Oleh: Kang Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan
Wartain.com – Hari raya qurban selama ini sering dipahami sebatas ritual penyembelihan hewan: kambing, sapi, atau unta. Padahal di dalam Al-Qur’an, Allah tidak berhenti pada bentuk lahiriah qurban, tetapi membawa manusia menuju makna terdalam tentang penyerahan diri, pemurnian jiwa, dan penghancuran “aku” yang menutupi cahaya Tuhan dalam diri manusia.
Dalam perspektif tauhid kenabian Ma’rifatullah, qurban bukan sekadar peristiwa sejarah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, tetapi sebuah perjalanan ruhani manusia menuju Allah. Ia adalah perjalanan memotong segala sesuatu yang menghalangi manusia dari Tuhan: kesombongan, hawa nafsu, ketakutan, cinta dunia, bahkan keakuan spiritual.
Allah berfirman:
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan dari kalian.”
(QS. Al-Hajj: 37)
Ayat ini adalah pintu besar Ma’rifatullah. Sebab Allah sejak awal menegaskan bahwa yang diterima bukan dagingnya, bukan darahnya, bukan kemeriahan ritualnya, tetapi keadaan batin manusia. Maka hakikat qurban bukan pertama-tama tentang hewan yang disembelih, melainkan tentang diri manusia yang dipersembahkan kepada Allah.
Dalam tauhid kenabian, para nabi datang bukan hanya membawa hukum ritual, tetapi membimbing manusia agar kembali mengenal Allah secara hidup dan sadar. Karena itu, qurban Nabi Ibrahim bukan sekadar kisah ayah yang hendak menyembelih anaknya, tetapi simbol penghancuran keterikatan terdalam manusia kepada selain Allah.
Nabi Ibrahim adalah simbol tauhid murni. Beliau menghancurkan berhala bukan hanya di luar dirinya, tetapi juga berhala dalam hati. Dan berhala terbesar manusia bukan batu, melainkan “aku”.
Ketika Allah memerintahkan Ibrahim mengorbankan Ismail, sesungguhnya Allah sedang menguji: apakah cinta Ibrahim kepada Allah lebih besar daripada cintanya kepada apa pun yang paling ia cintai?
Maka Ismail dalam makna ruhani bukan sekadar seorang anak, tetapi lambang dari sesuatu yang paling dicintai manusia di dunia. Bisa berupa anak, jabatan, harta, kehormatan, pengaruh, bahkan pemikiran dan ego dirinya sendiri.
Karena itu, perjalanan Ibrahim adalah perjalanan memotong keterikatan jiwa agar manusia kembali utuh kepada Allah.
Dan Ismail bukanlah korban kebencian, melainkan korban cinta tauhid.
Lihatlah jawaban Ismail:
“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
(QS. Ash-Shaffat: 102)
Di sini tampak bahwa qurban sejati bukan pemaksaan, tetapi kepasrahan total kepada kehendak Allah. Ibrahim menyerahkan cinta. Ismail menyerahkan diri. Dan keduanya dipertemukan dalam tauhid.
Dalam Ma’rifatullah, “hari raya” bukan sekadar tanggal pada kalender, melainkan keadaan batin ketika cahaya Allah mulai menang atas kegelapan ego manusia.
“Hari” dalam diri manusia adalah saat kesadaran ruhani terbit.
Sebagaimana malam adalah kegelapan jiwa yang tertutup dunia, maka hari adalah bangkitnya nur Ilahi dalam hati manusia.
Karena itu, Idul Adha sejatinya adalah hari kemenangan ruh atas nafsu. Hari ketika manusia mulai menyembelih sifat hewani dalam dirinya: rakus, sombong, iri, tamak, dendam, dan cinta dunia berlebihan.
Sebab banyak manusia menyembelih hewan, tetapi tidak pernah menyembelih egonya.
Banyak yang mengalirkan darah qurban, tetapi masih memelihara kesombongan.
Banyak yang bertakbir, tetapi dirinya masih menjadi tuhan kecil dalam hidupnya.
Padahal inti tauhid adalah gugurnya “aku” di hadapan Allah.
Nabi Ibrahim tidak hanya mengajarkan penyembelihan, tetapi penyerahan total.
Karena itu, qurban yang diterima Allah adalah qurban batin yang melahirkan ketakwaan hidup.
Allah menerima qurban Habil karena kejernihan ruhnya, bukan karena bentuk persembahannya.
Qurban yang diterima Allah adalah ketika manusia:
mengorbankan kesombongannya demi kerendahan hati,
mengorbankan kebenciannya demi kasih sayang,
mengorbankan kerakusannya demi keadilan,
mengorbankan cintanya kepada dunia demi cinta kepada Allah,
dan mengorbankan egonya agar cahaya Tuhan hidup dalam dirinya.
Inilah yang sulit dilakukan manusia modern.
Hari ini umat Islam sering berhenti pada simbol, tetapi kehilangan ruh. Ritual ada, tetapi transformasi jiwa tidak terjadi. Takbir menggema, namun permusuhan tetap menyala. Masjid penuh, tetapi hati kosong dari kasih Allah.
Karena itu, umat saat ini bukan hanya membutuhkan penyembelihan hewan, tetapi penyembelihan nafsu kolektif.
Qurban hari ini harus melahirkan manusia yang:
jujur dalam mencari nafkah,
adil dalam kekuasaan,
lembut kepada sesama,
peduli kepada fakir miskin,
dan hidup dalam kesadaran bahwa seluruh hidup adalah milik Allah.
Sebab hakikat Islam bukan sekadar ibadah formal, tetapi penyerahan diri total kepada Tuhan Yang Maha Hidup.
Dalam tauhid kenabian Ma’rifatullah, para nabi datang untuk membangunkan manusia dari penyembahan terhadap dunia menuju penyaksian kepada Allah.
Dan Idul Adha adalah panggilan abadi itu.
Panggilan agar manusia kembali menjadi Ibrahim: menghancurkan berhala dirinya.
Kembali menjadi Ismail: rela menyerahkan diri kepada Allah.
Dan kembali menjadi hamba: yang hidup bukan demi ego, tetapi demi Tuhan.
Karena pada akhirnya, qurban terbesar bukanlah kambing atau sapi yang disembelih, melainkan ketika manusia mampu menyembelih “aku”-nya di hadapan Allah.
Di situlah lahir tauhid sejati.
Dan di situlah Ma’rifatullah mulai menyala dalam diri manusia.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
