Wartain.com || Di ruang pamer Batik Fractal–LPS, karya-karya seni tampil dengan warna kuat dan garis ekspresif. Namun di balik visual yang memikat mata, Gelar Karya Lawungkala menyimpan makna yang lebih dalam: perjumpaan gagasan anak muda Sukabumi sekaligus bentuk kepedulian terhadap sesama di Sumatra.
Pameran ini menghadirkan beragam medium, mulai dari lukisan, fotografi, desain grafis, hingga videografi. Setiap karya berdiri sebagai representasi pengalaman personal para perupa—tentang keresahan, perjalanan hidup, hingga harapan—yang kemudian dipertemukan dalam satu ruang kolektif.
Seluruh karya merupakan hasil cipta anak-anak Sukabumi, termasuk mereka yang kini berkarya di luar daerah namun tetap membawa ikatan emosional dengan kampung halamannya.
Ketua Pelaksana kegiatan, Andika Putra Dermawan, menjelaskan bahwa Lawungkala lahir dari semangat gotong royong dan kebersamaan. Menurutnya, pameran ini menjadi wadah lintas disiplin bagi para kreator muda.
“Ini kegiatan kolektif dari teman-teman. Ada fotografi, desain, dan lukisan. Lawungkala itu tentang ruang kreativitas dan waktu. Harapannya, dari sini akan lahir pergerakan-pergerakan ke depan,” ujarnya, Sabtu (20/12/2025).
Sebagai gelaran perdana, Lawungkala tidak hanya berfungsi sebagai ruang apresiasi karya, tetapi juga diarahkan menjadi ruang regenerasi kreatif. Andika berharap pameran semacam ini dapat terus berlanjut dan melibatkan lebih banyak anak muda Sukabumi di masa mendatang.
Tak hanya berhenti pada perayaan seni, nilai kemanusiaan juga menjadi bagian penting dari pameran ini. Sejumlah karya dipilih untuk dilelang, dengan hasil penjualan yang akan disalurkan sebagai bantuan bagi masyarakat di Sumatra.
“Beberapa karya memang kami lelang, dan hasilnya akan kami donasikan untuk saudara-saudara kita di Sumatra,” kata Andika.
Dukungan pun datang dari Wali Kota Sukabumi, Ayep Zaki. Ia menilai kegiatan ini sebagai energi positif bagi perkembangan kreativitas di kota tersebut.
“Saya mengapresiasi kegiatan ini. Sukabumi membutuhkan ruang-ruang kreativitas seperti ini, apalagi ada kepedulian sosial melalui donasi untuk Sumatra,” ujarnya.
Melalui Gelar Karya Lawungkala, anak muda Sukabumi menunjukkan bahwa seni bukan sekadar ekspresi visual. Kreativitas dapat berjalan seiring dengan empati, menjadikan karya seni bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga sebagai medium yang menghubungkan rasa kemanusiaan.***(RAF)
Editor : Aab Abdul Malik
