Oleh: Dadang Sahroni/Presidium Majelis Daerah KAHMI Sukabumi/Warek I UMN Sukabumi
Wartain.com – Musyawarah Wilayah (Muswil) Majelis Wilayah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MW KAHMI) Jawa Barat periode 2026-2031 yang digelar di Bandung pada 7-9 Agustus 2026 bukan sekadar forum lima tahunan. Bagi kami di daerah, Muswil adalah ruang untuk mencari dan melahirkan sosok pemimpin masa depan yang mampu membawa KAHMI lebih relevan, solutif, dan berdampak bagi Jawa Barat.
KAHMI lahir dari rahim HMI dengan semangat intelektualitas, keislaman, dan keindonesiaan. Di tengah dinamika politik, ekonomi, dan sosial hari ini, tuntutan terhadap KAHMI semakin besar. Masyarakat tidak hanya melihat kami sebagai kumpulan alumni, tetapi sebagai kelompok cendekiawan yang harus memberi solusi.
Karena itu, pemimpin yang kita cari di Muswil kali ini tidak bisa hanya bermodalkan nama besar atau jaringan semata. Kita butuh nahkoda yang memiliki tiga pilar utama: integritas, kapasitas, dan keberpihakan. Integritas agar dipercaya. Kapasitas agar mampu merumuskan gagasan. Keberpihakan agar kebijakan dan program benar-benar menyentuh persoalan rakyat.
Jawa Barat adalah provinsi dengan penduduk terbesar dan persoalan yang sangat kompleks. Mulai dari pengangguran terdidik, kesenjangan pendidikan, hingga polarisasi sosial. KAHMI Jabar ke depan harus hadir sebagai jembatan gagasan antara pemerintah, kampus, dunia usaha, dan masyarakat. Dan itu hanya bisa dilakukan jika dipimpin oleh orang yang tepat.
Sebagai Presidium MD KAHMI Sukabumi, saya melihat Muswil ini sebagai momentum konsolidasi. Kita tidak sedang mencari pemimpin untuk KAHMI saja, tetapi pemimpin yang bisa menggerakkan KAHMI untuk Jawa Barat. Pemimpin yang berani keluar dari zona nyaman organisasi, turun ke lapangan, dan membangun kolaborasi.
Kriteria itu sederhana, tapi tidak mudah. Pemimpin masa depan KAHMI Jabar harus:
Pertama, visioner. Mampu membaca arah pembangunan Jabar 5 tahun ke depan.
Kedua, inklusif. Mampu merangkul semua MD, lintas generasi, dan lintas profesi.
Ketiga, aksi. Tidak hanya berpidato di forum, tapi hadir dalam aksi nyata.
Saya menyaksikan sendiri semangat teman-teman dari berbagai daerah yang hadir di Grand Asrilia Hotel. Ada energi baru, ada optimisme. Ini pertanda baik. Regenerasi di KAHMI berjalan. Yang kita butuhkan sekarang adalah menyalurkan energi itu ke dalam satu komando kepemimpinan yang kuat.
Proses Muswil harus kita jaga agar tetap demokratis, elegan, dan beradab. Tidak ada pemenang dan pecundang. Yang ada hanya KAHMI yang menang. Karena pada akhirnya, siapapun yang terpilih, itu adalah amanah besar untuk mengabdi.
Saya berharap, dari Muswil 2026-2031 ini lahir pemimpin yang tidak hanya memikirkan internal organisasi, tetapi juga memikirkan kontribusi KAHMI untuk Jabar. Mulai dari penguatan pendidikan karakter, pemberdayaan UMKM alumni, hingga keterlibatan dalam kebijakan publik yang pro-rakyat.
KAHMI Jawa Barat harus menjadi rumah besar bagi alumni HMI untuk mengabdi. Dan rumah itu butuh pemimpin yang mampu menjaga, merawat, dan membangunnya. Semoga Muswil ini melahirkan sosok tersebut. Sosok pemimpin masa depan yang kita cari bersama.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
