26.7 C
Jakarta
Selasa, Maret 17, 2026

Latest Posts

DP3A Kabupaten Sukabumi Dampingi Santriwati Korban Dugaan Pelecehan di Ponpes

Wartain.com || Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Sukabumi menyatakan keprihatinan mendalam atas dugaan kasus pelecehan yang menyeret pimpinan sebuah pondok pesantren di Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi.

Kepala Sub Bagian Tata Usaha UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Wilayah Sukabumi, Yeni Dewi Endrayani, menegaskan pihaknya merasa terpukul dan menyayangkan peristiwa tersebut.

Menurutnya, sosok pimpinan lembaga pendidikan seharusnya menjadi pelindung dan pembina bagi para santriwati, bukan justru diduga merusak masa depan mereka.

“Kami sangat prihatin dan kecewa. Seharusnya anak-anak itu diasuh dan dibimbing, tetapi ini justru sebaliknya,” ujarnya, Rabu (4/3/2026).

Yeni mengungkapkan, dugaan peristiwa itu bukan terjadi sekali, melainkan telah berlangsung sejak beberapa tahun lalu dan berulang. Para korban diduga mendapat tekanan dan intimidasi agar tidak mengungkapkan apa yang dialami. Bahkan, mereka disebut dibuat merasa seolah-olah mendapatkan perlakuan khusus, sehingga enggan atau takut bercerita kepada orang lain.

DP3A Kabupaten Sukabumi telah memberikan pendampingan kepada para korban yang melapor. Proses pendampingan meliputi pemeriksaan visum di RSUD Sekarwangi serta layanan konseling psikologis yang dilakukan bersama Dinas Sosial.

“Pendampingan medis sudah dilakukan di RSUD Sekarwangi. Kemudian hari ini kami lanjutkan dengan pendampingan psikologis bekerja sama dengan Dinas Sosial,” jelasnya.

Selain itu, DP3A juga terus berkoordinasi dengan pihak kepolisian dalam mengawal proses hukum. Para korban pun mendapatkan dukungan dari kuasa hukum yang mendampingi selama proses pelaporan.

“Kami selalu berkomunikasi dengan pihak kepolisian untuk memantau perkembangan kasus. Saat ini kami menunggu proses lebih lanjut,” katanya.

Dari informasi yang dihimpun, terdapat enam santriwati yang teridentifikasi sebagai korban. Namun, baru tiga orang yang secara resmi melaporkan kejadian tersebut dan mendapatkan pendampingan dari DP3A.

“Data sementara ada enam korban teridentifikasi, tetapi yang melapor dan kami tangani ada tiga orang,” ungkap Yeni.

Secara fisik, kondisi para korban terlihat baik. Namun, secara psikologis diduga masih mengalami tekanan dan trauma. Salah satu korban bahkan sempat menghentikan pendidikan karena tidak sanggup mengungkapkan peristiwa yang dialaminya.

“Ada yang sampai keluar sekolah karena bingung harus bercerita kepada siapa. Itu tentu menjadi perhatian kami,” tuturnya.

Saat ini, korban tersebut disebut mulai menunjukkan kondisi yang lebih stabil, meski hasil evaluasi psikologis resmi masih menunggu laporan dari tenaga profesional yang melakukan pendampingan.

DP3A juga mendorong para korban untuk kembali melanjutkan pendidikan formal. Beberapa di antaranya sempat mengikuti program kesetaraan Paket C setelah putus sekolah.

“Kami dorong agar mereka bisa kembali sekolah seperti biasa dan melanjutkan masa depannya,” tegasnya.

Terkait kemungkinan adanya korban lain, Yeni tidak menutup kemungkinan hal tersebut, mengingat dugaan kejadian berlangsung sejak 2021. Namun, pihaknya menegaskan hanya dapat menangani korban yang secara resmi melapor.

“Potensinya mungkin ada, tapi kami fokus pada yang sudah melapor. Untuk penelusuran lebih lanjut itu bukan kewenangan kami,” ujarnya.

DP3A pun mengingatkan para orang tua agar tetap aktif memantau perkembangan anak, termasuk yang sedang menempuh pendidikan di lingkungan pesantren.

“Walaupun anak dititipkan di lembaga pendidikan, pengawasan dan komunikasi dari orang tua tetap penting. Jangan sampai anak merasa sendirian ketika menghadapi masalah,” pungkasnya.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.