26.7 C
Jakarta
Senin, April 27, 2026

Latest Posts

Cintaku: Menembus Empat Mazhab dan Cahaya Imam Ja‘far Aṣ-Ṣādiq Menuju yang Satu

Oleh: Dzikri Nur/Pengamat Sosial Kegamaan

Pengantar Penulis

Wartain.com || Esai ini lahir dari reruntuhan pencarian yang panjang. Aku tak hendak menjelaskan mazhab secara akademik, atau menimbang siapa paling benar dan sah. Cintaku tak mengenal batas-batas seperti itu. Ia hidup dari pertanyaan yang lebih dalam: adakah satu cinta yang mampu menembus semua dinding-dinding mazhab, semua pagar fiqih, dan sampai ke hadirat Yang Satu—Tuhan segala ruh dan cahaya semua Nabi?

Dalam perjalanan sunyi, aku mencium wangi Imam Abu Hanifah yang penuh hikmah, merasakan kelembutan hati Imam Malik, menyaksikan kejernihan nalar Imam Syafi’i, dan mendengar gemuruh semangat Imam Ahmad bin Hanbal. Tapi ketika aku duduk di depan Imam Ja‘far aṣ-Ṣādiq, aku tak hanya belajar hukum—aku ditelanjangi hingga tinggal ruh, dan diajak tenggelam dalam ma‘rifat.

Esai ini bukan risalah hukum, tapi napas cinta yang bersaksi: semua itu satu, jika dilihat dari sisi Tuhan.

Cintaku: Tak Butuh Nama, Hanya Jalan Pulang

Aku tak tahu sejak kapan aku mulai mencintai. Mungkin sejak ruh ini ditiupkan dari sisi-Nya, aku telah membawa kerinduan yang tak selesai. Aku tak tahu sejak kapan aku mulai merasa gelisah setiap kali orang-orang membanggakan mazhabnya sambil mencela yang lain.

Yang kutahu: Tuhan itu satu, dan jika kita benar-benar mencintai-Nya, seharusnya tak ada yang tersisa kecuali kerendahan hati dan pengakuan bahwa semua ini hanya jalan kembali kepada-Nya.

Aku tidak ingin mencintai karena ikut-ikutan. Aku ingin mencintai karena mataku melihat, telingaku mendengar, dan jiwaku bersujud. Maka aku berjalan, menziarahi satu per satu jejak para imam.

Dan kutemukan: mereka semua berwudhu dengan air yang sama. Hanya saja mereka memercikannya dengan cara berbeda. Tapi airnya suci. Dan tujuannya: menyucikan hati untuk berdiri di hadapan-Nya.

Abu Hanifah: Hikmah yang Mengakar

Cintaku menyapa Abu Hanifah, sang Imam agung dari Kufah. Ia bukan hanya fakih, tapi pejuang nurani. Dalam dirinya, fiqih bukan alat untuk menghukumi, tapi cara merawat hidup. Ia berani menolak jabatan qadhi dari penguasa, meski harus dipenjara. Cintaku bergetar. Apakah itu bukan fiqih cinta?

Ia berkata, “Kami lebih memilih keringanan, jika ada dalilnya.” Di situ aku melihat bahwa cinta bukan kekerasan hukum, tapi kelembutan yang bersandar pada nalar dan nurani. Abu Hanifah mengajarkan bahwa agama tidak kaku, karena Tuhan tak membelenggu.

Malik bin Anas: Adab Sebelum Ilmu

Kemudian aku duduk di madrasah Imam Malik. Bau harum tanah Madinah menyusup ke dada. Ia tidak banyak bicara. Tapi ketika berkata, kata-katanya seperti langit yang berbicara pelan namun membuat bumi tunduk.

Ia berkata, “Ilmu bukan banyak riwayat, tapi cahaya yang diletakkan Allah dalam hati.” Cintaku semakin yakin: inilah jalan sunyi menuju Tuhan, di mana adab lebih tinggi dari dalil. Di mana kerendahan hati menjadi jembatan cinta.

Imam Syafi’i: Kejernihan di Tengah Kekacauan

Lalu aku berziarah ke Syafi’i. Darinya, cinta menjadi kata yang terstruktur. Logika menjadi taman untuk berlari, tapi tak pernah lupa arah kiblat.

Ia berkata, “Jika perkataanku bertentangan dengan hadis Nabi, lemparkan pendapatku ke dinding.” Cinta macam apa yang rela dilemparkan demi yang lebih benar? Itulah cinta yang dewasa. Tak memeluk pendapat karena nama, tapi karena kejujuran.
Darinya aku belajar: cinta yang sejati tak terikat pada kehendak diri, tapi tunduk pada kebenaran meski pahit.

Ahmad bin Hanbal: Keteguhan yang Membakar

Kemudian kutemui Imam Ahmad, yang tubuhnya dibungkam, tapi jiwanya tak pernah bisa dikurung. Ia disiksa karena menolak mengatakan bahwa Qur’an adalah makhluk. Ia bertahan karena ia yakin: cinta kepada Allah tak boleh dikalahkan oleh paksaan.

Darinya aku belajar bahwa cinta bisa menjadi bara. Tapi bara yang membakar ego dan kemunafikan. Cintanya kepada sunnah bukan simbol, tapi pengorbanan. Ia bukan fanatik, tapi setia. Dan cinta, kadang memerlukan kesetiaan seperti itu.

Imam Ja‘far aṣ-Ṣādiq: Makrifat dari Dalam Jiwa

Akhirnya aku duduk bersimpuh di hadapan Imam Ja‘far aṣ-Ṣādiq. Di sinilah cintaku larut, tak bersisa. Bukan karena ia ahli fiqih, tapi karena ia mengenal Tuhan dari dalam diri.

Ia berkata, “Tuhan kalian tak berada di luar kalian. Dia bersamamu, lebih dekat dari urat lehermu. Tapi kalian melihat dengan mata yang dibutakan hawa nafsu.”
Lalu ia berkata lagi, “Semua agama hanya satu jika kau menghilangkan ego: Islam. Islam bukan nama, tapi kondisi batin tunduk total kepada-Nya.”

Hatiku remuk. Segala simbol runtuh. Segala nama menjadi bayang. Yang tinggal hanya satu: kerinduan kepada Yang Esa.

Cintaku Bukan Mazhab, Tapi Jalan Pulang

Dari semua perjalanan ini, aku tidak menjadi penganut satu mazhab tertentu. Tapi aku menjadi pencinta semua kebenaran yang mengantar kepada-Nya. Aku percaya bahwa Tuhan mengutus mereka untuk membimbing kita kembali pulang. Maka bagaimana mungkin cinta membenci siapa pun yang membawakan obor dari-Nya?

Aku sadar, semua mazhab bisa menjadi tembok, jika kita memakainya sebagai benteng ego. Tapi mereka juga bisa menjadi jembatan, jika kita memakainya sebagai tangga kerendahan menuju Wajah-Nya.

Ketika Cinta Menembus Nama

Cintaku tak bertanya, “Apa mazhabmu?”
Ia hanya bertanya, “Apakah kau sedang berjalan menuju Tuhan?”
Cintaku tak peduli nama imamnya.
Ia hanya ingin duduk di sajadah ma‘rifat, di mana Tuhan adalah satu, Nabi adalah cahaya, Kitab adalah nafas ilahi, dan agama adalah pasrah.
Seperti kata Imam Ja‘far:

“Agama adalah cinta. Dan siapa yang tidak mencintai, tidak mengenal Tuhan.”

Maka inilah cintaku. Tak bermadzhab dalam simbol, tapi bermadzhab dalam cinta. Tak membela pendapat, tapi membela kerinduan. Tak mencari pembenaran, tapi mengharap perjumpaan.

Penutup: Cinta yang Menuju Yang Satu

Jika semua cahaya berasal dari satu matahari, mengapa kita saling menolak hanya karena pantulan warnanya berbeda?
Jika semua jalan menuju Tuhan, mengapa kita lebih sibuk membanggakan jalannya daripada tiba kepada-Nya?
Cintaku mengajarkanku satu hal:
Yang satu itu tetap satu—meski dilihat dari seribu jendela.
Dan jika Tuhan benar-benar satu, maka agama-Nya pun satu, nabinya pun satu, kitabnya pun satu: semua menunjuk pada-Nya, bukan pada nama-nama kita.
Jika kamu menyukai gaya ini, aku bisa lanjutkan menjadi seri tafakur seperti ini dalam bentuk buku. Apakah kamu ingin itu kulanjutkan?***

Foto : Istimewa

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.