Wartain.com – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa (Gema) Sukabumi turun ke jalan untuk menyampaikan kritik terhadap sejumlah kebijakan pemerintah pusat, Rabu (28/10/2026). Dalam aksi tersebut, mahasiswa mendesak evaluasi menyeluruh terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih, serta penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Aksi demonstrasi dimulai dari kawasan Jalan RSUD R. Syamsudin SH. Massa kemudian bergerak ke depan Gedung DPRD Kota Sukabumi untuk menyampaikan aspirasi melalui orasi terbuka, sebelum melanjutkan long march menuju Bundaran Tugu Adipura.
Situasi lalu lintas sempat tersendat ketika mahasiswa memblokade jalan dan membakar ban di kawasan tersebut. Kepolisian kemudian menerapkan rekayasa arus kendaraan untuk mengurai kepadatan. Menjelang petang, massa melanjutkan pergerakan dan berkumpul di depan kampus Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI).
Dalam tuntutannya, mahasiswa menyoroti perlunya pengawasan dan evaluasi secara berkala terhadap pelaksanaan program MBG dan Koperasi Desa Merah Putih. Mereka menginginkan agar kedua program tersebut dijalankan secara transparan, tepat sasaran, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Selain persoalan program pemerintah, mahasiswa turut menyoroti penanganan karhutla di berbagai wilayah Indonesia. Mereka mendesak pemerintah pusat menetapkan karhutla sebagai bencana nasional agar penanganannya dapat dilakukan secara lebih serius dan menyeluruh.
Koordinator aksi, Muhammad Naufal Raihan, mengatakan demonstrasi tersebut merupakan hasil kajian dan konsolidasi mahasiswa dalam merespons berbagai persoalan kebijakan, baik di tingkat daerah maupun nasional.
“Aksi ini merupakan bentuk solidaritas terhadap rekan-rekan mahasiswa di berbagai daerah, seperti Kalimantan dan Ambon, yang turut menyuarakan persoalan kebijakan pemerintah. Kami juga mengangkat isu-isu lokal yang berkaitan langsung dengan kesejahteraan masyarakat Sukabumi,” ujar Naufal.
Sementara itu, untuk mengawal jalannya demonstrasi, Polres Sukabumi Kota mengerahkan sekitar 400 personel gabungan yang terdiri dari unsur TNI, Polri, dan Pemerintah Kota Sukabumi. Petugas ditempatkan di sepanjang jalur pergerakan massa serta sejumlah titik yang berpotensi menimbulkan gangguan lalu lintas.
Kapolres Sukabumi Kota, AKBP Sentot Kunto Wibowo, mengatakan pengamanan juga dilakukan melalui penyekatan di kawasan Cibolang, tepatnya di depan Al-Masturiyah. Langkah tersebut bertujuan mengantisipasi kemungkinan masuknya pihak-pihak yang tidak berkepentingan dari wilayah Cicurug dan berpotensi memicu gangguan keamanan.
Meski sempat terjadi penutupan jalan dan pembakaran ban, kepolisian menyatakan situasi selama aksi berlangsung tetap terkendali. Pengaturan lalu lintas juga dilakukan agar kegiatan masyarakat tidak terganggu secara berkepanjangan.
“Alhamdulillah situasi aman terkendali dan berjalan lancar. Arus lalu lintas tetap dapat mengalir sehingga aktivitas masyarakat tidak terganggu, sementara mahasiswa tetap bisa menyuarakan aspirasinya secara aman,” kata Sentot.
Aksi tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan kritik dan tuntutan terhadap kebijakan pemerintah. Di sisi lain, pengamanan dilakukan untuk menjaga ketertiban umum serta memastikan penyampaian aspirasi berlangsung dengan aman.***(RAF)
Editor: Aab Abdul Malik
