26.7 C
Jakarta
Rabu, Juli 1, 2026
Beranda blog Halaman 94

Konferensi VI PWI Sukabumi Sepakati Kepengurusan Baru, Fokus Perkuat Profesionalisme

0
Oplus_131072

Wartain.com – Persatuan Wartawan Indonesia Kabupaten Sukabumi merampungkan Konferensi VI di Pendopo Kabupaten Sukabumi, Sabtu 16 Mei 2026. Forum ini menetapkan susunan kepengurusan baru periode 2026-2029 sekaligus menegaskan arah gerak organisasi ke depan.

Mengangkat tema “Pers Profesional, Bersinergi Mengawal Pembangunan Daerah”, konferensi dihadiri Plt Ketua PWI Kabupaten Sukabumi Nuruddin Zain Syamsi, Ketua BIN Sukabumi Raya, Dewan Penasehat PWI, perwakilan IJTI, SMSI Sukabumi Raya, Kepala Kasepuhan Adat Banten Kidul Abah Usep Cisungsang Banten, serta sejumlah perangkat daerah dan tamu undangan.

Ketua Panitia Aab Abdul Malik menjelaskan konferensi berjalan sesuai rencana melalui beberapa tahapan penting. Mulai dari pengesahan susunan acara, penyampaian laporan pertanggungjawaban, hingga penetapan pengurus baru.

“Agenda sudah kami susun mulai dari pengesahan susunan acara, penyampaian LPJ, penetapan kepengurusan baru, hingga rencana pelantikan dan penyusunan program kerja bulan depan. Kami memohon maaf apabila dalam pelaksanaan konferensi ini masih terdapat kekurangan,” ujar Aab.

Pelantikan pengurus terpilih dan penyusunan program kerja dijadwalkan berlangsung pada bulan berikutnya. Aab berharap proses transisi kepengurusan berjalan lancar agar program organisasi bisa segera dijalankan.

Konferensi VI PWI Sukabumi Sepakati Kepengurusan Baru, Fokus Perkuat Profesionalisme (Foto : DH)

Nuruddin Zain Syamsi yang terpilih sebagai Ketua PWI Kabupaten Sukabumi menyoroti tekanan besar yang dihadapi insan pers saat ini. Arus disrupsi informasi, kata dia, menuntut wartawan kembali pada fungsi dasar profesinya.

“Pers harus tetap menjaga perannya sebagai media informasi, edukasi, hiburan, dan kontrol sosial sesuai amanat UU Pers Nomor 40 Tahun 1999,” tegas Nuruddin.

Ia menyebut kondisi pers nasional saat ini sedang tidak baik-baik saja. Karena itu, penguatan internal organisasi menjadi kunci agar PWI tetap relevan dan dipercaya publik.

Meski dihadapkan pada keterbatasan anggaran, Nuruddin memastikan PWI Kabupaten Sukabumi akan terus bergerak. Kekuatan utama organisasi, menurutnya, terletak pada kebersamaan dan solidaritas anggota.

“Mari kita terus mencoretkan sejarah dan memberikan yang terbaik bagi PWI maupun Kabupaten Sukabumi,” ajaknya di hadapan peserta konferensi.

Forum ditutup dengan komitmen bersama untuk menjaga marwah pers sebagai pilar demokrasi. Peserta sepakat mendorong profesionalisme wartawan dan memperkuat sinergi dengan berbagai pihak dalam mengawal pembangunan daerah.***

Editor : Aab Abdul Malik

(DH)

Abah Anom Terpilih Jadi Ketua pada Konferensi VI PWI Kabupaten Sukabumi, Soroti Peran Pers di Tengah Disrupsi Informasi

0
Oplus_131072

Wartain.com – Suasana konsolidasi mewarnai Konferensi ke-VI Persatuan Wartawan Indonesia Kabupaten Sukabumi yang berlangsung di Pendopo Kabupaten Sukabumi, Sabtu 16 Mei 2026. Mengangkat tema “Pers Profesional, Bersinergi Mengawal Pembangunan Daerah”, forum ini sekaligus memilih kepengurusan baru untuk periode 2026-2029.

Sejumlah tokoh hadir, mulai dari Plt Ketua PWI Jawa Barat Achmad Syukri, Kepala Diskominfosan Kabupaten Sukabumi Yulipri, Plt Ketua PWI Kabupaten Sukabumi Nuruddin Zain Syamsi, hingga perwakilan BIN Sukabumi Raya, IJTI, SMSI Sukabumi Raya, dan Dewan Penasehat PWI. Hadir pula Kepala Kasepuhan Adat Banten Kidul Abah Usep Cisungsang Banten bersama perangkat daerah dan tamu undangan.

Ketua Panitia Aab Abdul Malik menyampaikan agenda konferensi meliputi pengesahan susunan acara, penyampaian laporan pertanggungjawaban, penetapan kepengurusan baru, hingga rencana pelantikan dan penyusunan program kerja bulan depan. Ia juga menyampaikan permohonan maaf jika jalannya kegiatan belum sepenuhnya sempurna.

Plt Ketua PWI Jabar Achmad Syukri berharap kepengurusan terpilih dapat memperkuat kontribusi PWI dalam pembangunan daerah. Ia menekankan wartawan perlu mengambil peran lebih dari sekadar penyampai informasi.

“PWI harus ikut membedah persoalan yang ada di Pemkab Sukabumi dan menjadi bagian dari solusi,” ujarnya.

Achmad menilai tema konferensi relevan untuk mendorong peningkatan kualitas wartawan. Menurutnya, uji kompetensi menjadi salah satu fokus PWI Pusat dalam menjaga standar profesionalisme.

Abah Anom Terpilih Jadi Ketua pada Konferensi VI PWI Kabupaten Sukabumi, Soroti Peran Pers di Tengah Disrupsi Informasi (Foto : Intan)

Plt Ketua PWI Sukabumi Nuruddin Zain Syamsi menyoroti tantangan berat yang dihadapi pers di era disrupsi informasi. Ia mengingatkan agar fungsi pers sebagai media informasi, edukasi, hiburan, dan kontrol sosial tetap dijaga sesuai amanat UU Pers Nomor 40 Tahun 1999.

“Kondisi pers saat ini tidak sedang baik-baik saja. PWI harus kuat menjaga marwahnya sebagai pilar demokrasi,” tegas Nuruddin yang akrab disapa Bah Anom.

Ia mengakui keterbatasan anggaran menjadi kendala, namun menegaskan PWI Sukabumi akan tetap eksis dengan mengandalkan sinergi anggota.

Kepala Diskominfosan Yulipri menyampaikan permohonan maaf atas ketidakhadiran pimpinan daerah yang bertepatan dengan acara Milangkala Tatar Sunda di Bandung. Ia menilai PWI masih memiliki peran penting dalam menjaga kualitas informasi publik sejak berdiri pada 9 Februari 1946.

“Profesionalisme dan kode etik jurnalistik harus tetap dijaga, sesuai tema konferensi hari ini,” kata Yulipri.

Ia berharap pengurus baru PWI Sukabumi dapat mempererat kerja sama dengan pemerintah daerah dalam memenuhi kebutuhan informasi masyarakat.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Intan)

Pohon Katapang Tumbang di Cikakak, Jalur Palabuhanratu–Banten Sempat Lumpuh Total

0

Wartain.com – Arus lalu lintas di jalur nasional penghubung Palabuhanratu menuju Banten sempat lumpuh total akibat pohon katapang berukuran besar tumbang di wilayah Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, Jumat (15/5/2026) malam.

Peristiwa tersebut terjadi di kawasan Jaipong, tepatnya tidak jauh dari sebuah minimarket sebelum tanjakan utama. Pohon yang roboh melintang di badan jalan hingga menutup seluruh akses kendaraan dari dua arah.

Tidak hanya menghambat arus lalu lintas, pohon berdiameter besar itu juga menyeret tiang listrik di tepi jalan hingga ikut roboh.

Kondisi tersebut membuat proses penanganan harus dilakukan secara hati-hati karena dikhawatirkan masih terdapat aliran listrik aktif di sekitar lokasi.

Kepala Bidang Pemadaman Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Sukabumi, Erwin Adam Ridwan mengatakan, pihaknya menerima laporan dari warga sesaat setelah hujan deras disertai angin kencang melanda kawasan tersebut.

“Kami menerima laporan setelah Maghrib. Kondisi cuaca saat itu memang hujan dan angin cukup kencang sehingga menyebabkan pohon tumbang,” ujar Erwin saat ditemui di lokasi kejadian.

Menurut Erwin, proses evakuasi memerlukan waktu cukup lama lantaran ukuran batang pohon tergolong besar dengan diameter lebih dari 70 sentimeter. Untuk mempercepat penanganan, petugas Damkar mengerahkan tiga unit chainsaw guna memotong batang pohon secara bertahap.

“Ukuran pohonnya cukup besar sehingga proses penanganannya tidak bisa cepat. Apalagi ada tiang listrik yang ikut roboh sehingga kami harus memastikan lokasi aman terlebih dahulu,” katanya.

Sebelum proses pemotongan dilakukan, petugas terlebih dahulu berkoordinasi dengan PLN untuk menghentikan sementara aliran listrik di sekitar lokasi demi menghindari risiko tersengat arus listrik.

Penanganan pohon tumbang tersebut melibatkan dua regu Damkar dengan total delapan personel. Selain itu, BPBD Kabupaten Sukabumi, Tagana, serta anggota Polsek Cikakak turut membantu proses evakuasi dan pengaturan arus lalu lintas di sekitar lokasi.

Setelah material pohon berhasil dipindahkan dari badan jalan, kendaraan dari arah Palabuhanratu maupun Banten kembali dapat melintas secara normal.

“Alhamdulillah jalur sudah bisa dilalui lagi setelah proses evakuasi selesai. Penanganan berjalan lancar berkat kerja sama semua pihak,” jelasnya.

Peristiwa ini menjadi pengingat bagi para pengendara agar lebih waspada saat melintas di jalur rawan pohon tumbang, terutama ketika cuaca ekstrem melanda wilayah selatan Kabupaten Sukabumi.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Ujeng)

Pelemahan Rupiah dan Mendesaknya Penetapan RUU Migas

0
Oplus_131072

Oleh: Dede Heri Sekjen Rumah literasi Merah Putih/Fungsionaris PB HMI

Wartain.com – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat bukan sekadar persoalan angka di pasar keuangan. Kondisi ini memiliki dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, terutama ketika harga kebutuhan pokok mulai mengalami kenaikan akibat tingginya biaya impor dan distribusi. Jika situasi terus dibiarkan tanpa langkah strategis yang jelas, maka gejolak ekonomi dapat berkembang menjadi persoalan sosial yang lebih luas.

Dalam struktur ekonomi Indonesia, penguatan dolar hampir selalu membawa konsekuensi terhadap naiknya biaya produksi dan harga barang. Indonesia masih memiliki ketergantungan cukup besar terhadap impor, baik untuk sektor energi, bahan baku industri, maupun kebutuhan pangan tertentu. Ketika rupiah melemah, biaya impor otomatis meningkat, dan pada akhirnya dibebankan kepada masyarakat melalui kenaikan harga barang di pasaran.

Yang paling merasakan dampaknya tentu masyarakat kecil. Kenaikan harga beras, minyak goreng, transportasi, hingga kebutuhan rumah tangga akan langsung menekan daya beli rakyat. Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil, situasi tersebut dapat memunculkan keresahan sosial apabila pemerintah tidak segera menghadirkan solusi nyata.

Dalam kondisi seperti ini, pemerintah tidak cukup hanya mengandalkan intervensi jangka pendek di pasar keuangan. Dibutuhkan kebijakan strategis yang menyentuh akar persoalan ekonomi nasional, terutama menyangkut ketahanan energi dan pengelolaan sumber daya alam. Salah satu langkah yang dinilai mendesak adalah percepatan penetapan Rancangan Undang-Undang Minyak dan Gas Bumi (RUU Migas).

Selama bertahun-tahun, sektor migas nasional berjalan dalam ketidakpastian regulasi. Padahal, energi merupakan sektor vital yang sangat memengaruhi stabilitas ekonomi negara. Ketergantungan terhadap impor minyak membuat Indonesia rentan terhadap tekanan kurs dolar. Ketika harga minyak dunia naik dan rupiah melemah, beban negara ikut meningkat, subsidi tertekan, dan harga kebutuhan masyarakat ikut terdampak.

RUU Migas seharusnya tidak hanya dipandang sebagai produk legislasi biasa, tetapi sebagai instrumen strategis untuk memperkuat kedaulatan ekonomi nasional. Negara membutuhkan regulasi yang mampu memastikan pengelolaan migas lebih berpihak kepada kepentingan rakyat, memperkuat peran nasional dalam pengelolaan energi, serta mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Jika pengelolaan migas dapat diperkuat melalui regulasi yang jelas dan berpihak pada kepentingan nasional, maka Indonesia memiliki peluang besar untuk meningkatkan ketahanan energi sekaligus menjaga stabilitas ekonomi jangka panjang. Negara tidak boleh terus berada dalam posisi rentan setiap kali dolar menguat.

Selain itu, percepatan hilirisasi industri energi juga menjadi bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dari pembahasan RUU Migas. Indonesia memiliki sumber daya alam yang besar, namun selama ini nilai tambah ekonomi masih banyak dinikmati pihak luar karena lemahnya penguatan industri nasional. Akibatnya, Indonesia tetap bergantung pada impor produk jadi dengan harga tinggi.

Pemerintah dan DPR harus memahami bahwa situasi ekonomi global saat ini membutuhkan keberanian mengambil keputusan strategis. Penundaan pembahasan regulasi penting hanya akan memperpanjang ketidakpastian dan memperbesar risiko ekonomi di masa depan.

Di tengah tekanan ekonomi global, negara harus hadir dengan kebijakan yang memberikan rasa aman kepada masyarakat. Stabilitas rupiah, ketahanan pangan, dan kemandirian energi harus menjadi agenda utama nasional. Jika tidak, pelemahan rupiah bukan hanya menjadi persoalan ekonomi, tetapi juga dapat berkembang menjadi ancaman terhadap stabilitas sosial masyarakat.***

Editor : Aab Abdul Malik

(DH)

Menyalakan Jiwa Sukabumi: Secangkir Kopi Gaud, Gerakan Narasi, dan Benteng Kedaulatan Bangsa

0

Wartain.com – Suasana malam dengan aroma arabika dan robusta mengalir hangat di C’Kopi Gaud Sukabumi. Di bawah pendar lampu yang temaram, sebuah obrolan mengalir tanpa sekat.

Duduk melingkar beberapa tokoh pemikir dan penggerak media Sukabumi: Kang Aves (Penasehat PWI Kabupaten Sukabumi sekaligus pemilik C’Kopi Gaud), H. Rahmat (Tokoh pers senior dan Penasehat PWI), Aam Abdul Salam (Presidium MD KAHMI Sukabumi serta Penasehat SMSI & PWI Kabupaten Sukabumi), Dede Heri (Rumah Literasi Merah Putih), dan Siti Ratna Maymunah CEO Wartain.com juga Bendahara SMSI Sukabumi Raya.

Pertemuan diakusi ini bukan sekadar kongko biasa, melainkan sebuah ruang kontemplasi budaya, ekonomi, filosofi, hingga spiritualitas untuk membedah masa depan daerah.

Secara filosofis, kopi mengajarkan kita bahwa rasa pahit dan manis bisa berpadu menjadi kenikmatan jika diracik dengan tepat. Begitu pula dengan realitas kemasyarakatan.

Diskusi malam sepakat bahwa kemajuan Kabupaten Sukabumi harus dimulai dari gerakan penyadaran pola pikir (mindset). Potensi alam yang melimpah tidak akan berdampak tanpa adanya kesadaran kolektif.

Narasi bukan sekadar deretan kata, melainkan sebuah percikan spiritual yang menghidupkan jiwa, mengubah cara pandang, dan menggerakkan manusia untuk berbuat lebih baik bagi tanah kelahirannya.

Narasi Kebudayaan untuk Menggerakkan Ekonomi lokal

Dari kacamata budaya dan ekonomi, Sukabumi memiliki modal sosial yang sangat besar. Gerakan narasi yang positif dan konstruktif menjadi kunci utama untuk membuka gerbang kemajuan pada tiga sektor krusial:

Investasi : Membangun citra wilayah yang ramah, aman, dan potensial bagi para investor.

Pariwisata : Menarasikan keindahan alam Sukabumi dengan potensi Gurilaps (Gunung, Rimba, Laut, Pantai, Sungai/Seni-budaya) bukan sekadar singkatan. Ini adalah sebuah manifesto ruang hidup. Secara filosofis dan spiritual, Gurilaps adalah bukti keharmonisan alam semesta yang dianugerahkan Tuhan kepada Sukabumi. Tugas gerakan narasi saat ini adalah mengubah keindahan visual ini menjadi sebuah “panggilan jiwa” bagi para pelancong, sekaligus motor penggerak ekonomi kerakyatan, sebagai ruang rekreasi yang menyembuhkan jiwa (spiritual tourism).

UMKM : Mengangkat produk lokal lewat cerita (storytelling) yang kuat agar memiliki nilai jual tinggi di pasar digital.

Para tokoh pers dan penggiat literasi yang hadir menegaskan bahwa membangun narasi pencerahan adalah tugas suci para jurnalis. Melalui tulisan jurnalistik yang tajam, kritis, namun tetap mencerahkan, media berkewajiban mengawal dan mensukseskan visi Mubarakah yang diusung oleh Bupati dan Wakil Bupati Sukabumi.

Pers tidak boleh sekadar menjadi pengamat, melainkan harus menjadi mitra strategis yang menjembatani program pemerintah agar dipahami dan didukung sepenuhnya oleh masyarakat luas.

Tantangan Menghadapi Geopolitik Global

Obrolan bergeser ke arah yang lebih makro dan strategis. Di tengah situasi dunia yang didera konflik global, ketahanan masyarakat ekonomi lokal harus diperkuat agar selaras dengan program pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Negara saat ini menghadapi tantangan nyata dari gempuran mafia oligarki hitam serta segelintir elit politik yang sakit hati dan tidak ingin pemerintahan saat ini berhasil.

Di sinilah narasi nasionalisme dari daerah seperti Sukabumi harus menjadi benteng pertahanan informasi. Tulisan yang waras dan mencerdaskan adalah senjata utama untuk melawan hoaks, adu domba, dan upaya sistematis yang ingin membuat Indonesia terpuruk.

Malam semakin larut di C’Kopi Gaud, namun semangat yang menyala dari diskusi tersebut justru baru dimulai. Dari meja kopi kecil di Sukabumi, sebuah gerakan narasi besar siap digulirkan demi menjaga kedaulatan bangsa dan memajukan tanah daerah. (Rd.Ratu Dinar Nusantara)***

Editor : AS

Mahasiswa STISIP WM Palabuhanratu Gelar Kajian Mingguan, Bahas Kesadaran Kritis dan Tanggung Jawab Intelektual

0

Wartain.com – Mahasiswa STISIP Widyapuri Mandiri Kampus II Palabuhanratu menggelar kegiatan kajian dan diskusi yang diinisiasi oleh pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), pada Jum’at (15/5/2026).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program mingguan yang bertujuan menciptakan mahasiswa unggul dalam ilmu pengetahuan sekaligus menambah wawasan di luar pembelajaran kelas.

Kegiatan itu diberi nama Ruang Diskusi dan Kajian Mahasiswa STISIP (Rudal STISIP). Kajian diikuti oleh mahasiswa dari semester 2 hingga semester 6 dengan antusiasme tinggi selama kegiatan berlangsung.

Tema yang diangkat dalam kajian tersebut yakni “Mahasiswa dan Kesadaran Kritis: Antara Perjuangan Hak dan Tanggung Jawab Intelektual”. Adapun pemantik dalam diskusi tersebut merupakan dosen STISIP WM Palabuhanratu, Enjang Kusnadi, M.Si.

Ketua BEM STISIP WM Palabuhanratu, Mukti mengatakan kegiatan kajian dan diskusi itu menjadi ruang belajar bersama bagi mahasiswa agar mampu meningkatkan kualitas intelektual serta membangun budaya akademik di lingkungan kampus.

“Kami ingin mahasiswa tidak hanya aktif di dalam kelas, tetapi juga memiliki ruang untuk berdialektika, berpikir kritis, dan memperluas wawasan melalui diskusi yang berkelanjutan,” ujarnya Mukti.

Kegiatan kajian dimulai pukul 16.00 WIB hingga 17.50 WIB. Selama berlangsungnya diskusi, mahasiswa terlihat aktif berdialektika, mengajukan pertanyaan, hingga menyampaikan pendapat mengenai berbagai persoalan yang berkaitan dengan peran mahasiswa dan kesadaran kritis di tengah perkembangan sosial.

Antusiasme peserta dinilai menjadi gambaran bahwa mahasiswa masih memiliki semangat terhadap ilmu pengetahuan dan memposisikan diri sebagai kaum intelektual yang memiliki tanggung jawab moral maupun akademik.

Salah seorang mahasiswa STISIP WM Palabuhanratu, Ilham mengaku kegiatan tersebut sangat membantu dirinya dalam menambah wawasan serta memperdalam pemahaman di luar materi perkuliahan.

“Kegiatan positif seperti ini betul-betul bermanfaat karena dapat menambah wawasan, melatih cara kita berpikir kritis, dan membuat kami lebih aktif dalam menyampaikan pendapat, apalagi saya baru semester bawah perlu untuk terus menambah ilmu,” ungkapnya.

Melalui program kajian mingguan tersebut, BEM STISIP WM Palabuhanratu berharap budaya diskusi dan semangat intelektual mahasiswa dapat terus tumbuh serta menjadi bagian dari penguatan kualitas akademik di lingkungan kampus.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Ujeng)

Pendaki Asal Cibadak Sukabumi Meninggal Saat Menuju Puncak Rinjani

0

Wartain.com – Perjalanan pendakian di Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat, berakhir duka bagi rombongan pendaki asal Sukabumi, Jawa Barat. Seorang pendaki bernama Endang Subarna (48) meninggal dunia saat mendaki melalui jalur Sembalun, Kamis (14/5/2026).

Korban diketahui mengikuti pendakian bersama rombongan berjumlah 28 orang. Mereka memulai perjalanan dari pintu pendakian Kandang Sapi Sembalun sejak pagi hari dengan didampingi porter dan tour organizer.

Kasi Humas Polres Lombok Timur, IPTU Lalu Rusmaladi menjelaskan, insiden tersebut pertama kali dilaporkan petugas Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) Sembalun sekitar pukul 17.00 WITA.

“Korban berangkat bersama rombongan pendaki melalui pintu pendakian Kandang Sapi Sembalun sekitar pukul 08.00 Wita,” ujar IPTU Lalu Rusmaladi.

Peristiwa terjadi saat rombongan tiba di kawasan Bukit Penyesalan sekitar pukul 16.00 Wita. Saat itu korban mendadak terjatuh dan tidak sadarkan diri.

Melihat kondisi tersebut, tour organizer segera meminta bantuan kepada petugas TNGR yang berada di Pos Pelawangan Sembalun. Tim gabungan dari TNGR bersama Edelweis Medical Help Center (EMHC) kemudian bergerak menuju lokasi untuk memberikan pertolongan.

Petugas medis sempat melakukan pemeriksaan kondisi korban serta tindakan resusitasi jantung paru selama kurang lebih 30 menit. Namun upaya penyelamatan tersebut tidak membuahkan hasil.

“Petugas sudah melakukan tindakan resusitasi jantung paru atau pijat jantung kurang lebih selama 30 menit, namun korban tidak menunjukkan respons,” katanya.

Korban kemudian dievakuasi menggunakan tandu menuju Pos II Sembalun sekitar pukul 17.30 Wita dan tiba sekitar pukul 19.20 Wita. Selanjutnya dokter dari Puskesmas Sembalun melakukan pemeriksaan dan menyatakan korban telah meninggal dunia.

Kepala Balai TNGR, Budi Kurniawan mengatakan, proses evakuasi dilakukan secepat mungkin setelah laporan diterima dari lapangan.

“Begitu menerima laporan, petugas TNGR bersama tim EMHC langsung menuju lokasi untuk melakukan pertolongan dan evakuasi,” ujar Budi.

Setelah dinyatakan meninggal dunia, jenazah korban dibawa menuju Puskesmas Sembalun sebelum akhirnya dirujuk ke RSUD Selong menggunakan ambulans untuk penanganan lebih lanjut.

Peristiwa tersebut disaksikan langsung oleh rekan-rekan korban sesama pendaki yang berada dalam rombongan.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Lapas Sukabumi Sulap Lorong Sempit Jadi Kebun Hidroponik Produktif

0

Wartain.com – Area sempit di lingkungan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Sukabumi kini berubah menjadi kebun hidroponik yang produktif. Melalui tangan kreatif warga binaan, lorong-lorong terbatas di dalam lapas disulap menjadi tempat budidaya sayuran pakcoy yang tumbuh subur dan siap panen.

Program pertanian hidroponik tersebut menjadi salah satu bentuk pembinaan kemandirian yang terus dikembangkan pihak lapas. Panen perdana kembali dilakukan pada Jumat (15/5/2026) dengan melibatkan warga binaan yang aktif mengikuti kegiatan bercocok tanam.

Kepala Lapas Kelas IIB Sukabumi, Budi Hardiono mengatakan, program hidroponik tidak hanya bertujuan menghasilkan sayuran, tetapi juga membentuk karakter dan keterampilan warga binaan selama menjalani masa pembinaan.

“Program budidaya hidroponik bukan semata-mata mengejar hasil panen, tetapi lebih jauh menjadi sarana pembentukan karakter dan keterampilan warga binaan,” ujar Budi.

Menurutnya, keterbatasan lahan di dalam lapas justru menjadi tantangan yang mendorong kreativitas petugas maupun warga binaan untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat.

Dengan memanfaatkan area brandgang atau lorong sempit, instalasi hidroponik dibangun secara bertahap hingga mampu menghasilkan sayuran segar berkualitas tanpa menggunakan media tanah.

“Kami mendorong warga binaan untuk memanfaatkan lahan terbatas seperti area brandgang menjadi sarana yang bernilai guna,” katanya.

Dalam prosesnya, warga binaan dilibatkan mulai dari penyemaian bibit, pencampuran nutrisi, perawatan tanaman hingga panen. Kegiatan tersebut dinilai mampu menumbuhkan sikap disiplin, tanggung jawab, serta kerja sama antar sesama warga binaan.

Selain menjadi aktivitas positif selama menjalani hukuman, keterampilan bercocok tanam hidroponik juga diharapkan menjadi bekal ketika mereka kembali ke masyarakat.

“Tidak mudah mengubah area sempit menjadi lahan produktif. Dibutuhkan ketelatenan, perawatan rutin, serta semangat kebersamaan agar tanaman tumbuh maksimal,” jelasnya.

Rak-rak hidroponik yang tersusun rapi di area lapas kini menjadi pemandangan berbeda di balik tembok penjara. Sistem sirkulasi air nutrisi membuat tanaman pakcoy tumbuh segar dan higienis meski berada di ruang terbatas.

Program tersebut juga sejalan dengan upaya mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus implementasi program pembinaan di lingkungan pemasyarakatan.

Menurut Budi, hasil panen sayuran hidroponik nantinya dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan sehat di lingkungan lapas, sekaligus membuka peluang usaha mandiri bagi warga binaan setelah bebas nanti.

“Lapas bukan hanya tempat menjalani hukuman, tetapi juga tempat belajar dan memperbaiki diri agar memiliki masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

E-Purchasing Dominasi Pengadaan Barang dan Jasa Pemkot Sukabumi Awal 2026

0

Wartain.com – Pemerintah Kota Sukabumi mulai menggenjot pelaksanaan pengadaan barang dan jasa pada awal tahun anggaran 2026. Hingga akhir Maret, realisasi pengadaan tercatat mencapai Rp35,53 miliar dari total 202 paket pekerjaan yang telah diproses di berbagai perangkat daerah.

Bagian Pengadaan Barang dan Jasa (BPBJ) Setda Kota Sukabumi mencatat, metode e-purchasing masih menjadi sistem yang paling banyak digunakan dalam proses pengadaan pemerintah selama triwulan pertama tahun ini.

Kepala BPBJ Setda Kota Sukabumi, Hadi Sasonno mengatakan, penggunaan sistem elektronik dinilai mampu mempercepat proses pengadaan sekaligus meningkatkan transparansi penggunaan anggaran daerah.

“Sepanjang Januari sampai Maret 2026, realisasi pengadaan sudah mencapai lebih dari Rp35 miliar dengan total 202 paket pekerjaan,” ujar Hadi, Jumat (15/5/2026).

Dari total paket yang terealisasi, sebanyak 138 paket dilakukan melalui metode e-purchasing dengan nilai mencapai Rp29,53 miliar. Sementara pengadaan langsung tercatat sebanyak 62 paket dengan nilai Rp5,75 miliar.

Selain itu, terdapat dua paket pekerjaan yang diproses melalui mekanisme pencatatan dengan total nilai sekitar Rp249,33 juta.

Menurut Hadi, e-purchasing merupakan mekanisme pembelian barang dan jasa pemerintah secara digital melalui katalog elektronik maupun toko daring resmi pemerintah. Sistem tersebut dinilai lebih praktis karena memangkas tahapan administrasi konvensional.

“E-purchasing itu mekanisme transaksinya, sedangkan e-katalog merupakan platform atau etalase digital tempat produk ditampilkan,” jelasnya.

Sementara itu, berdasarkan Rencana Umum Pengadaan (RUP) Tahun 2026, total pengadaan di lingkungan Pemerintah Kota Sukabumi mencapai 6.176 paket dengan nilai anggaran sebesar Rp593,91 miliar yang tersebar di 31 perangkat daerah.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 4.126 paket merupakan pengadaan melalui penyedia dengan nilai Rp327,48 miliar. Sedangkan 2.050 paket lainnya dilaksanakan melalui skema swakelola dengan total anggaran Rp266,43 miliar.

Hadi menambahkan, pengadaan langsung tetap menjadi salah satu metode yang digunakan pemerintah daerah dengan mengacu pada ketentuan Peraturan Presiden Nomor 46 Tahun 2025.

Adapun batas maksimal pengadaan langsung untuk pekerjaan konstruksi sebesar Rp400 juta, pengadaan barang dan jasa lainnya Rp200 juta, serta jasa konsultansi paling tinggi Rp100 juta.

“Metode pengadaan langsung mengutamakan efisiensi dan kecepatan proses, tetapi pelaksanaannya tetap harus sesuai aturan yang berlaku,” pungkasnya.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Cuaca Ekstrem Picu Banjir dan Longsor di Sejumlah Wilayah Sukabumi

0

Wartain.com – Hujan deras yang disertai angin kencang menyebabkan sejumlah bencana alam melanda beberapa wilayah di Kabupaten Sukabumi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi mencatat kejadian banjir, tanah longsor hingga rumah rusak terjadi pada 14 hingga 15 Mei 2026.

Salah satu kejadian terjadi di Kampung Jambatan RT 33/04 Desa Sukasari, Kecamatan Cisaat. Sebuah rumah milik warga bernama Titing mengalami kerusakan sedang setelah diterjang cuaca ekstrem.

“Cuaca ekstrem hujan deras disertai angin mengakibatkan satu rumah roboh rusak sedang di bagian tengah rumah dan dapur,” ujar Manager Pusdalops BPBD Kabupaten Sukabumi, Daeng Sutisna, Jumat (15/5/2026).

Meski bangunan mengalami kerusakan cukup parah, tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam peristiwa tersebut.

Sementara itu, banjir dan longsor juga terjadi di Kampung Bojongkokosan RT 003/006 Desa Bojongkokosan, Kecamatan Parungkuda. Sedikitnya enam kepala keluarga dengan total 25 jiwa terdampak akibat bencana tersebut.

BPBD mencatat empat rumah warga terendam banjir, sementara dua rumah lainnya berada dalam kondisi terancam longsor.

“Hujan deras mengakibatkan banjir dan longsor, empat rumah terendam banjir serta dua rumah terancam longsor,” kata Daeng.

Selain merendam permukiman warga, longsoran tanah juga merusak satu kolam ikan milik warga bernama Jaenal Mutaqin. Petugas gabungan dari unsur P2BK, Tagana, TNI, Polri dan pemerintah desa telah diterjunkan untuk melakukan asesmen serta penanganan di lokasi kejadian.

Bencana longsor lainnya terjadi di Perum BMI 3 RT 006/009 Desa Cibunarjaya, Kecamatan Ciambar. Tebing setinggi delapan meter longsor dan menimpa sebuah rumah warga hingga mengalami kerusakan berat pada bagian kamar dan dapur.

Akibat kejadian itu, satu keluarga yang terdiri dari lima jiwa terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman.

“Hujan deras dengan intensitas tinggi mengakibatkan tanah longsor tebing dan menimpa satu unit rumah,” sambungnya.

Di wilayah Kecamatan Gunungguruh, longsor juga menyebabkan akses jalan lingkungan di Kampung Legok Nyenang, Desa Cikujang terputus setelah tembok penahan tanah sepanjang enam meter ambruk. Kondisi tersebut membuat kendaraan roda dua tidak dapat melintas.

BPBD Kabupaten Sukabumi mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi, terutama selama masa peralihan musim penghujan menuju kemarau.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik