Wartain.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mencatat laju inflasi tahunan (year on year/yoy) di Provinsi Jawa Barat pada Juni 2026 mencapai 3,08 persen. Angka tersebut tercermin dari Indeks Harga Konsumen (IHK) yang berada di level 112,02.
Peningkatan inflasi terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau, disusul kelompok perumahan, air, listrik, serta bahan bakar rumah tangga yang turut mengalami kenaikan.
Data BPS menunjukkan kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi sebesar 4,28 persen dan menjadi penyumbang terbesar terhadap kenaikan harga. Sementara kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mengalami inflasi sebesar 1,09 persen.
Kepala BPS Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati, menjelaskan inflasi pada Juni 2026 dipengaruhi sejumlah faktor, salah satunya penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi serta mulai berkurangnya pasokan beberapa komoditas pangan akibat memasuki awal musim kemarau.
“Inflasi pada Juni 2026 secara bulanan tercatat sebesar 0,28 persen. Salah satu faktor dominannya adalah kenaikan harga BBM nonsubsidi, khususnya Pertamax dan Pertamax Green 95,” ujar Margaretha, Jumat (3/7/2026).
Menurutnya, penyesuaian harga BBM tersebut memberikan kontribusi signifikan terhadap kenaikan harga komoditas bensin di kelompok transportasi.
“Komoditas bensin memberikan andil inflasi sekitar 0,21 persen pada Juni ini,” katanya.
Meski inflasi meningkat, BPS menilai kondisi perekonomian Jawa Barat masih menunjukkan kinerja yang solid. Aktivitas ekonomi daerah dinilai tetap tumbuh dengan baik dan memiliki daya tahan yang kuat.
Margaretha menyebut kondisi tersebut didukung oleh meningkatnya daya beli petani serta masih terjaganya surplus neraca perdagangan luar negeri, sehingga menjadi penopang stabilitas ekonomi Jawa Barat di pertengahan tahun 2026.
Di tingkat nasional, BPS mencatat inflasi tahunan Indonesia pada Juni 2026 mencapai 3,34 persen, sedangkan inflasi bulanan berada di angka 0,44 persen. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga menjadi kontributor utama kenaikan harga di berbagai wilayah Indonesia.
Dengan masih tingginya tekanan harga kebutuhan pokok, pemerintah daerah bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) diharapkan terus memperkuat langkah-langkah pengendalian inflasi, terutama melalui upaya menjaga kelancaran distribusi serta ketersediaan pasokan pangan agar harga tetap stabil pada bulan-bulan mendatang.***(RAF)
Editor : Aab Abdul Malik
