Wartain.com || Udang rebon, yang selama ini sering diolah menjadi terasi atau sekadar digoreng, kini mulai dilirik sebagai bahan baku utama pembuatan abon. Inovasi ini hadir sebagai alternatif lauk pauk yang tidak hanya gurih dan tahan lama, tetapi juga memiliki kandungan protein tinggi yang sangat dibutuhkan tubuh.
Kandungan Gizi Melimpah dalam Ukuran Mungil
Meskipun ukurannya kecil, udang rebon kering menyimpan potensi nutrisi yang luar biasa. Berdasarkan data kesehatan, setiap 100 gram udang rebon kering mengandung sekitar 59,4 gram protein. Selain protein, rebon juga kaya akan kalsium (mencapai 760-2306 mg per 100 gram tergantung jenis olahannya) serta fosfor dan zat besi yang bermanfaat untuk pertumbuhan tulang dan pencegahan anemia.
Keunggulan Abon Rebon Sebagai Alternatif Lauk
Pengolahan rebon menjadi abon memberikan beberapa keuntungan bagi masyarakat:
Masa Simpan Lebih Lama:
Melalui proses pengeringan dan penyaringan dengan bumbu, abon rebon dapat bertahan lama tanpa pengawet jika disimpan dalam wadah kedap udara.
Nilai Ekonomis:
Udang rebon umumnya memiliki harga yang lebih terjangkau dibandingkan daging sapi atau ikan besar, sehingga abon ini menjadi pilihan protein berkualitas dengan biaya lebih hemat.
Varian Rasa yang Menggoda:
Abon rebon dapat dikreasikan dengan rasa manis, pedas, hingga dicampur dengan kelapa parut (serundeng) untuk menambah cita rasa.
Tips Pengolahan di Rumah
Bagi masyarakat yang ingin mencoba membuatnya sendiri, langkah penting dalam pengolahan adalah mencuci bersih rebon untuk mengurangi kadar garam yang berlebih, kemudian menyangrai atau menggorengnya bersama bumbu halus (bawang putih, bawang merah, ketumbar, dan sedikit gula) hingga benar-benar kering.
Inovasi ini diharapkan dapat membantu pemenuhan gizi keluarga melalui pangan lokal, sekaligus membuka peluang usaha baru bagi pelaku UMKM di wilayah pesisir.***
Editor : Aab Abdul Malik
(SRM)
