Membongkar Konflik Sunni vs Syiah dalam Hijab Tauhid Ma’rifatullah
Oleh: Kang Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan
Wartain.com || Konflik antara Sunni dan Syiah selama ini lebih banyak dibaca dalam kerangka sejarah, politik, dan bahkan propaganda global. Namun jika kita naik satu maqam—masuk ke dalam perspektif. Ma’rifatullah—maka kita akan melihat bahwa konflik ini sesungguhnya terjadi karena umat terhijab dari Tauhid itu sendiri.
1. Akar Masalah: Ketika Tauhid Turun Menjadi Identitas.
Tauhid sejatinya adalah penyaksian: Laa maujuda illa Allah — tiada yang benar-benar wujud selain Allah.
Namun dalam realitas umat, Tauhid sering direduksi menjadi:
Identitas kelompok,
–Mazhab fiqh,
–Afiliasi politik,
–Bahkan simbol kekuasaan
Di titik ini, Sunni dan Syiah tidak lagi berdiri sebagai jalan menuju Allah, tetapi sebagai “bendera” yang dipertahankan. Ketika bendera lebih penting daripada Allah, maka konflik menjadi tak terhindarkan.
Padahal dalam Ma’rifatullah, semua bentuk (Sunni, Syiah, bahkan label lainnya) hanyalah tajalli, bukan hakikat.
2. Hijab Terbesar: Melihat Perbedaan, Lupa Sumber Kesatuan.
Dalam perspektif Tauhid, perbedaan bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika:
Perbedaan dilihat sebagai pemisah, bukan sebagai variasi dalam satu sumber.
Sunni dan Syiah sama-sama:
Bersyahadat kepada Allah dan Rasul-Nya,
Bersandar pada Al-Qur’an
Mencintai Ahlul Bait,
Menantikan tegaknya keadilan Ilahi.
Namun hijab membuat umat melihat:
Perbedaan sejarah sebagai permusuhan abadi,
Perbedaan fiqh sebagai kesesatan,
Perbedaan politik sebagai pengkhianatan,
Padahal jika dilihat dengan mata Ma’rifat:
Yang berbeda itu bentuknya, yang satu itu sumbernya.
3. Distorsi Sejarah dan Peran Kekuatan Global.
Konflik Sunni–Syiah tidak bisa dilepaskan dari intervensi kekuatan global yang berkepentingan memecah umat.
Sejarah modern menunjukkan:
Narasi konflik terus diperkuat melalui media
Perpecahan dijaga agar umat tidak menjadi satu kekuatan.
Munculnya “versi ekstrem” dari kedua sisi untuk memperkeruh keadaan
Dalam konteks ini, penting dibedakan:
Syiah sebagai tradisi keilmuan dan spiritual
Syiah sebagai alat politik yang disusupi kepentingan asing.
Begitu pula dengan Sunni:
Ada Sunni yang membawa rahmat,
Ada pula yang terjebak dalam fanatisme sempit.
Jadi persoalannya bukan pada label, tetapi pada kesadaran Tauhid yang hidup atau mati dalam diri umat.
4. Iran dalam Perspektif Ma’rifatullah.
Melihat Iran secara jernih harus keluar dari propaganda.
Dalam realitas geopolitik:
Iran berdiri melawan dominasi global
Mengusung kemandirian politik dan perlawanan terhadap hegemoni.
Menghidupkan kembali semangat keberanian umat.
Namun dalam perspektif Ma’rifatullah:
Yang dinilai bukan mazhabnya, tapi sejauh mana ia menjadi alat tajalli sifat Allah: Al-‘Adl (Maha Adil), Al-Qahhar (Maha Mengalahkan), Al-Haqq (Kebenaran).
Jika suatu kekuatan:
-Membela yang tertindas,
-Melawan kezaliman,
-Menegakkan kehormatan umat
-Maka di sana ada pantulan sifat Ilahi, terlepas dari label mazhabnya.
5. Pelajaran dari Sejarah: Kesatuan dalam Keragaman.
Sejarah Islam tidak pernah tunggal dalam mazhab:
Ada fase di mana berbagai mazhab hidup berdampingan,
Perbedaan tidak menghalangi kekuatan peradaban.
Spirit utama adalah Tauhid, bukan uniformitas.
Kesalahan umat hari ini adalah:
Menganggap kesatuan harus berarti keseragaman.
Padahal dalam Tauhid:
Allah itu Esa
Tapi tajalli-Nya beragam
Begitu pula umat:
Sumbernya satu
Jalannya bisa berbeda.
6. Menuju Kesadaran Tauhid yang Membebaskan.
Solusi konflik Sunni–Syiah bukan debat tanpa akhir, tetapi naik maqam:
Dari:
“Siapa yang benar?”
Menuju:
“Apakah kita sudah melihat Allah dalam semua ini?”
Ketika seseorang sampai pada Ma’rifat:
Ia tidak mudah mengkafirkan,
Tidak mudah membenci ,
Tidak terjebak dalam propaganda
Karena ia melihat:
Semua berada dalam kehendak Allah, dan kembali kepada-Nya.
7. Prinsip Dasar: No Sunni, No Syiah — Hanya Tauhid.
Ungkapan seperti:
“No Sunni, No Syiah, Hanya Islamiyah Wahdah”.
Harus dipahami bukan sebagai penghapusan identitas, tetapi sebagai pengembalian pusat:
Bukan Sunni yang dihapus,
Bukan Syiah yang dihilangkan,
Tapi ego sektarian yang diluruhkan
Yang tersisa adalah:
Tauhid yang hidup, yang menyatukan, bukan memecah.
Penutup: Kembali ke Sumber.
Konflik Sunni–Syiah akan terus ada selama umat:
Berpikir di level identitas,
Terjebak dalam sejarah tanpa hikmah.
Kehilangan rasa حضور (kehadiran Allah).
Namun ketika umat kembali ke Ma’rifatullah:
Perbedaan menjadi rahmat.
Kekuatan menjadi terhimpun.
Umat kembali menjadi satu tubuh.
Akhirnya kita memahami:
Bukan Sunni atau Syiah yang akan menyelamatkan umat,
tetapi Tauhid yang disaksikan dan dihidupkan.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
