26.7 C
Jakarta
Rabu, September 9, 2026

Latest Posts

Harmoni HAORNAS dengan Dunia Pendidikan: Lahirkan Generasi Juara dan Berkarakter

Oleh: Dadang Sahroni/Warek I UMN, Presidium MD KAHMI Sukabumi

Wartain.com – Peringatan Hari Olahraga Nasional (HAORNAS) setiap tanggal 9 September harus dimaknai lebih dari sekadar seremoni tahunan. Momentum ini wajib diselaraskan dengan dunia pendidikan, karena sekolah dan kampus adalah kawah candradimuka lahirnya atlet, pemimpin, dan manusia sehat jasmani-rohani.

Olahraga dan pendidikan adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Di ruang kelas anak diajarkan berpikir, di lapangan anak diajarkan berjuang. Dari sinilah lahir karakter disiplin, kerja sama, sportivitas, dan mental pantang menyerah yang menjadi bekal utama menghadapi tantangan zaman.

Selama ini olahraga sering diposisikan sebagai kegiatan tambahan. Padahal dalam konteks pembangunan sumber daya manusia, olahraga adalah kebutuhan dasar. Tubuh yang bugar akan menopang otak yang cerdas. Tanpa kesehatan, prestasi akademik maupun non-akademik akan sulit dicapai secara optimal.

Jika HAORNAS ingin berdampak nyata, maka muaranya harus di sekolah, madrasah, pondok pesantren, hingga perguruan tinggi. Gerakan “Olahraga Masuk Sekolah” perlu ditegaskan kembali. Minimal 30 menit aktivitas fisik setiap hari, kurikulum PJOK yang bermutu, dan guru olahraga yang profesional harus menjadi prioritas.

Di perguruan tinggi, perannya jauh lebih strategis. Kampus bukan hanya mencetak sarjana, tetapi juga mencetak pembina, pelatih, sport scientist, dan manajer olahraga masa depan. Melalui riset, pengabdian, dan UKM olahraga, kampus bisa menjadi penghubung antara kebijakan olahraga nasional dengan implementasi di akar rumput.

Kita juga harus jujur mengakui masih banyak sekolah yang kekurangan sarana olahraga layak. Lapangan rusak, alat terbatas, dan anggaran minim. Padahal tanpa infrastruktur yang memadai, mustahil kita berharap lahir bibit-bibit atlet berprestasi dari bangku sekolah.

Pemerintah daerah, dunia usaha, KONI, dan masyarakat harus duduk bersama. Sukabumi punya potensi besar. Dari desa ke kota, banyak anak muda bertalenta. Yang dibutuhkan adalah sistem pembinaan berjenjang, kompetisi rutin, dan ekosistem yang mendukung mereka tumbuh dari tingkat sekolah hingga nasional.

HAORNAS juga harus menjadi pengingat bahwa olahraga bukan hanya soal medali. Lebih dari itu, olahraga adalah alat pencegahan. Mencegah stunting, mencegah obesitas, mencegah kenakalan remaja, dan mencegah generasi yang lemah secara fisik dan mental.

Nilai-nilai keislaman dan kebangsaan pun bisa ditanamkan melalui olahraga. Fair play adalah cerminan akhlak. Disiplin latihan adalah cerminan ibadah. Menghormati lawan adalah cerminan toleransi. Inilah yang membuat olahraga sejalan dengan visi pendidikan karakter.

Karena itu, peringatan HAORNAS tahun ini jangan berhenti di upacara dan lomba. Jadikan ia sebagai titik tolak kebijakan. Masukkan olahraga ke dalam perencanaan pembangunan pendidikan. Alokasikan anggaran, latih guru, bangun fasilitas, dan beri apresiasi bagi sekolah yang berhasil membina atlet.

Tanggung jawab ini tidak bisa dipikul sendiri oleh Dinas Pendidikan atau Dinas Pemuda dan Olahraga. Butuh sinergi. Orang tua, guru, pelatih, tokoh masyarakat, dan mahasiswa harus bergerak bersama. Ketika satu sistem bergerak, maka hasilnya akan berlipat.

Kesimpulannya jelas: jika ingin Indonesia dan Sukabumi punya generasi juara, maka selaraskan HAORNAS dengan dunia pendidikan. Dari ruang kelas dan lapangan sekolah itulah akan lahir juara-juara yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga unggul secara intelektual dan kokoh secara moral. Itu adalah investasi terbaik untuk masa depan bangsa.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.