26.7 C
Jakarta
Sabtu, April 11, 2026

Latest Posts

Karbala: Cermin Abadi Manusia

Oleh : Kang Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan 

Wartain.com || Karbala bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Ia bukan tragedi yang tiba-tiba muncul di padang tandus sejarah.
Ia adalah puncak dari sebuah pola panjang-pola yang telah dimulai sejak manusia pertama mengenal konflik antara kebenaran dan ego.

Ketika Qabil dan Habil berdiri di hadapan Tuhan, yang satu membawa keikhlasan,
yang lain membawa kedengkian—
di situlah darah pertama tertumpah.
Bukan sekadar darah manusia. Tapi darah kebenaran yang ditolak oleh ego.

Sejak saat itu, sejarah tidak pernah benar-benar berubah. Para nabi datang membawa cahaya, namun hampir selalu disambut dengan penolakan. Mereka tidak hanya dilawan, tetapi juga dihinakan, diusir, bahkan dibunuh.

Dan yang lebih halus—ajaran mereka dipelintir, maknanya diubah, hingga kebenaran itu sendiri kehilangan wajah aslinya. Apa yang terjadi pada Isa adalah salah satu contoh paling tragis dalam sejarah spiritual manusia.

Bukan hanya sosoknya yang menjadi sasaran, tetapi juga makna dirinya.
Kebenaran yang dibawanya tidak dihancurkan secara langsung, melainkan diubah secara perlahan— hingga manusia menyembah sesuatu yang bukan lagi ajaran aslinya. Di titik ini, kita mulai memahami bahwa musuh kebenaran tidak selalu menghancurkan.

Terkadang… ia justru melestarikan—
namun dalam bentuk yang telah kehilangan ruhnya. Dan ketika kita sampai pada peristiwa Karbala, pola itu mencapai bentuk yang paling menyakitkan.

Karena kali ini… yang melawan kebenaran bukan orang luar. Melainkan mereka yang mengaku sebagai bagian dari umat itu sendiri.

Husain ibn Ali tidak berdiri di hadapan kaum yang tidak mengenal Tuhan.
Ia berdiri di hadapan umat yang: membaca kitab yang sama,  mengucap syahadat yang sama,  mengaku mencintai kakeknya, Muhammad.

Namun dalam kenyataan— mereka telah kehilangan ruh dari ajaran itu sendiri. Inilah ironi terbesar dalam sejarah manusia. Bahwa kebenaran tidak selalu dihancurkan oleh musuhnya.

Kadang… ia dihancurkan oleh mereka yang mengaku membelanya. Dan di situlah Karbala menjadi bukan sekadar peristiwa.
Ia menjadi cermin. Cermin yang memantulkan satu pertanyaan yang tidak pernah usang: Apakah kita benar-benar berada di jalan kebenaran… atau hanya merasa berada di dalamnya?(***)

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.