Oleh : Ikin Abdurrahman/Direktur Majelis Dzikir Dan Shalawat RI 1, Yayasan Merah Putih 08
Wartain.com || Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman menjelaskan konteks kebangsaan (baca : kenegaraan) :
Surat Al-Anbiya Ayat 92,
إِنَّ هَٰذِهِۦٓ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَٰحِدَةً وَأَنَا۠ رَبُّكُمْ فَٱعْبُدُونِ
Arab-Latin : Inna hāżihī ummatukum ummataw wāḥidataw wa ana rabbukum fa’budụn
Artinya : Sesungguhnya keragaman ini adalah umat kalian semua; yaitu umat yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.
Dalam, Ayat lain Dia SWT menyatakan siapa diri-Nya :
وَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ لَآاِلٰهَ اِلَّا هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُࣖ ١٦٣
wa ilâhukum ilâhuw wâḫid, lâ ilâha illâ huwar-raḫmânur-raḫîm
Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada tuhan selain Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Dzikir termanifestasi dalam kesadaran diri bertauhid, kesadaran kosmik berdasarkan ketuhanan yang Maha Esa, dan kesadaran kemanusiaan bersemboyankan bhinneka tunggal Ika
Indonesia adalah negara yang memiliki keunikan dan keberagaman yang tidak dapat ditemukan di negara lain.
Dari segi geografis, Indonesia terdiri dari ribuan pulau yang tersebar di seluruh wilayah Asia Tenggara.
Dari segi budaya, Indonesia memiliki lebih dari 300 suku bangsa yang memiliki tradisi, bahasa, dan adat istiadat yang berbeda-beda.
Namun, di antara semua keunikan dan keberagaman tersebut, ada satu hal yang membuat Indonesia benar-benar berbeda dari negara lain. Indonesia adalah satu-satunya negara bertauhid di dunia karena secara eksplisit “berdasarkan ketuhanan” dan berfalsafah “Bhinneka Tunggal Ika”.
Berdasarkan Ketuhanan
Pancasila, dasar negara Indonesia, memiliki lima sila yang menjadi fondasi bagi negara dan bangsa Indonesia. Salah satu sila yang paling penting dan menjadi ciri khas Indonesia adalah sila pertama, yaitu “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Sila ini secara eksplisit menyatakan bahwa Indonesia adalah negara yang berdasarkan pada ketuhanan.
Tidak ada negara lain di dunia yang memiliki pernyataan seperti ini dalam konstitusinya. Meskipun terdapat beberapa negara memiliki konstitusi yang berdasarkan pada ajaran agama, namun tidak ada negara lain yang secara eksplisit menyebutkan bahwa negaranya “berdasarkan pada ketuhanan” seperti Indonesia.
Ada beberapa negara yang dalam konstitusinya menyatakan bahwa negaranya berdasarkan pada ajaran agama tertentu, seperti Iran, Arab Saudi, dan Pakistan yang berdasarkan Islam pada konstitusinya, atau juga seperti Vatikan yang berdasarkan pada ajaran katolik,
1. Vatikan: dalam negara Vatikan mereka memiliki konstitusi yang berdasarkan pada ajaran (doktrin) Katolik. Namun tidak secara eksplisit menyatakan bahwa negara mereka “berdasarkan ketuhanan”,
2. Iran: Konstitusi Iran menyatakan bahwa negara mereka adalah “Republik Islam Iran”, namun tidak secara eksplisit menyatakan bahwa negara mereka “berdasarkan ketuhanan”.
3. Arab Saudi: Konstitusi Arab Saudi tidak secara eksplisit menyatakan bahwa negara mereka “berdasarkan ketuhanan”, namun mereka memiliki konstitusi yang berdasarkan pada ajaran Islam Sunni.
4. Pakistan: Konstitusi Pakistan menyatakan bahwa negara mereka adalah “Republik Islam Pakistan”, namun tidak secara eksplisit menyatakan bahwa negara mereka “berdasarkan ketuhanan”.
Dengan demikian Hanya Indonesia yang memiliki konstitusi yang secara eksplisit menyatakan bahwa negara ini “Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”
Semboyan Bhinneka Tunggal Ika
“Bhinneka Tunggal Ika” adalah semboyan negara Indonesia yang memiliki makna yang sangat mendalam. Falsafah ini menekankan bahwa meskipun Indonesia memiliki berbagai suku, agama, ras, bahasa, dan budaya yang berbeda-beda, namun tetaplah tunggal (baca : kesatuan pandangan) sebagai satu bangsa Indonesia.
“Bhinneka Tunggal Ika” berasal dari bahasa sansekerta
Secara harfiah, kata-kata tersebut dapat diartikan sebagai berikut :
– Bhinneka: Berbeda-beda, tidak sama
– Tunggal: Satu, tunggal
– Ika: Itu, tersebut
Jadi, secara harfiah, “Bhinneka Tunggal Ika” dapat diartikan sebagai “Berbeda-beda itu tunggal”.
Dalam tata bahasa Indonesia, “satu” dan “tunggal” memiliki arti yang sedikit berbeda.
– Satu biasanya digunakan untuk menghitung atau menyatakan jumlah yang sama, seperti “satu buah apel”.
– Tunggal biasanya digunakan untuk menyatakan bahwa sesuatu tidak dapat dibagi atau dipisahkan, seperti “tunggal dalam cinta” atau “tunggal dalam kesetiaan”.
Jadi, dalam konteks “Bhinneka Tunggal Ika”, kata “tunggal” lebih tepat diartikan sebagai “satu-satunya tidak dapat dibagi” atau “tidak dapat dipisahkan”, bukan hanya “satu”.
Falsafah ini juga menekankan pentingnya toleransi dan menghargai perbedaan. Dalam konteks Indonesia, falsafah ini menjadi sangat penting karena Indonesia memiliki keberagaman yang sangat besar.
Hubungan dengan Tauhid
Semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” memiliki hubungan yang sangat erat dengan makna tauhid. Tauhid dalam Islam berarti mengakui bahwa Allah SWT adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah dan diibadahi.
Dalam konteks falsafah “Bhinneka Tunggal Ika”, dan makna tauhid dapat diartikan sebagai pengakuan bahwa ada satu hakikat yang Tunggal dan Tidak dapat dibagi, yaitu ke-Esaan Tuhan, dan itulah Identitas asli dari bangsa Indonesia.
Kesimpulan
Indonesia adalah satu satunya negara yang unik dan berbeda dari negara lain. Dengan secara eksplisit dalam Undang-Undang Dasarnya menyatakan bahwa “negara berdasar kepada “Ketuhanan Yang Maha Esa”, dan berpegang teguh pada semboyan “Bhineka Tunggal Ika”, dengan demikian maka Indonesia menjadi satu-satunya negara di dunia yang secara de jure adalah “negara bertauhid”.***
Foto : Istimewa
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
