokal. Dengan menginjak usia yang ke-66, Festival Hari Nelayan Palabuhanratu diharapkan dapat terus berkembang menjadi event berskala nasional bahkan internasional yang membanggakan Jawa Barat.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Yosep)