Oleh : Kang Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan
Pendahuluan
Wartain.com || Fenomena yang mengemuka di kalangan para ahli marifatullah dan para pencari hakekat dewasa ini memperlihatkan kecenderungan yang menarik sekaligus mengkhawatirkan. Banyak kajian dan pengajaran mereka berpusat pada “diri” — pencarian jati diri, kesadaran ilahiyah, dan pengalaman batin. Namun pencarian itu sering berhenti pada wilayah personal dan introspektif, tanpa keberlanjutan menuju kesadaran profetik yang bersifat sosial, historis, dan kosmik.
Marifatullah yang semestinya membuka tabir hakikat Tuhan justru banyak terjebak menjadi bentuk spiritualisme individualis, kehilangan dimensi tanggung jawab sosial dan sejarah. Tuhan dihadirkan dalam ruang dzauq, tapi dihapus dari ruang publik. Akibatnya, lahirlah bentuk baru dari jahiliyah rohani: kehadiran kesadaran batin tanpa kesadaran ketuhanan dalam sistem kehidupan.
Tulisan ini hendak mengajukan kritik profetik terhadap fenomena tersebut, dengan mengembalikan makna marifatullah dan tauhid sebagaimana diwariskan oleh Nabi Muhammad ﷺ — bukan sekadar pengalaman mistik, melainkan kesadaran eksistensial dan politik yang mengubah sistem kehidupan menuju keadilan Ilahi.
I. Marifatullah dan Krisis Kesadaran Historis
Marifatullah dalam pandangan para arif sejati tidak dapat dipisahkan dari realitas sejarah manusia. Dalam Al-Qur’an, Allah memperkenalkan diri-Nya bukan hanya sebagai Rabb al-‘alamin (Tuhan semesta alam), tetapi juga sebagai al-‘Adl (Yang Maha Adil), al-Hakim (Yang Maha Bijaksana), dan al-Haqq (Yang Maha Nyata). Artinya, pengenalan terhadap Tuhan meniscayakan kesadaran terhadap realitas dunia dan tanggung jawab di dalamnya.
Namun dalam praktik spiritual modern, marifatullah sering direduksi menjadi pencarian pengalaman batin yang tertutup pada diri. Manusia ingin mengenal Tuhan tanpa mengenal realitas dunia yang sedang diperbudak oleh kekuasaan gelap. Mereka berdzikir kepada Allah tetapi diam terhadap sistem yang menindas ciptaan-Nya.
Padahal, Nabi Muhammad ﷺ mencapai puncak makrifat bukan hanya di gua Hira ketika menerima wahyu, tetapi ketika ia menegakkan tatanan sosial baru di Madinah. Di situlah marifatullah bertransformasi menjadi kekuatan sejarah — mengubah sistem jahiliyah yang menyembah kekuasaan, harta, dan status, menjadi masyarakat tauhid yang menegakkan keadilan, kesetaraan, dan rahmah.
II. Tauhid sebagai Kesadaran Sosial dan Politik
Tauhid bukan sekadar akidah yang diucapkan dalam kalimat Lā ilāha illā Allāh, melainkan pernyataan politik tertinggi yang menolak segala bentuk per-Tuhan-an selain Allah. Ketika Rasulullah ﷺ menyerukan tauhid, ia sebenarnya sedang menggugat tatanan kekuasaan yang dibangun di atas penindasan, eksploitasi, dan kesenjangan.
Tauhid adalah penolakan terhadap ilah-ilah sosial modern: uang, kekuasaan, ideologi, dan teknologi yang menuhankan diri. Ia menuntut penyatuan antara ibadah dan pembebasan, antara dzikir dan keadilan.
Oleh sebab itu, marifatullah sejati tidak bisa dilepaskan dari perjuangan sosial. Siapa pun yang mengenal Tuhan tanpa memperjuangkan keadilan, sebenarnya belum mengenal Tuhan sebagaimana Dia memperkenalkan diri-Nya dalam sejarah.
Ketika kesadaran tauhid dipisahkan dari tanggung jawab sosial, yang muncul adalah spiritualitas apolitis — kesalehan batin yang steril dari realitas penderitaan manusia. Ini bertentangan dengan misi kenabian, karena semua nabi datang untuk menegakkan dua pilar: ibadah kepada Allah dan keadilan di antara manusia.
III. Kekuasaan Gelap dan Diri Kolektif
Zaman modern melahirkan bentuk baru dari kekuasaan jahiliyah: bukan lagi berhala fisik, tetapi sistem kolektif yang meniadakan Tuhan. Sistem ekonomi yang menuhankan pasar, politik yang dikuasai oligarki, dan budaya yang mengubah manusia menjadi alat konsumsi — semuanya membentuk “diri kolektif gelap” yang menelan kesadaran ketuhanan manusia.
Dalam situasi ini, banyak ahli hakekat yang merasa “bebas dari dunia”, padahal mereka tidak sadar sedang menjadi bagian dari sistem itu. Mereka bicara tentang fana’ tetapi fana’ dalam kenikmatan spiritual, bukan dalam tanggung jawab ilahi. Mereka bicara tentang dzauq tetapi kehilangan amal shalih yang menegakkan nilai Tuhan di bumi.
Inilah bentuk baru dari syirik sosial: mengakui Tuhan dalam dzikir, tetapi menyingkirkan-Nya dari struktur kehidupan. Diri yang tidak sadar bahwa ia menjadi bagian dari sistem kegelapan ini sedang kehilangan dimensi profetik dari marifatullah. Ia menjadi cermin tanpa cahaya, wujud tanpa ruh.
IV. Jalan Profetik: Menyatukan Diri, Tuhan, dan Sejarah
Rasulullah ﷺ menunjukkan bahwa makrifat sejati harus menyejarah. Ia tidak berhenti di gua Hira, tetapi turun ke pasar, ke medan perang, ke majelis hukum, dan ke rumah tangga — mewujudkan tauhid dalam seluruh aspek kehidupan.
Makrifat yang hakiki menuntut integrasi antara kesadaran batin dan sistem sosial. Ia bukan sekadar perjalanan menuju Tuhan, tapi perjalanan bersama Tuhan untuk menegakkan kemanusiaan. Sebagaimana sabda Nabi:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
Dalam bahasa tasawuf, ini adalah tahap tajalli al-haqq fi al-khalq — penampakan kebenaran Ilahi dalam kehidupan makhluk. Dalam bahasa politik profetik, ini berarti menghadirkan Tuhan dalam sistem, menjadikan keadilan dan kasih sebagai wajah-Nya di dunia.
Maka, tugas para arif dan murid marifatullah hari ini bukan hanya berdzikir dan menenangkan diri, tetapi membangun kesadaran sosial baru yang berakar pada tauhid. Menjadikan cinta kepada Tuhan sebagai kekuatan untuk melawan sistem zalim, dan menghadirkan Nur Ilahi dalam kebijakan, ekonomi, pendidikan, dan kebudayaan.
Penutup
Kita hidup di zaman ketika marifatullah sedang direduksi menjadi pengalaman personal, sementara dunia kehilangan kesadaran ketuhanannya. Ini adalah paradoks zaman akhir: banyak orang mengenal Tuhan di hati, tapi melupakannya di bumi.
Tugas kita bukan menolak spiritualitas, tetapi mengembalikannya ke makna profetiknya — marifatullah sebagai jalan untuk mengenal Tuhan, agar kita mampu mengemban amanah-Nya dalam sejarah.
Tauhid harus kembali menjadi kesadaran eksistensial dan struktural: menyatukan batin dan sistem, dzikir dan amal, cinta dan keadilan.
Karena pada akhirnya,
spiritualitas yang tidak menyejarah hanyalah cermin tanpa bayangan,
dan tauhid yang tidak berjuang hanyalah suara tanpa ruh.
Sudah saatnya kita naik dari marifat diri menuju marifat sejarah —
dari kesadaran yang mencari Tuhan untuk diri sendiri,
menuju kesadaran yang menghadirkan Tuhan untuk seluruh kehidupan.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
