Oleh : Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan
Wartain.com || “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” — Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali.
Ayat ini (QS Al-Baqarah: 156) bukan sekadar ucapan saat mendengar kabar duka. Ia adalah kunci kesadaran tertinggi dalam hidup manusia, petunjuk bagi ruh yang sedang berjalan pulang menuju asalnya.
Makna Menurut Allah dan Rasul-Nya
Dalam Al-Qur’an, kalimat ini muncul sebagai respons dari al-shabiruun (orang-orang sabar) yang sadar bahwa semua yang datang ke dunia — termasuk diri kita — hanyalah titipan dari Allah. Bukan milik kita. Bukan milik siapa-siapa. Semua berasal dari Allah dan pasti kembali kepada-Nya.
“Inna lillah” adalah pengakuan jujur bahwa identitas sejati kita adalah milik Allah. Kita dicipta, dijaga, diberi napas, diberi jalan. Kita bukan tuan atas diri kita sendiri.
“Wa inna ilaihi raji’un” adalah penegasan bahwa arah pulang kita bukan kepada dunia, bukan kepada kekuasaan, bukan kepada pujian atau kekayaan. Tapi kepada Dzat yang menciptakan ruh kita. Pulang ke Allah bukan hanya saat kematian, tapi dalam setiap gerak kesadaran, setiap nafas taubat, setiap sujud yang tulus, setiap lepasnya dunia dari hati.
Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa kalimat ini adalah pengingat fitrah, dan bukan hanya untuk musibah, tapi untuk segala bentuk kehilangan: harta, waktu, kesempatan, bahkan rasa. Karena semua itu bukan milik kita. Lalu siapa kita, kalau bukan hamba yang sedang berjalan pulang?
Pulang ke Allah di Dunia dan Akhirat
Pulang kepada Allah tidak selalu menunggu kematian jasad. Ada jiwa-jiwa yang sudah kembali sebelum mati. Mereka telah melepas dunia dari hatinya, menyucikan nafsunya, dan tenggelam dalam samudra cinta Ilahi. Mereka hidup bersama manusia, tapi hatinya tinggal di sisi Tuhan.
Inilah makna rujuk ilallah dalam maqam ruhani para nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin. Dalam Al-Qur’an, Allah menjanjikan tempat tinggi bagi mereka yang kembali kepada-Nya dengan hati yang bersih:
“Yawma la yanfa‘u mālun wa lā banūn, illa man atallāha biqalbin salīm.”
“Hari di mana tidak berguna harta dan anak-anak, kecuali siapa yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.” (QS Asy-Syu’ara: 88–89).
Contoh Jiwa yang Telah Kembali
Para Nabi
Para nabi adalah manusia pilihan yang seluruh hidupnya telah pulang kepada Allah. Nabi Ibrahim berkata:
“Inni wajjahtu wajhiya lilladzi fataras-samawati wal-ard hanifan wa maa ana minal musyrikin”
“Sesungguhnya aku hadapkan wajahku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan tulus, dan aku tidak termasuk orang musyrik.” (QS Al-An’am: 79)
Ia mewakili prototipe insan yang telah kembali sejak dunia
Para Shiddiqin
Abu Bakar ash-Shiddiq adalah contoh manusia yang hidup dalam dunia tapi hatinya tidak pernah berpaling dari Allah. Ia membenarkan Rasul bukan karena logika, tapi karena cahaya keyakinan yang telah rujuk ke asal. Kata Rasulullah:
“Tidak ada seorang pun yang aku tawarkan Islam, kecuali ia ragu terlebih dahulu, kecuali Abu Bakar. Ia langsung membenarkan.”
Para Syuhada
Syuhada bukan hanya orang yang mati di medan perang, tapi mereka yang menyerahkan hidupnya untuk kebenaran. Allah berkata:
“Jangan kamu kira orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati. Mereka hidup di sisi Tuhan mereka, diberi rezeki.” (QS Ali Imran: 169).
Para Shalihin dan Sufi Agung
Orang-orang seperti Rabi‘ah al-‘Adawiyah, al-Junayd, al-Hallaj, dan Ibnu ‘Arabi — telah melepaskan diri dari ilusi dunia. Mereka hidup di bumi, tapi nafasnya berasal dari langit.
Al-Junayd berkata:
“Thariqna hadza muqayyadun bil-kitab was-sunnah”
“Jalan kami ini terikat dengan al-Qur’an dan Sunnah.”
Artinya, jalan pulang kepada Allah bukan ilusi spiritual, tapi realitas syariat yang ditanamkan secara batin.
Parameter Orang yang Telah Kembali kepada Allah di Dunia
Apa tandanya seseorang telah kembali kepada Allah bahkan sebelum mati?
Hatinya tidak bergantung pada dunia, tapi berpasrah kepada Allah.
Ia ridha atas segala takdir dan tidak menyalahkan siapa pun.
Ia mencintai keheningan, dzikir, dan taubat lebih dari pujian manusia.
Ia tidak marah saat dihina, karena hatinya hanya butuh pandangan Allah.
Ia tidak silau dengan dunia, tapi menangis jika jauh dari Tuhannya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Orang yang cerdas adalah yang menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.”
(HR Tirmidzi)
Penutup: Jalan Pulang adalah Jalan Cinta
Kalimat Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un adalah mantra ilahi yang membuka kesadaran: kita tidak diciptakan untuk dunia. Kita berasal dari cahaya Allah dan akan kembali kepada-Nya. Dunia hanyalah tempat persinggahan. Bekalnya adalah hati yang bersih, jiwa yang sabar, cinta yang dalam kepada-Nya, dan kesediaan untuk melepaskan.
Semoga kita menjadi bagian dari orang-orang yang telah kembali kepada Allah bahkan sebelum maut menjemput. Mereka yang tidak lagi tenggelam dalam dunia, tapi berenang di samudra cinta-Nya.
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai. Maka masuklah dalam golongan hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”
(QS Al-Fajr: 27–30). (***)
Foto : Istimewa
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
