Wartain.com || Rencana pengoperasian Kereta Wisata Jaka Lalana pada rute Jakarta–Bogor–Sukabumi–Cianjur dinilai membawa peluang besar sekaligus tantangan serius bagi daerah yang dilintasinya. Selain berpotensi mendongkrak sektor pariwisata, moda transportasi ini menuntut kesiapan pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan agar dampak negatif dapat diantisipasi sejak dini.
Pakar ekowisata dari Program Studi Ekowisata Sekolah Vokasi IPB University, Rini Untari, menilai kehadiran kereta wisata tersebut akan meningkatkan aksesibilitas menuju berbagai destinasi wisata yang berada di sekitar stasiun. Namun, peningkatan kunjungan wisatawan juga berpotensi memicu persoalan baru jika tidak dikelola secara berkelanjutan.
“Kereta wisata ini memang membuka akses yang lebih mudah dan nyaman, terutama karena mampu mengurangi kemacetan yang sering terjadi di jalur darat menuju Sukabumi dan Cianjur. Tetapi lonjakan wisatawan harus diiringi dengan kesiapan pengelolaan destinasi,” ujar Rini, Sabtu (27/12/2025).
Ia menambahkan, penggunaan transportasi massal seperti kereta api selaras dengan prinsip ramah lingkungan karena dapat menekan emisi kendaraan pribadi. Namun, manfaat ekologis tersebut bisa tergerus apabila tidak diimbangi dengan pengaturan kapasitas kunjungan dan perlindungan kawasan wisata.
“Dari sisi lingkungan, penggunaan kereta wisata mendukung pengurangan polusi. Tapi jika terjadi overtourism, justru bisa memicu kerusakan ekosistem, eksploitasi alam berlebihan, hingga berkurangnya keanekaragaman hayati,” jelasnya.
Selain aspek lingkungan, Rini juga menyoroti dampak sosial budaya yang perlu diwaspadai. Kereta Jaka Lalana yang mengusung konsep heritage dinilai dapat menjadi sarana edukasi sejarah dan pelestarian budaya. Namun, di sisi lain, arus wisatawan yang tidak terkendali berpotensi mengubah nilai sosial masyarakat lokal.
“Kerumunan, kemacetan, hingga potensi meningkatnya kriminalitas dan gangguan sosial lainnya harus diantisipasi. Ini termasuk risiko pergeseran nilai budaya dan bahasa daerah,” katanya.
Berbagai destinasi wisata di Sukabumi dan Cianjur, seperti kawasan pusat kota, museum, hingga destinasi alam, diperkirakan akan terdampak langsung oleh kehadiran kereta wisata tersebut. Kondisi ini menuntut perencanaan terpadu, mulai dari manajemen lalu lintas, penataan UMKM, hingga penguatan keamanan.
Rini menekankan bahwa keberhasilan Kereta Wisata Jaka Lalana tidak hanya diukur dari jumlah penumpang, tetapi dari sejauh mana manfaat ekonomi dapat dirasakan masyarakat tanpa mengorbankan lingkungan dan sosial budaya.
“Kuncinya ada pada kolaborasi multipihak. Pemerintah, pelaku wisata, masyarakat, dan operator transportasi harus menyiapkan konsep pariwisata terintegrasi yang berkelanjutan,” ujarnya.
Meski hingga kini kereta tersebut belum beroperasi, Rini berharap kehadiran Jaka Lalana kelak benar-benar menjadi model pengembangan pariwisata berbasis ekowisata di Jawa Barat, bukan sekadar moda wisata populer yang meninggalkan persoalan baru.***(RAF)
Editor : Aab Abdul Malik
