Wartain.com || Bencana yang melanda wilayah Sumatera tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga luka batin yang mendalam bagi para penyintas. Di balik deretan tenda pengungsian dan posko kesehatan darurat, ada tenaga medis yang berjuang tidak hanya dengan ilmu dan alat kesehatan, tetapi juga dengan empati dan keteguhan hati.
Salah satunya adalah dr. Fety Lies Priyanti, dokter RSUD Al-Mulk Kota Sukabumi, yang ditugaskan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ke Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Sejak 19 Desember 2025, ia menjadi bagian dari Tim Medis Periode I yang diturunkan untuk membantu pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak bencana.
“Perasaan pertama yang muncul tentu sedih,” ungkap dr. Fety saat menceritakan pengalamannya. Namun, di balik rasa duka itu, ia menyadari bahwa kehadirannya sebagai relawan medis harus menjadi sumber kekuatan bagi para korban.
Menjadi Dokter di Tengah Keterbatasan
Setiap hari, dr. Fety berjaga di posko pengungsian, melayani warga dengan berbagai keluhan kesehatan. Penyakit kulit, infeksi ringan, hingga kelelahan fisik menjadi masalah yang paling sering ditemui. Lingkungan pengungsian yang lembap dan padat mempercepat munculnya gangguan kesehatan, terutama pada anak-anak dan lansia.
Menurutnya, persediaan obat-obatan secara umum masih mencukupi untuk sementara waktu. Namun, beberapa jenis obat tertentu mulai menipis, terutama salep untuk penyakit kulit. Kondisi ini membuatnya harus lebih cermat dalam menentukan prioritas penanganan pasien.
“Di lapangan, kami belajar untuk benar-benar memanfaatkan apa yang ada dan memastikan setiap pasien tetap mendapatkan pelayanan terbaik,” ujarnya.
Lebih dari Sekadar Mengobati
Bagi dr. Fety, tugas sebagai relawan bukan hanya tentang memberi obat atau tindakan medis. Ia melihat banyak korban yang datang dengan luka batin akibat kehilangan rumah, anggota keluarga, atau rasa aman.
Bersama tim, ia kerap meluangkan waktu untuk mendengarkan cerita para pengungsi, memberi penguatan, dan menumbuhkan kembali harapan. Menurutnya, kondisi psikologis dan spiritual sangat berpengaruh terhadap proses penyembuhan fisik.
“Pelayanan yang kami lakukan harus menyentuh secara menyeluruh. Bukan hanya tubuh, tapi juga hati dan pikiran,” katanya.
Tantangan Bahasa dan Trauma
Salah satu tantangan yang ia hadapi adalah keterbatasan bahasa. Tidak semua warga fasih berbahasa Indonesia, sehingga komunikasi harus dilakukan dengan penuh kesabaran. Bahasa tubuh, ekspresi empati, serta bantuan warga setempat menjadi jembatan dalam menyampaikan pesan kesehatan.
Di sisi lain, banyak warga masih berada dalam kondisi trauma. Oleh karena itu, setiap kata yang disampaikan harus dipilih dengan hati-hati agar tidak menambah beban emosional mereka.
Anak-Anak yang Mengajarkan Ketabahan
Momen paling membekas bagi dr. Fety adalah saat berinteraksi dengan anak-anak di pengungsian. Di tengah keterbatasan, mereka masih mampu tersenyum dan bertanya hal-hal sederhana.
Suatu hari, ketika ditanya tentang keinginannya, seorang anak menjawab lirih, “Saya cuma ingin makan ayam pakai kecap.” Jawaban itu muncul karena selama beberapa hari mereka mengalami keterbatasan makanan.
“Dari anak-anak itulah saya belajar tentang rasa syukur dan ketabahan,” tutur dr. Fety.
Pertanyaan lain yang sering ia dengar dari anak-anak adalah kapan mereka bisa kembali bersekolah. Sekolah yang tertimbun lumpur membuat impian sederhana itu terasa begitu jauh, sekaligus menyayat hati.
Menjaga Diri agar Tetap Bisa Melayani
Di tengah tugas berat dan tekanan emosional, dr. Fety menyadari pentingnya menjaga kesehatan diri. Ia berusaha makan dan minum teratur, beristirahat secara bergantian, serta menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) untuk mencegah sakit.
Secara mental, ia menguatkan diri dengan doa, berbagi cerita dengan sesama relawan, dan fokus pada hal-hal kecil yang bisa ia bantu setiap hari.
“Kalau kami tidak menjaga diri, kami tidak akan bisa menjaga orang lain,” ujarnya.
Ketika Empati Menjadi Kekuatan
Bagi dr. Fety, pengalaman ini menjadi pengingat bahwa menjadi dokter berarti siap hadir di saat paling sulit bagi orang lain. Keterbatasan fasilitas dan beratnya kondisi lapangan justru memperkuat empati dan rasa kemanusiaan.
Di tengah lumpur, tenda darurat, dan trauma, kehadiran tenaga medis menjadi secercah harapan. Bagi dr. Fety, setiap senyum kecil pasien dan setiap ucapan terima kasih menjadi energi untuk terus melayani—meski dengan langkah yang lelah, namun hati yang tetap teguh.*** (RAF)
Editor : Aab Abdul Malik
