26.7 C
Jakarta
Selasa, Juni 23, 2026

Latest Posts

​Mengurai Paradoks Penciptaan: Antara Air yang Hina dan Tiupan Ruh Ilahi

​Oleh: Kang Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan

​Wartain.com – Pernahkah kita merenungkan sebuah kontradiksi yang sangat mencolok di dalam diri kita sendiri? Di satu sisi, Al-Qur’an dalam Surah Al-Mursalat ayat 20 menyentuh ego kita dengan sebutan yang sangat bersahaja: Maa-in Mahiin, sebatang air yang dianggap hina, lemah, dan remeh. Diksi ini seolah menempatkan fisik manusia pada titik terendah dalam hierarki material bumi. Namun, di lembaran ayat lain—seperti dalam Surah Al-Hijr ayat 29—Allah justru meninggikan derajat manusia ke singgasana tertinggi dengan kalimat: Wanafahtu min ruuhii, “dan Aku tiupkan ke dalamnya ruh-Ku.”

​Dua frasa ini laksana dua kutub magnet yang saling bertolak belakang, namun menyatu erat dalam satu tubuh bernama manusia. Mengapa Allah mendesain kita dari perpaduan dimensi yang begitu kontras?

​Jika kita membedahnya secara kebahasaan (lughah), kata mahiin tidak serta-merta lahir untuk merendahkan martabat kemanusiaan secara mutlak. Istilah ini digunakan Al-Qur’an sebagai perangkat retorika (bayan) yang berfungsi menghancurkan penyakit kibr—kesombongan ego yang kerap menjangkiti anak cucu Adam. Secara inderawi dan fikh, materi biologi bernama sperma ini keluar melalui saluran pembuangan yang dianggap kotor dalam syariat. Ini adalah tamparan harian bagi ego manusia, seolah Tuhan ingin berbisik: “Janganlah engkau berjalan di muka bumi dengan pongah, sebab bahan baku fisikmu adalah sesuatu yang jika menempel di pakaian pun, engkau akan merasa risih.”

​Namun, bagi para penempuh jalan hakikat (salik), di balik bungkus luar jasad yang mahiin itu, tersimpan rahasia besar (sirr). Cairan remeh tersebut sesungguhnya adalah kendaraan fisik yang dipilih langsung oleh Allah untuk membawa cetak biru kehidupan. Di sinilah letak keindahan hukum tajalli (pancaran qudrat Tuhan). Ketika materi jasad telah siap, Allah memasangkan dimensi langit ke dalamnya melalui tiupan ruh-Nya.

Penyandaran kata “Ruh-Ku” (Idhafah Tasyriif) merupakan sebuah bentuk legitimasi bahwa manusia mengemban amanah suci untuk merefleksikan sifat-sifat luhur Tuhan di muka bumi—seperti kasih sayang, keadilan, dan ilmu.

​Dimensi kontras ini tidak hanya berhenti pada proses penciptaan awal, melainkan terus berjalan dalam siklus biologis harian kita. Tengoklah apa yang masuk ke dalam mulut kita setiap hari. Makanan yang bersih, buah-buahan yang indah, dan air suci yang halal. Mengapa setelah masuk ke dalam tubuh manusia, semuanya diproses dan keluar kembali menjadi kotoran yang najis dan menjijikkan?

​Secara hakikat, tubuh manusia bertindak sebagai pemisah (al-fashl). Sari pati dan energi spiritual dari makanan halal diserap menjadi cahaya iman dan kekuatan untuk bersujud. Sementara ampas materi kasarnya dikembalikan lagi ke bumi sebagai kotoran. Manusia secara fitrah merasa jijik dengan kotoran tersebut karena ruh mereka—yang berasal dari dimensi Wanafahtu min ruuhii—sejatinya adalah entitas yang suci dan selalu menolak hal-hal yang rendah. Pabrik pencernaan ini adalah miniatur dunia: seindah apa pun bungkusnya, jika hanya digunakan untuk memuaskan syahwat jasadwi, ia akan berakhir menjadi sesuatu yang sirna dan ditinggalkan.

​Pada akhirnya, manusia adalah makhluk dua dimensi; menjembatani bumi yang rendah dan langit yang tinggi. Kita diajarkan untuk merunduk rendah hati (tawadhu) setiap kali mengingat jasad kita yang berasal dari air yang hina, namun di saat yang sama harus optimis bergerak memberi manfaat karena ada amanah ruh Ilahi yang ditiupkan di dalam dada. Ketitiktemuan kedua dimensi inilah yang melahirkan manusia seutuhnya.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.