Wartain.com || Di tengah banalitas politik yang kerap terjebak pada kalkulasi elektoral, figur seperti Dr. Oesman Sapta menghadirkan dimensi yang lebih esensial: politik sebagai praksis nilai, bukan sekadar perebutan kuasa. Ia tidak berdiri hanya sebagai aktor, tetapi sebagai artikulator arah—menghubungkan kepemimpinan dengan makna.
Dua simbol merangkum wataknya: bola dunia di tangan kiri, buku di tangan kanan. Bola dunia merepresentasikan kesadaran geopolitik, bahwa Indonesia harus membaca dunia agar tidak dibaca oleh dunia. Sementara buku menegaskan fondasi epistemik: bahwa kebijakan tanpa gagasan hanya melahirkan kekuasaan yang dangkal.
Dalam kerangka itu, orientasinya jelas: daerah sebagai basis pembangunan, rakyat kecil sebagai sentrum perjuangan. Ini bukan retorika populis, melainkan posisi ideologis bahwa keadilan harus terdistribusi, bukan terkonsentrasi.
Bagi Bang Oso, panggilan sahabat di temen temen aktifis, kemakmuran daerah adalah elementary dari perwujudan keadilan sosial yang sesungguhnya, seperti yang dicita citakan oleh para pendiri bangsa dalam Pancasila.
Sebagai tokoh kehidupan, ia bergerak di antara idealitas dan realitas, menjaga konsistensi di tengah godaan pragmatisme. Sebab kepemimpinan sejati tidak diukur dari jabatan, tetapi dari kedalaman keberpihakan dan keteguhan visi.
Pada akhirnya, ia merepresentasikan satu tesis sederhana namun fundamental:
politik yang berakar pada pengetahuan, berpijak pada rakyat, dan berorientasi pada kemajuan—adalah politik yang menghidupkan.***
Penulis : Budi Hermansyah/
(Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat-Periode 2009-2014)
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
