Membaca Falsafah Alif Lam Ma‘rifat, Kedewasaan Beragama, dan Perjalanan Manusia Menuju Ma‘rifatullah
Oleh: Kang Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan
Pendahuluan
Wartain.com – Wayang golek dalam tradisi Sunda bukan sekadar pertunjukan seni untuk menghibur mata dan telinga. Di tangan seorang maestro seperti Asep Sunandar Sunarya, wayang dapat menjadi ruang perenungan: tempat manusia bercermin kepada dirinya sendiri, membaca kehidupan, mempertanyakan keberadaan, dan akhirnya kembali kepada kesadaran tentang Tuhan.
Wejangan spiritual yang disampaikan melalui pertunjukan tersebut menarik karena agama tidak ditempatkan hanya sebagai kumpulan simbol, ritual, dan hafalan, melainkan sebagai jalan kesadaran. Manusia diajak bergerak dari sekadar tahu tentang Tuhan menuju kesadaran bahwa seluruh kehidupan merupakan tanda-tanda yang mengantarkan manusia kepada Allah.
Di sinilah falsafah wayang bertemu dengan pertanyaan paling tua dalam perjalanan manusia: siapakah aku, dari mana aku berasal, untuk apa aku hidup, dan kepada siapa aku kembali?
Alif Lam Ma‘rifat: Dari Mengenal Nama Menuju Mengenal Yang Dinamai
Salah satu bagian penting dalam wejangan Asep Sunandar adalah pembahasan tentang Alif Lam Ma‘rifat.
Dalam bahasa Arab, al-ma‘rifah menunjuk kepada sesuatu yang telah dikenal atau diketahui secara tertentu. Ketika dikaitkan dengan kesadaran ketuhanan, persoalannya menjadi jauh lebih dalam: apakah mengenal nama Allah sama dengan mengenal Allah?
Manusia dapat mengucapkan Allah ribuan kali, tetapi belum tentu kesadarannya menghadirkan Allah dalam seluruh kehidupannya.
Al-Qur’an mengatakan:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ
“Maka ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.”
(QS. Muhammad [47]: 19)
Perhatikan kata fa‘lam — ketahuilah.
Tauhid bukan sekadar pengucapan kalimat lā ilāha illā Allāh. Ia mengandung proses mengetahui, memahami, menyadari, dan kemudian membentuk kehidupan berdasarkan kesadaran tersebut.
Karena itu, simbol keagamaan tidak boleh menggantikan hakikat yang disimbolkannya.
Wayang, misalnya, bukan Tuhan. Tokoh wayang bukan Tuhan. Bahkan pengetahuan tentang Tuhan pun bukan Tuhan.
Semua hanyalah tanda yang menunjuk kepada Yang Maha Benar.
Inilah yang membuat kritik terhadap mitos dan simbol dalam wejangan tersebut menjadi penting. Simbol dapat menjadi jembatan menuju kesadaran, tetapi simbol juga dapat berubah menjadi penghalang apabila manusia berhenti pada simbol dan melupakan Yang Disimbolkan.
Agama Bukan Untuk Membingungkan Manusia, Tetapi Membangunkan Kesadaran
Pernyataan bahwa agama bukan untuk orang yang bingung, melainkan untuk orang yang berpikir, dapat dibaca sebagai kritik terhadap keberagamaan yang kehilangan daya intelektualnya.
Al-Qur’an berkali-kali memanggil manusia untuk menggunakan akal:
أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“Tidakkah kamu menggunakan akal?”
Dan:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ
“Tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an?”
(QS. Muhammad [47]: 24)
Dengan demikian, kedewasaan beragama tidak cukup diukur dari banyaknya simbol agama yang digunakan seseorang.
Ia justru terlihat dari kemampuan mengendalikan dirinya, mempertanggungjawabkan perbuatannya, membedakan kebenaran dan kepentingan, serta menghadirkan nilai-nilai ilahi dalam kehidupan nyata.
Ilmu tanpa iman dapat melahirkan kesombongan intelektual.
Iman tanpa ilmu dapat melahirkan fanatisme.
Akal tanpa akhlak dapat menjadi alat pembenaran hawa nafsu. Maka, ketiganya harus bertemu:
ilmu → iman → akal → amal → akhlak.
Di sanalah agama menjadi kehidupan, bukan sekadar pengetahuan tentang kehidupan.
Mengendalikan Hawa Nafsu: Perang yang Sesungguhnya Ada di Dalam Diri
Wejangan Asep Sunandar juga membawa kita kepada persoalan manusia yang paling fundamental: hawa nafsu.
Manusia sering mengira bahwa musuh terbesar berada di luar dirinya. Padahal, seseorang dapat mengalahkan orang lain tetapi belum tentu mampu mengalahkan dirinya sendiri.
Al-Qur’an mengingatkan:
قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams [91]: 9–10)
Maka ukuran keberhasilan spiritual bukanlah seberapa tinggi seseorang berbicara mengenai Tuhan, melainkan seberapa jauh kesadaran tentang Tuhan mengubah dirinya.
Jika setelah berbicara tentang tauhid seseorang tetap dikuasai kesombongan, kebencian, kerakusan, kemunafikan, dan ketidakadilan, berarti tauhidnya belum menemukan bentuk praksisnya.
Kritik Asep Sunandar: Jangan Berhenti pada Teori
Salah satu kekuatan wejangan tersebut adalah keberaniannya membawa spiritualitas ke wilayah sosial.
Agama tidak boleh berhenti di mimbar.
Tauhid tidak boleh berhenti di lisan.
Ilmu tidak boleh berhenti di kepala.
Dan teori tidak boleh berhenti menjadi teori.
Di sinilah kritik terhadap pejabat maupun masyarakat yang banyak berbicara tetapi sedikit berbuat menjadi sangat relevan.
Allah berfirman:
كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
“Sangat besar kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaff [61]: 3)
Ayat ini memberikan ukuran yang sangat jelas: ucapan harus bertemu perbuatan. Orang yang berbicara tentang keadilan harus berlaku adil.
Orang yang berbicara tentang amanah harus menjaga amanah. Orang yang berbicara tentang tauhid harus membebaskan dirinya dari penghambaan kepada selain Allah—termasuk penghambaan kepada harta, jabatan, kekuasaan, popularitas, dan hawa nafsu.
“Man ‘Arafa Nafsahu”: Mengenal Diri sebagai Jalan Perjalanan Spiritual
Bagian yang sangat menarik adalah ungkapan: Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu
“Barang siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya.”
Ungkapan ini sangat populer dalam literatur tasawuf, tetapi perlu diberi catatan ilmiah: ia sering dinisbatkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, namun statusnya sebagai hadis Nabi diperselisihkan dan tidak dapat begitu saja diperlakukan sebagai hadis sahih.
Namun sebagai ungkapan sufistik, ia memiliki kedalaman filosofis yang luar biasa. Apa yang dimaksud dengan mengenal diri? Bukan sekadar mengetahui nama, pekerjaan, keturunan, atau kedudukan sosial.
Mengenal diri berarti menyadari:
aku adalah makhluk, bukan Khaliq;
aku terbatas, Allah tidak terbatas;
aku bergantung, Allah tidak bergantung; aku datang, Allah tidak didatangi oleh waktu; aku akan kembali, sedangkan Allah adalah Al-Awwal dan Al-Akhir.
Di sinilah pengenalan terhadap keterbatasan diri justru membuka pintu pengenalan terhadap kebesaran Allah.
Air yang Mengalir ke Laut: Falsafah Pulang
Perumpamaan air yang mengalir menuju laut merupakan gambaran spiritual yang sangat kuat. Air berasal dari suatu keadaan, mengalir melalui berbagai medan, melewati batu, lembah, sungai, dan akhirnya menuju laut.
Demikian pula manusia. Ia lahir, tumbuh, mengalami kebahagiaan, penderitaan, kehilangan, cinta, ambisi, kesuksesan, kegagalan, lalu akhirnya berhadapan dengan kematian.
Al-Qur’an memberikan hukum eksistensial yang sederhana tetapi sangat dalam:
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.” (QS. Al-Baqarah [2]: 156)
Kalimat ini sesungguhnya bukan hanya ucapan ketika mendapatkan musibah.
Ia adalah peta perjalanan manusia.
Dari Allah → menjalani kehidupan → kepada Allah.
Persoalan manusia bukan apakah ia akan kembali, karena semua manusia pasti kembali. Persoalannya adalah:
Dalam keadaan seperti apa ia kembali?
Apakah ia kembali sebagai manusia yang telah menemukan cahaya kesadarannya, atau sebagai manusia yang sepanjang hidupnya mengejar bayang-bayang dunia?
Wayang sebagai Cermin Eksistensi Manusia
Wayang memiliki struktur simbolik yang sangat menarik.
Ada dalang.
Ada wayang.
Ada panggung.
Ada cerita.
Ada konflik.
Ada perjalanan.
Apabila dibaca secara filosofis, manusia pun hidup dalam panggung kehidupan yang penuh peran.
Hari ini seseorang menjadi pemimpin.
Besok menjadi rakyat.
Hari ini kaya.
Besok miskin.
Hari ini dipuji.
Besok dilupakan.
Tetapi kesalahan terbesar manusia adalah ketika ia mengira peran adalah dirinya yang sesungguhnya.
Jabatan bukan hakikat manusia.
Harta bukan hakikat manusia.
Nama bukan hakikat manusia.
Bahkan tubuh pun akan kembali menjadi tanah.
Maka wayang dapat menjadi cermin:
siapa sebenarnya aku di balik semua peran yang kumainkan?.Pertanyaan inilah yang membawa seseorang dari kesadaran sosial menuju kesadaran spiritual.
Dari Wayang Menuju Tauhid Profetik
Jika wejangan Asep Sunandar dibaca lebih jauh, kita dapat menemukan satu garis besar: simbol → kesadaran → pengenalan diri → pengendalian hawa nafsu → amal → tanggung jawab sosial → kembali kepada Allah.
Ini menarik karena tauhid di sini tidak berhenti sebagai teori metafisika. Tauhid mempunyai konsekuensi sosial.
Jika hanya Allah yang mutlak, maka tidak boleh ada manusia yang memperlakukan dirinya sebagai sesuatu yang mutlak.
Jika hanya Allah yang Mahakuasa, maka kekuasaan manusia harus dipahami sebagai amanah. Jika hanya Allah yang memiliki kemuliaan mutlak, maka manusia tidak boleh menyombongkan kedudukan. Jika manusia benar-benar mengenal Allah, maka ia harus belajar menjadi rahmah bagi kehidupan.
Dengan demikian, Ma‘rifatullah bukan pelarian dari dunia, tetapi perubahan cara manusia berada di dalam dunia.
Pesan Terbesar: Urus Dirimu Sebelum Mengurus Dunia
Kritik sosial dalam wejangan tersebut pada akhirnya kembali kepada satu persoalan: manusia terlalu mudah menunjuk orang lain dan lupa menunjuk dirinya sendiri.
Kita mudah menyalahkan pemerintah.
Mudah menyalahkan masyarakat.
Mudah menyalahkan ulama.
Mudah menyalahkan zaman.
Tetapi pertanyaan spiritual justru dimulai dari:
Apa yang telah aku lakukan terhadap diriku sendiri?
Apakah aku sudah jujur?
Apakah aku sudah amanah?
Apakah aku masih diperbudak hawa nafsu?
Apakah ilmu yang kumiliki telah menjadi amal?
Apakah agamaku telah melahirkan akhlak?
Apakah tauhidku telah membebaskanku dari ketakutan kepada selain Allah?
Inilah bentuk kedewasaan spiritual.
Penutup: Wayang yang Mengajak Manusia Bangun
Wejangan Asep Sunandar Sunarya dapat dibaca bukan semata-mata sebagai filsafat pewayangan, tetapi sebagai undangan untuk melakukan perjalanan ke dalam diri.
Wayang mengajarkan tentang peran.
Kehidupan mengajarkan tentang perjalanan.
Kematian mengajarkan tentang kepulangan.
Tauhid mengajarkan tentang tujuan.
Dan Ma‘rifatullah mengajarkan manusia bahwa di balik seluruh tanda kehidupan terdapat satu hakikat:
Allah adalah Al-Awwal dan Al-Akhir, Az-Zahir dan Al-Batin.
Sebagaimana firman-Nya:
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Hadid [57]: 3)
Maka pertanyaan terbesar dalam hidup bukanlah “seberapa banyak yang telah aku ketahui?”, melainkan:
“Apakah pengetahuanku telah membawaku mengenal diriku, mengenal Tuhanku, dan menghadirkan kebaikan bagi kehidupan?”
Sebab pada akhirnya manusia bukan sedang berjalan menuju sesuatu yang asing. Ia sedang menjalani perjalanan panjang untuk menyadari dari mana ia berasal, siapa dirinya, untuk apa ia hidup, dan kepada siapa seluruh perjalanan itu akan kembali.
Dan mungkin, di situlah wayang berhenti menjadi sekadar tontonan lalu berubah menjadi cermin.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
